RI Sejengkal Lagi Resesi, Kok BI Belum Turunkan Bunga?

News - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
23 September 2020 14:10
Gedung BI

Jakarta, CNBC Indonesia - Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada 16-17 September lalu memutuskan untuk menahan suku bunga acuan. Kebijakan tersebut tidaklah mengejutkan dan sesuai dengan konsensus pasar.

Suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI 7-DRRR) tetap di tahan di 4%, begitu juga dengan suku bunga koridor atau standing facility rate. Suku bunga deposit facility tetap di 3,25% dan lending facility di 4,75%.


Di tengah pandemi Covid-19 dan ancaman resesi yang semakin nyata melanda Indonesia, otoritas moneter Tanah Air itu justru memilih untuk menahan suku bunga acuannya. Namun ini sudah diprediksi sebelumnya. Poling yang dihimpun CNBC Indonesia menunjukkan bahwa BI bakal menahan suku bunga acuan.

Alasan dibalik kebijakan BI tersebut adalah untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan mandatnya yang tertuang dalam UU nomor 3 tahun 2004. Tugas BI sebagai bank sentral adalah menjaga dan memelihara kestabilan nilai tukar baik terhadap harga barang (inflasi) maupun terhadap nilai tukar lainnya.

Di sepanjang tahun ini BI telah memangkas 100 basis poin suku bunga acuan, selaras dengan kebijakan moneter global yang akomodatif untuk mengurangi gejolak di pasar keuangan serta dalam rangka untuk menyelamatkan perekonomian dari kejatuhan yang sangat dalam akibat pandemi Covid-19.

Rupiah sebagai soft currency memang seringkali menjadi bahan spekulasi di pasar. Banyak faktor yang mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah mulai dari sentimen hingga sisi fundamentalnya yang tercermin dari kondisi perekonomian Indonesia, inflasi dan juga suku bunga hingga transaksi berjalan dan neraca pembayaran.

Masalahnya adalah dari sisi transaksi berjalan Indonesia masih membukukan defisit. Rupiah selama ini ditopang oleh hot money alias aliran modal yang sifatnya sementara saja dan bisa keluar kapan saja (outflow).

Karakteristik ini lah yang jadi fokus BI untuk menjaga nilai tukar agar tak menyimpang jauh dari fundamentalnya sekaligus sesuai dengan mekanisme pasar. BI tak bisa terlalu agresif dalam melakukan pemangkasan suku bunga acuan.

Penurunan suku bunga acuan akan membuat imbal hasil dari aset-aset keuangan dalam negeri menjadi kurang menarik. Sehingga uang dari para investor ini akan lari mencari rumah baru yang memberikan ruang untuk tumbuh yang lebih tinggi dan sesuai dengan selera risiko si empunya.

Jika dibandingkan dengan negara emerging market lain, Rusia dan Brazil menjadi yang paling agresif dalam menempuh kebijakan moneter yang ekspansif. Bank sentral Rusia dan Brazil masing-masing memangkas suku bunga acuannya sebesar 200 bps dan 250 bps.

Hal tersebut membuat nilai tukarnya ambrol di hadapan dolar AS. Di arena pasar spot sepanjang tahun ini Rubel Rusia telah terdepresiasi sebesar 22,97%. Di saat yang sama Real Brazil bahkan anjlok lebih dalam hingga 36,14%.

BI Jaga Stabilitas Rupiah
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading