Jangan Gundah, Jangan Gelisah! Kita Bisa Bangkit Semester II

News - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
22 June 2020 11:52
Sales marketing menawarkan produk mobil di Tunas Daihatsu Tebet, Jakarta, Selasa (16/6). Pandemi corona membuat angka penjualan mobil di Indonesia mengalami penurunan drastis. Penjualan mobil bulan lalu anjlok hingga 95 persen bila periode yang sama tahun 2019.
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) yang diperoleh detikOto dari PT Astra International Tbk, pada bulan kelima tahun 2020, industri otomotif hanya mampu mengirim 3.551 unit mobil baru. Angka ini merosot 95 % dibanding bulan Mei 2019, di mana saat itu mencapai 84.109 unit. Angka ini merupakan penjualan berupa wholesales atau distribusi dari pabrik ke dealer. Seperti diketahui, banyak pabrik otomotif di Indonesia yang berhenti produksi sementara di tengah pandemi COVID-19. Wajar jika distribusinya pada Mei 2020 anjlok drastis. Adapun mengatasi penurunan banyak pabrikan otomotif  menawarkan paket penjualan khusus demi mendongkrak penjualan. Rendi selaku supervisor di Tunas Daihatsu Tebet mengatakan

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah ancaman gelombang serangan kedua virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19), masih ada harapan ekonomi dunia akan pulih pada paruh kedua 2020. Asa ini datang dari proyeksi permintaan energi.

Dalam laporan bulanan edisi Juni 2020, International Energy Agency memperkirakan permintaan minyak dunia pada 2020 adalah 91,7 juta barel/hari. Naik 500.000 barel dibandingkan proyeksi bulan sebelumnya.

"Terjadi peningkatan permintaan setelah beberapa negara mencabut karantina wilayah (lockdown). Di China, permintaan minyak pulih dengan cepat mulai Maret-April sementara di India permintaan naik tajam pada Mei," sebut laporan IEA.


Pada Mei 2020, impor minyak mentah China tercatat 47,97 juta ton. Naik 18,65% dibandingkan bulan sebelumnya dan 19,24% dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Oleh karena itu, IEA menilai akhir semester I-2020 meninggalkan catatan positif. Berbagai data menunjukkan bahwa permintaan minyak siap meningkat tajam pada bulan-bulan ke depan.

"Peningkatan mobilitas masyarakat mendukung perkiraan ini. Pencabutan lockdown di China membuat permintaan minyak meningkat. Pada semester II-2020, pelonggaran lockdown di negara-negara lain akan lebih mendorong permintaan," tulis laporan IEA.

Pada 2021, IEA memperkirakan permintaan minyak dunia akan naik 5,7 barel/hari menjadi 97,4 juta barel/hari. Meski naik, tetapi masih 2,4 juta barel di bawah permintaan 2019, sebelum pandemi virus corona menyerang.

"Sejauh ini insentif dari OPEC+ (berupa pemangkasan produksi) dan kesepakatan para menteri energi di level G-20 membuat stabilitas pasar minyak dunia terjaga. Jika tren ini berlanjut, maka pasar akan memiliki pijakan yang kuat. Akan tetapi, kita tetap harus mewaspadai ketidakpastian yang masih sangat tinggi," tegas laporan IEA.

Tanda Kebangkitan Mulai Terlihat
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading