Neraca Pembayaran RI 'Untung' Besar, CAD Kian Tipis

Market - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
18 August 2020 10:22
Ilustrasi Dollar (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal II-2020 membukukan surplus yang lumayan tinggi. Sementara defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) juga semakin tipis.

Bank Indonesia (BI) melaporkan, surplus NPI pada periode April-Juli 2020 adalah US$ 9,2 miliar. Jauh membaik dibandingkan kuartal sebelumnya yang defisit US$ 8,5 miliar.

"Membaiknya kinerja NPI tersebut didukung oleh menurunnya defisit transaksi berjalan serta besarnya surplus transaksi modal dan finansial. Sejalan dengan perkembangan surplus NPI tersebut, posisi cadangan devisa pada akhir Juni 2020 meningkat menjadi sebesar 131,7 miliar dolar AS. Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 8,1 bulan impor dan utang luar negeri pemerintah serta berada di atas standar kecukupan internasional," sebut keterangan tertulis BI, Selasa (18/8/2020).


Pada kuartal II-2020, transaksi berjalan memang masih defisit. Namun defisit itu semakin tipis, menjadi US$ 2,9 miliar atau 1,2% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

"Penurunan defisit transaksi berjalan tersebut bersumber dari surplus neraca perdagangan barang akibat penurunan impor karena melemahnya permintaan domestik. Di samping itu, defisit neraca pendapatan mengecil karena berkurangnya pembayaran imbal hasil kepada investor asing sejalan dengan kontraksi pertumbuhan ekonomi domestik di triwulan II 2020 yang tercermin pada penurunan kinerja perusahaan dan investasi.

Sementara itu, defisit neraca jasa sedikit meningkat didorong oleh defisit jasa perjalanan karena kunjungan wisatawan mancanegara yang turun signifikan selama pandemi Covid-19. Di sisi lain, remitansi dari Pekerja Migran Indonesia (PMI) berkurang, sejalan dengan kontraksi pertumbuhan ekonomi dunia juga menahan penurunan defisit transaksi berjalan lebih lanjut," papar keterangan BI.

Di 'kamar' sebelah yaitu transaksi modal dan finansial, terjadi surplus US$ 10,5 miliar setelah pada kuartal I-2020 defisit US$ 3 miliar. Surplus itu terutama berasal dari aliran masuk neto investasi portofolio dan investasi langsung. Aliran masuk investasi portofolio meningkat dalam bentuk penerbitan global bond oleh pemerintah dan korporasi serta pembelian Surat Utang Negara (SUN).

"Berlanjutnya aliran masuk modal asing tersebut dipengaruhi oleh likuiditas global yang meningkat, imbal hasil instrumen keuangan domestik yang tetap menarik, dan terjaganya keyakinan investor terhadap kondisi perekonomian Indonesia. Investasi langsung turut menyumbang surplus pada neraca transaksi modal dan finansial, meskipun relatif melambat dibandingkan dengan capaian pada triwulan sebelumnya, sejalan dengan kontraksi ekonomi domestik. Transaksi investasi lainnya mengalami defisit dipengaruhi oleh pola kuartalan meningkatnya pembayaran pinjaman luar negeri yang jatuh tempo," lanjut keterangan BI.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Q1-2021: Transaksi Berjalan Defisit Lagi, Kini -0,4% PDB


(aji/aji)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading