Ini Pentingnya Sinergi Vokasi dan Para Pelaku Industri

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
24 June 2020 13:28
Perakitan Mobil Esemka di Boyolali (Biro Pers Sekretariat Presiden)

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah ketidakpastian ekonomi dan penyerapan tenaga kerja, lulusan vokasi mendapat perhatian khusus dari banyak kalangan untuk bisa berkontribusi lebih besar bagi ekonomi. Pendidikan vokasi maupun kejuruan diharapkan menghasilkan lulusan yang kompeten dan klop dengan kebutuhan industri sehingga butuh sinergi.

Direktur Jenderal Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Wikan Sakarinto menyebut beberapa aspek yang perlu disiapkan demi menghadapi tantangan tersebut, utamanya menyelaraskan kebutuhan industri dengan kurikulum yang ada di perkuliahan atau sekolah.

"Bikin program studi bareng, bikin kurikulum bareng, mengajar bareng, magang disusun bersama. Ini kebijakan kita lima tahun ke depan.Yang kami cover pendidikan tinggi, SMK, lembaga kursus dan pelatihan. Non formal lembaga dan kursus sampai 20 ribu di Indonesia. Semua tanpa terkecuali harus seragam dengan industri," kata Wikan, Selasa (23/6).


Direktorat Jenderal (Ditjen) Vokasi Kemendikbud baru dilahirkan 31 Desember 2019 lalu. Harapannya bisa menyamakan persepsi atau keinginan industri dengan yang dipelajari oleh pendidikan kejuruan maupun vokasi.

"Ibarat kita anggap bidang masak, industri itu butuh apa. Jangan sampai vokasi nggak pahami misal industri butuh nasi pecel istimewa, dibikin nasi goreng atau gado-gado, atau nasi kecap. Padahal industri butuh nasi pecel istimewa," sebut Wikan.

"Industri kalau terima tenaga kerja harus dilatih lagi, ini yang dikomplain industri. Industri itu komplain gimana sih nih kampus, gimana sih SMK. Kita butuh soft skill kuat, butuh materi baru, kok materi lama diajarkan. Daripada mereka latih ulang, mereka punya kurikulum industri itu. Kenapa nggak disatukan aja kurikulum industri dan kampus atau SMK. Dijadikan satu saja," lanjutnya.

Program kerjasama antara kampus dan dunia industri pun perlu diperkuat lagi. Program link and match antara keduanya kian diintensifkan. Wikan menegaskan pemerintah memang tak bisa mewajibkan industri untuk menggunakan tenaga kerja lulusan vokasi maupun kejuruan.

"Kemudian komitmen kuat, bukan kewajiban. Kalau kewajiban kami dikomplain industri. Kami diwajibkan terima lulusan tapi nggak cocok. Makanya kami menamakan komitmen kuat. Kenapa? mestinya dong kurikulum dibikin bersama, dimasak bersama. kalau komitmen kuat asal cocok anaknya harus cocok, tes psikolog cocok. Maka akan ada kesamaan kebutuhan dan penyaluran," sebut Wikan.


[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading