Internasional

Sederet Aksi Prancis yang Dianggap Menghina Islam

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
28 October 2020 11:55
Seorang pria memegang gambar Macron dengan cetakan sepatu di atasnya ketika pengunjuk rasa Turki meneriakkan slogan-slogan menentang Prancis selama demonstrasi atas kartun Nabi Muhammad, di Istanbul. (AP/Adel Hana)

Jakarta, CNBC Indonesia - Prancis seperti menjadi 'musuh bersama' bagi negara-negara berpenduduk Muslim. Hal ini dimulai dari pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron hingga munculnya lagi karikatur Nabi Muhammad di koran satir Charlie Hebdo yang berakhir dengan serangan terorisme.

Demonstrasi menentang Macron marak di sejumlah negara. Aksi boikot juga dilakukan terhadap produk Prancis, di sejumlah negara seperti Kuwait dan Qatar serta Turki. Padahal boikot bisa berdampak pada ekonomi negeri itu yang tengah resesi.


Terbaru Prancis mengeluarkan warning 'nasihat keselamatan' ke warganya yang berada di sejumlah negara agar berhati-hati. Warga diminta menjauhi protes terkait Prancis di negara mayoritas muslim.

Lalu apa saja kontroversi yang dilakukan Prancis hingga dianggap menghina Muslim? Berikut rangkuman CNBC Indonesia:



Charlie Hebdo

Pada awal September, koran satir Prancis, Charlie Hebdo, mencetak ulang karikatur Nabi Muhammad. Langkah itu dilakukan sehari sebelum persidangan untuk mengadili tersangka pelaku terorisme yang menyerang kantor mereka pada 2015 digelar.

"Gambar-gambar itu milik sejarah, dan sejarah tidak dapat ditulis ulang atau dihapus," tulis surat kabar di samping gambar kontroversial yang diterbitkan dalam sebuah editorial, mengutip CNN International.

Gambar sampul Charlie Hebdo tersebut merupakan karikatur yang pertama kali diterbitkan harian Denmark Jyllands-Posten pada 2005. Charlie Hebdo kemudian mencetak ulang gambar itu pada 2006.

Sontak hal ini menimbulkan kemarahan umat Muslim saat itu. Aksi media itu, juga dilakukan setelah sebelumnya muncul demo dan kerusuhan kelompok anti imigran di Swedia dan Norwegia yang melecehkan kitab suci Alquran.

Akibat ini juga, pada Januari 2015 silam, kantor Charlie Hebdo menjadi target serangan teroris. Para penyerang yang mengklaim diri mereka sebagai kelompok bersenjata ISIS. Sebanyak 17 orang tewas dalam serangan itu, di mana 12 korban di antaranya merupakan orang kantor editorial dan tiga orang penyerang.

Namun tak sampai di situ, Charlie Hebdo kembali membuat kontroversi dengan memuat kartun baru yang mengolok-olok Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Di laman Twitter @Charlie_Hebdo_, kartun Erdogan muncul pada Rabu (27/10/2020) pukul 24.00 waktu setempat. Adegan yang dimuat memunculkan sosok Erdogan dengan penggambaran cabul, menggenggam bir dan mengangkat rok seorang wanita berjilbab.

Hal ini menyusul pernyataan Erdogan yang menyuarakan tentangan ke sikap Presiden Prancis Emmanuel Macron kepada Muslim dan penayangan kembali kartun nabi. Ia menyebut Macron butuh perawatan mental karena mendukung Islamophobia.

Presiden Macron

Sebagai Presiden Prancis, Macron juga membuat pernyataan kontroversi yang membuat umat Muslim berang. Pada awal September, Macron mengajukan UU untuk 'separatisme Islam' di negara yang ia pimpin.

Macron sempat berujar bahwa "Islam adalah agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia". Karenanya pemerintahnya akan mengajukan rancangan undang-undang pada bulan Desember untuk memperkuat undang-undang tahun 1905 yang secara resmi memisahkan gereja dan negara di Prancis.

Selanjutnya Macron juga menganggap enteng masalah karikatur Nabi yang dikeluarkan oleh Charlie Hebdo. Ia mengaku tak bisa mengekang karena kebebasan berekspresi.

"Tidak pernah ada kewenangan presiden memberikan penilaian pada pilihan editorial jurnalis atau berita," katanya, menambahkan untuk tetap mengutamakan kesopanan dan rasa hormat, sehingga tak ada ungkapan bernada kebencian.

Pernyataan Macron semakin membuat panas Muslim. Salah satunya pada kasus pembunuhan guru sejarah dan geografi di sebuah sekolah pinggiran di kota Paris, Samuel Paty (47), setelah menunjukkan karikatur tokoh Nabi Muhammad SAW dalam kelas pada 6 Oktober lalu.

Macron berujar sang guru "dibunuh karena kaum Islamis menginginkan masa depan kita". Ia juga sempat berujar bahwa "Islam adalah agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia".

Akibatnya kini Prancis mendapatkan boikot dari negara-negara mayoritas Muslim. Salah satunya terjadi boikot produk Prancis di Yordania, Qatar, Kuwait, dan Turki.


(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading