Internasional

Trump vs Biden Makin Sengit! Kapan Hasilnya Keluar?

News - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
04 November 2020 18:12
President Donald Trump and Democratic presidential candidate former Vice President Joe Biden participate in the final presidential debate at Belmont University, Thursday, Oct. 22, 2020, in Nashville, Tenn. (Jim Bourg/Pool via AP)

Jakarta, CNBC Indonesia - Penghitungan suara pemilihan umum (pemilu) presiden AS kini sedang berlangsung. Untuk sementara waktu, kandidat dari Partai Demokrat Joe Biden masih diunggulkan berdasarkan suara populer maupun elektoral.

Melansir Associated Press (AP), Joe Biden saat ini unggul dengan suara populer sebanyak 68,1 juta dan suara elektoral sebanyak 238. Rivalnya Donald Trump hanya berhasil meraup suara populer sebesar 66 juta suara dan suara elektoral sebanyak 213 suara.


Ada dua angka yang disebut di sini. Suara berdasarkan voting populer dan elektoral. Lantas apa perbedaannya? Apa pengaruhnya terhadap keberlangsungan pemilu di AS?

Perlu diingat, sistem pemilu AS bukanlah seperti yang ada di Indonesia yang berbasis pada prinsip one man one vote. Sistem one man one vote membuat setiap suara yang diberikan dihitung.

Misal dalam sebuah pemilihan umum di wilayah yang menganut sistem suara mayoritas ada dua kandidat yang sedang bertanding merebutkan jabatan eksekutif. Sebut saja A dan B. Jika 51% warga wilayah tersebut memilih A, maka A akan didapuk sebagai pimpinan eksekutif di wilayah tersebut.

Di AS tidak demikian karena menggunakan sistem yang dikenal dengan nama electoral college. Saat pemilu, warga AS tak langsung memilih presiden melainkan memilih para elektor yang nantinya bakal memilih presiden.

Elektor ini adalah orang-orang yang diutus partai dalam kasus AS ada Partai Demokrat dan Partai Republik. Elektor akan berjumlah sama dengan anggota kongres yaitu 538. Sebanyak 438 mencerminkan jumlah anggota majelis rendah atau House of Representative (House) dan sisanya mencerminkan jumlah anggota senat.

Ada 50 negara bagian di AS yang jumlah penduduknya tidak sama dan tidak tersebar secara merata. Oleh karena itu ada semacam kuota atau jatah elektor di masing-masing negara bagian.

Banyak atau sedikitnya elektor ini disesuaikan dengan ukuran populasi di setiap negara bagian. Misal California yang penduduknya paling padat mendapat jatah elektor terbesar sebanyak 55 elektor disusul Texas sebanyak 38 elektor.

Sistem pemilu AS juga menggunakan pendekatan winner takes all. Artinya, apabila salah satu partai memenangkan suara sebesar 51% maka suara partai lain akan diklaim sebagai suara partai yang menang secara keseluruhan.

Ilustrasi sederhananya begini, untuk kasus AS California memiliki total penduduk sebanyak 41 juta jiwa. Jatah elektor untuk negara bagian ini ada 55 orang. Dalam pemilu kali ini ada 18 juta orang yang berpartisipasi.

Sebanyak 52% warga California yang ikut pemilu memilih Biden dan sisanya memilih Trump. Nah, yang dihitung untuk kalkulasi penentuan pemenang di negara bagian ini bukanlah suara 9,18 juta masyarakat tadi melainkan suara elektoral lah yang dihitung.

Di sini berarti Biden telah mengamankan 55 suara atau setara dengan 20% dari targetnya untuk menang meraup suara elektor sebanyak 270. Rumit kan? Ya sistem pemilu di AS memang lebih kompleks dari yang ada di Indonesia.

Kontestasi politik semakin dinamis dan tak mudah diprediksi karena ada negara bagian yang tidak secara konsisten berpihak pada salah satu partai. Negara-negara bagian ini disebut swing state dan menjadi sasaran kampanye para kandidat karena di sinilah lokasi perang sesungguhnya terjadi (battleground).

Untuk tahun 2020, setidaknya ada 14 negara bagian yang menyumbang 30% suara pemilu yang termasuk ke dalam kategori swing state. Sembilan negara bagian tersebut saat ini masih dalam cengkeraman Trump sementara sisanya berada di tangan Biden.

Trump untuk sementara menguasai Pennsylvania dan Wisconsin dengan perolehan suara populer masing-masing sebanyak 57% dan 52%. Namun belum semua suara terhitung.

Pada Rabu (4/11/2020) pukul 17.17 WIB, total suara terhitung baru 64%. Artinya masih ada kemungkinan untuk berbalik dan Biden yang berhasil mengamankan suara elektor sebanyak 30 suara dari dua negara bagian itu.

Sementara untuk negara bagian Arizona, Trump justru kecolongan. Dengan total 80% suara sudah terhitung Biden unggul dengan 51% suara. Jika mengacu pada data historis pemilu sejak 1972-2016 negara bagian ini cenderung condong ke Republik.

Ini salah satu bentuk kemunduran bagi Trump. Jika berhasil mempertahankan sampai penghitungan selesai Biden akan mendapatkan suara elektor sebanyak 11 suara.

Negara bagian lain yang tergolong swing state masih abu-abu ada Georgia, Pennsylvania, Wisconsin, Michigan dan North Carolina. Secara rata-rata suara terkumpul di negara-negara bagian swing state sudah mencapai angka 85%. Namun tetap penghitungan belum benar-benar selesai.

Penghitungan Suara Belum Selesai Trump Koar-Koar Menang
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading