75 Tahun Merdeka, Rakyat Indonesia Sudah Sejahtera Belum?

News - Chandra Gian Asmara, CNBC Indonesia
18 August 2020 11:54
Suasana bantaran kali Cideng, Roxy, Jakarta Barat (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah bangsa baru lahir ke dunia. Bangsa yang awalnya dikenal sebagai Hindia Belanda, resmi mendeklarasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Pendiri bangsa ingin agar tujuan pendirian Negara Kesatuan Republik Indonesia untuk mengantar rakyat menuju kedaulatan, keadilan dan kemakmuran. 75 tahun sudah Indonesia berjalan, apakah cita-cita pendiri bangsa tercapai?

Muhamad Chatib Basri, Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia menceritakan bagaimana posisi Indonesia dengan negara lain saat ini di usia yang sudah di angka 75.


"Di mana Indonesia berdiri dalam usia yang ke-75 tahun saat ini dibandingkan negara lain," tulis Chatib Basri, seperti dikutip dalam opininya di media cetak, Selasa (18/8/2020).

"Kita harus membandingkan dengan negara yang punya karateristik mirip dengan kita. Misalnya, jumlah penduduk, struktur ekonomi, struktur geografis, dan sebagainya," tegasnya.

Chatib lantas menghitung dengan menggunakan data Penn World Table 9.1, yang menunjukkan dalam hal pendapatan per kapita dihitung dengan pendapatan per kapita relatif dalam prioritas daya beli terhadap Amerika Serikat (AS).

Penghitungan ini menunjukkan Indonesia lebih baik dibandingkan India yang juga berpenduduk besar, memiliki masalah institusi yang sama, serta pembangunan infrastruktur yang tertinggal.

"Kita juga lebih baik dibandingkan Filipina yang memiliki kesamaan geografis sebagai negara kepulauan. Namun jika dibandingkan dengan China dan Brasil yang juga memiliki populasi banyak, Indonesia tertinggal," kata Komisaris Utama PT Bank Mandiri Tbk (Persero) ini.

M Chatib basri Foto: Detikcom/ Ari SaputraFoto: Chatib Basri

"Begitu juga dibandingkan dengan Malaysia yang juga banyak memiliki ketergantungan terhadap sumber daya alam," kata eks Menteri Keuangan itu.

Chatib mengatakan, Indonesia sebenarnya sudah masuk ke dalam kelompok kelas berpendapatan menengah pada 1998. Namun, krisis keuangan Asia kala itu membuat posisi Indonesia turun.

Setidaknya, dibutuhkan waktu selama 10 tahun bagi Indonesia kembali ke posisi semula. Adapun pada periode 2008 - 2013, pendapatan per kapita Indonesia meningkat tajam karena boom komoditas dan arus modal masuk.

Chatib lantas mengutip pernyataan Woo dan Hoong yang menulis bahwa dalam soal pertumbuhan ekonomi Indonesia memang cukup berhasil. Namun sayangnya, Indonesia tak terlalu cemerlang dalam hal kesejahteraan masyarakat.

"Hal ini tercermin dari berbagai indikator termasuk tingkat kematian bayi, pendidikan, dan tingkat harapan hidup dibandingkan negara-negara itu. Selain itu, kita miskin dalam produk ekspor," katanya.

Artinya, kata Chatib, ekspor domestik masih relatif primitif. Bahkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif melambat sejak 1998 dan sumber pertumbuhan bergeser dari investasi dan ekspor kepada konsumsi rumah tangga.

"Jika kita ingin agar ekonomi Indonesia berkelanjutan, sumber pertumbuhan ekonomi harus kembali kepada investasi dan ekspor. Ini membutuhkan investasi, infrastruktur, dan sumber daya manusia yang baik," tegasnya.

"Ini adalah resep yang dipilih China, Taiwan, Korea Selatan, Jepang, dan negara-negara yang berhasil naik kelas," jelasnya.


[Gambas:Video CNBC]

(cha/cha)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading