Harga MInyak Naik 88% dalam Sebulan, Berkah atau Musibah?

News - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
31 May 2020 12:45
The sun sets behind an idle pump jack near Karnes City, Texas, Wednesday, April 8, 2020. Demand for oil continues to fall due to the new coronavirus outbreak. (AP Photo/Eric Gay)
Jakarta, CNBC Indonesia - Selepas 'tragedi' pada pekan ketiga April, harga minyak dunia bangkit dan mencatat kenaikan luar biasa. Buat Indonesia, kenaikan harga minyak bisa membawa berkah maupun musibah.

Sepanjang minggu ini, harga minyak jenis brent naik 0,57% secara point-to-point. Sedangkan yang jenis light sweet melonjak 6,74%. Ada kejadian yang cukup langka, harga light sweet kini lebih mahal ketimbang brent.

Sementara sepanjang Mei, harga brent melonjak sampai 39,81%, kenaikan bulanan tertinggi sejak Maret 1999. Harga light sweet lebih edan lagi, meroket 88,37%, kenaikan bulanan tertinggi sepanjang sejarah.





Buat Indonesia, apa jadinya kalau harga si emas hitam terus bergerak ke utara?

Dari sisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), kenaikan harga minyak bisa menjadi berkah. Mengutip analisis sensitivitas asumsi makro APBN 2020, setiap kenaikan harga minyak Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) sebesar US$ 1/barel, maka secara neto akan menyebabkan surplus dalam kisaran Rp 0,3-0,5 triliun.

Surplus datang dari kenaikan penerimaan negara sebesar Rp 3,6-4,2 triliun. Belanja negara memang bertambah, tetapi tidak sebesar kenaikan penerimaan yaitu Rp 3,1-3,9 triliun.

Asumsi ICP dalam APBN 2020 adalah US$ 63/barel rata-rata setahun. ICP dekat dengan brent, saat ini rata-rata harga brent ada di US$ 42,6/barel.

Sekarang harga minyak memang masih di bawah asumsi. Namun andai harga naik terus dan rata-ratanya melebihi asumsi, maka APBN bisa merasakan dampak positif.


Namun di sisi perdagangan, Indonesia bisa rugi kalau harga minyak naik. Sebab, Indonesia sampai saat ini masih berstatus sebagai negara net importir minyak.

Pada 2019, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat volume impor minyak mentah Indonesia adalah 10,12 juta ton sedangkan ekspornya 3,52 juta ton. Ada defisit 6,6 juta ton.

Kalau harga minyak naik, maka dana yang dibutuhkan untuk membiayai defisit ini akan semakin besar. Semakin banyak devisa yang 'terbakar' sehingga dampaknya adalah pelemahan nilai tukar rupiah.



TIM RISET CNBC INDONESIA


(aji/aji)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading