Deflasi, Penyakit yang Bikin Resesi Bisa Menjadi Depresi

News - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
21 September 2020 09:25
A woman wears a face mask as a precaution against the new coronavirus outbreak as she receives free staple food packages provided by the government for low-income residents in Jakarta, Indonesia, Thursday, June 11, 2020. (AP Photo/Achmad Ibrahim)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bukan hanya wabah Covid-19 yang menjangkiti Indonesia, tetapi ada penyakit lain yang diderita oleh negara dengan populasi terbesar keempat di dunia ini yaitu inflasi yang rendah.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia sudah mengalami deflasi dua bulan berturut-turut yaitu pada Juli (-0,1% mom) dan Agustus (-0,05% mom). Namun tampaknya deflasi masih akan berlanjut pada September.

Berdasarkan Survei Pemantauan Harga pada minggu III September 2020, Bank Indonesia (BI) memperkirakan deflasi sebesar -0,01% (mom). Apabila perkiraan BI tersebut tepat, maka dalam satu kuartal penuh RI mengalami fenomena penurunan harga atau deflasi.


"Dengan perkembangan tersebut, perkiraan inflasi September 2020 secara tahun kalender sebesar 0,92% (ytd), dan secara tahunan sebesar 1,46% (yoy)." tulis BI dalam rilis di situs resminya.

Lebih lanjut, BI juga memperkirakan deflasi bulan September masih banyak disumbang oleh harga-harga bahan pangan seperti komoditas telur ayam ras sebesar -0,04% (mom), daging ayam ras sebesar -0,03% (mom), bawang merah sebesar -0,02% (mom), jeruk, cabai rawit, dan emas perhiasan masing-masing sebesar -0,01% (mom).

Mengacu pada data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, harga-harga sembako tersebut memang mengalami penurunan. Di pasar tradisional Tanah Air, harga daging ayam, telur ayam serta bawang merah telah turun 5% sejak awal Agustus sampai dengan pekan kemarin.

Dalam komponen inflasi, harga bahan pangan tergolong ke dalam kelompok inflasi yang bergejolak. Bulan lalu, kelompok ini menyumbang andil deflasi sebesar -0,23% ketika di saat yang sama terjadi deflasi -0,05%.

Untuk komponen inflasi bergejolak pangan, banyak faktor yang mempengaruhi. Inflasi yang dominan dipengaruhi oleh shocks (kejutan) dalam kelompok bahan makanan seperti panen, gangguan alam, pasokan domestik atau faktor perkembangan harga komoditas pangan domestik maupun internasional.

Meski terjadi gejolak, konsumen cenderung akan tetap membeli barang-barang tersebut karena merupakan kebutuhan pokok sehari-hari. Hal ini berbeda dengan produk lainnya seperti barang tahan lama (durable goods) misalnya.

BPS mencatat inflasi bulan lalu secara year to date (ytd) sebesar 0,93% sementara secara year on year (yoy) 1,32%. Angka inflasi tersebut tergolong rendah mengingat sasaran target inflasi BI yang tertuang dalam PMK No. 124/PMK.010/2017 tanggal 18 September 2017 untuk tahun ini sebesar 3±1%.

Inflasi yang rendah sejatinya dapat dilihat dari berbagai kacamata seperti keberhasilan pemerintah mengontrol harga terutama untuk kebutuhan pokok, maupun penurunan permintaan akibat daya beli yang rendah.

Namun, fenomena inflasi yang rendah yang terjadi di dalam negeri lebih mengarah ke alasan kedua. Lemahnya daya beli masyarakat. Hal ini tercermin dari melambatnya inflasi inti.

Berbeda dengan komponen inflasi yang harganya diatur pemerintah maupun bergejolak (volatile), komponen inflasi yang cenderung menetap atau persisten (persistent component).

Ketika inflasi inti terakselerasi, tandanya konsumen masih mau membayar lebih tinggi untuk barang dan jasa yang sebenarnya harganya susah naik. Ini adalah cerminan daya beli yang sehat.

Namun yang terjadi justru sebaliknya. Inflasi inti Indonesia terus mengalami perlambatan. Bahkan semakin signifikan ketika wabah Covid-19 merebak. Jika inflasi inti bulan Januari-April tahun ini masih mendekati angka 3%, komponen ini hanya terakselerasi 2% saja bulan lalu.

Deflasi, Daya Beli Turun, RI Resesi...
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading