Bioskop akan Dibuka

Pengusaha Saling Iri, Bisnis Pameran Banyak yang Kolaps

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
28 August 2020 17:30
Para agen penjual rumah tengah menawarkan rumah tinggal pada pameran Properti di sebuah Mall kawasan Jakarta, Sabtu (24/3/2018). Ketua Umum DPP REI Soelaeman Soemawinata mengatakan, pada tahun 2018 pihaknya menargetkan bisa membangun 236.261 unit rumah Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).

Jakarta, CNBC Indonesia - Para pelaku industri event atau pameran merasa didiskriminasi oleh pemerintah karena belum mengizinkan kegiatan bisnis mereka beroperasi di tengah pandemi Covid-19. Padahal bisnis lain yang juga mengundang keramaian seperti bioskop hingga mal juga sudah boleh operasi seperti di DKI Jakarta.

"Kalau mal boleh buka, bioskop boleh buka, apa boleh buka, ya event juga boleh dong," kata Ketua Umum Dewan Industri Event Indonesia (Ivendo), Mulkan Kamaludin kepada CNBC Indonesia, Jumat (28/8).

Ia bilang bila sektor lain boleh bisa operasi dengan alasan menggerakkan ekonomi, maka sektor event harus diperlakukan sama. Ia menilai pariwisata bisa berjalan jika event juga diizinkan, karena bakal ada dampak ekonomi berantai seperti transportasi, perhotelan hingga makanan dan minuman. Mulkan berharap ada sikap tegas dari pemerintah.


Pasalnya, sejumlah kementerian sudah melaksanakan kegiatan yang berlokasi di hotel. Namun, ia menilai tidak ada ketegasan adanya aturan pelaksanaan event yang berlaku.

"Kayanya saling tunggu nih, takut disalahkan tapi mereka sendiri sudah melakukan. Pemerintah sendiri sudah melakukan kegiatannya," sebutnya.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pameran Indonesia (Asperapi), Hosea Andreas Runkat juga angkat bicara. Ia kembali membandingkan kebijakan yang berbeda antara industrinya dengan industri yang saat ini sudah boleh berjalan.

"Mall sudah buka, beberapa industri lain sudah buka, apa sih masalahnya kalau industri kita, pameran belum boleh buka? Yang saya butuhkan solusi, bisnis jalan, pameran jalan, tapi harus seperti apa? Saya lebih cenderung dikasih jawaban pameran dengan (protokol) gini, bukan dengan (jawaban) belum bisa, belum bisa," katanya.

Selama ini, komunikasi dengan pemerintah yakni melalui Dinas Pariwisata sudah berjalan. Sayang, tidak ada hasil berarti dari komunikasi tersebut. Jawaban pemerintah cenderung memberi jawaban normatif tanpa ada solusi yang jelas. Apalagi, adanya perbedaan kebijakan yang dirasa antara satu industri dengan industri lain.

"Akhirnya nantinya kita berpikir ada unsur tebang pilih, kenapa industri ini nggak boleh jalan? Kenapa ini boleh? Kalau masalah kreasi, masing-masing udah jalan, itu hanya sementara. ga mungkin cheating our business tiba-tiba bisa langsung meroket. Nggak mungkin," sebutnya.

Bahkan Mulkan Kamaludin menyebut hingga kini sudah banyak pelaku usaha yang harus gulung tikar. "Yang sudah kolaps itu banyak, banyak banget, karena zero income, kalau industri lain mungkin turun 50%, turun 60%, turun 70%. Artinya masih ada 20-30%, masih ada pemasukan. Kita ini zero income," katanya.

Ia tidak menyangkal jika ada kegiatan yang bisa digarap. Sayangnya, perputaran uangnya tidak seberapa sehingga tidak membantu signifikan.

"Kalaupun event online, berapa sih nilainya? Nggak ada buat gaji orang, buat kebutuhan human resources-nya dikit, penyerapan tenaga kerja dikit, otomatis budget kecil. Saya rasa untuk menjalankan sebuah perusahaan nggak mencukupi," katanya.


[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading