Cuaca Ekstrem Hantui Eksportir Beras Terbesar, Krisis Pangan?

News - Linda Hasibuan, CNBC Indonesia
30 June 2020 18:20
Buruh tani padi memanen padi diKawasan persawahan Primeter Selatan, Tangerang, Banten, Kamis (1/3/2018). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat harga rata-rata Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani sebesar Rp 5.207,00 per Kg atau turun 3,84 persen dan di tingkat penggilingan Rp 5.305,00 per Kg di Februari 2018. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: CNBC Indonesia/Muhammad Sabki

Jakarta, CNBC Indonesia - Cuaca sangat ekstrem dengan gelombang panas yang berkepanjangan berisiko pada pasokan pangan dari negara-negara eksportir. Misalnya di Vietnam, produksi beras berpotensi terganggu, padahal negara ini merupakan eksportir beras terbesar ketiga dunia yang mencapai 7 juta ton per tahun.

Bahkan pada akhir Maret, Vietnam, empat menghentikan kontrak-kontrak ekspor beras. Setelah itu sempat ada pelonggaran kebijakan dengan menerapkan kuota ekspor beras pada April 2020 lalu, dan akhirnya larangan ekspor dihapus.

Fenomena panas ini membuat para petani padi di Vietnam menanami sawah mereka pada malam hari. Le Van Ha, seorang Petani dari Vietnam mengatakan bahwa dia tidak bisa berbuat banyak di siang hari.


Akibat cuaca itu para petani di sekitar kota Hanoi harus memulai kegiatan bertani padinya dalam suasana gelap di malam hari. Sebuah video pun tentang petani bertani pada malam hari pun kini menjadi perbincangan.

Menurut World Economic Forum (WEF), cuaca panas pada siang hari di sana mencapai 40 derajat Celcius. Vietnam mencatatkan suhu tertinggi pada rekor 43,4 derajat celcius.

"Cuaca ini sangat ekstrem di mana terjadi gelombang panas yang berkepanjangan. Kami tidak bisa berbuat banyak di siang hari. Jadi kami bersiap di siang hari dan kemudian menanam padi di malam hari sekitar jam 1 atau 2 pagi agar bisa lebih efektif. Karena sekitar jam 8 pagi panasnya tak tertahankan," ungkap Le Van Ha.

Kendati secara produktivitas mereka telah berkurang setengahnya karena bekerja dalam kegelapan, tetapi petani dapat bekerja lebih lama daripada saat siang hari dengan terik yang membakar mereka. Tidak hanya itu, bertani di malam hari juga mencegah tanaman layu akibat terpapar panasnya cuaca di siang hari.

Seorang petani lain pun Thai Hong Ngoc mengaku tidak bisa menahan panas seperti sebelumnya. Untuk itu, dia harus menanami padi di malam hari.

"Aku tidak bisa menahan panas seperti sebelumnya. Kita bahkan tidak bisa memanennya kalau bukan karena mesin. Jika aku harus memanen tanaman secara manual seperti sebelumnya, maka pasti aku akan meninggalkannya. Itu terlalu panas," ungkap Thai Hong Ngoc.

Bagi masyarakat Vietnam, beras adalah berkah dari Tuhan dan pangan utama untuk jutaan penduduk Vietnam dengan angka ekspor beras mereka mencapai 7 juta ton per tahun.

Sayangnya, ketergantungan Vietnam pada pertanian membuatnya rentan terhadap perubahan iklim. Momen kekeringan parah pada tahun 2016 lalu telah menelan kerugian US$670 juta bagi negara ini. Akibat cuaca ekstrem ini, Indonesia dan Filipina terancam krisis beras. Kedua negara ini selama ini bila mengimpor berasal dari beras Vietnam.


(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading