Internasional

Sosok George Floyd & Black Live Matter yang Panaskan AS

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
04 June 2020 17:00
Unjuk rasa dukung George Floyd berujung rusuh sampai Paris. AP/Michel Euler
Jakarta, CNBC Indonesia - George Floyd mungkin tidak akan menyangka jika kematiannya di tangan oknum polisi kulit putih dapat memicu protes besar-besaran atas praktek rasisme yang masih terjadi di Amerika Serikat.

Floyd merupakan pria kulit hitam berusia 46 tahun. Ia pindah dari Houston ke Minnesota untuk mencari peluang kerja yang lebih baik. George menemukan pekerjaan sebagai sopir truk dan penjaga keamanan di Conga Latin Bistro dan Salvation Army setempat.

George Floyd (Youtube)Foto: George Floyd (Youtube)
George Floyd (Youtube)



Pada Senin (25/5/2020), Floyd tewas usai lehernya ditekan oleh lutut Derek Chauvin, salah satu dari empat polisi Minneapolis yang menahannya. Floyd ditangkap karena diduga melakukan transaksi memakai uang palsu senilai US$ 20 (Rp 292 ribu).

Sesaat sebelum ditahan, Floyd sempat membeli sebungkus rokok dari sebuah toko kelontong, Cup Foods. Pegawai toko melapor ke polisi karena meyakini uang tersebut palsu.



Dalam laporan ke 911 sekitar pukul 20.00 waktu setempat, pegawai Cup Foods mengaku gerak-gerik Floyd mencurigakan. Dalam transkrip percakapan yang dirilis otoritas setempat, ia meminta Floyd mengembalikan rokok yang dibeli namun ditolak.

Pegawai tersebut bahkan menilai Floyd tengah mabuk dan tidak menguasai diri. Tak lama setelahnya, sekitar delapan menit kemudian polisi datang ke tempat kejadian dan menghampiri Floyd yang duduk di ujung luar toko.

Penahanan Floyd tersebut terekam dalam sebuah video yang menjadi viral. Video tersebut memperlihatkan Chauvin menekan leher pria itu, yang saat itu dalam keadaan sedang diborgol dan menelungkup di pinggir jalan, dengan lututnya selama kurang lebih sembilan menit.

Dalam video itu terlihat ia berkali-kali merintih kesakitan dan mengaku sulit bernafas. Ia bahkan sempat menangis dan memanggil ibunya sesaat sebelum tewas. Berdasarkan CCTV yang beredar, Floyd sendiri tidak melawan saat ditahan.

"Saya tidak bisa bernafas..." ujarnya sambil merintih dalam video tersebut.

Beberapa masyarakat yang berada di lokasi kejadian meminta Chauvin untuk melepaskan lututnya dari leher Floyd, namun permintaan tersebut tidak digubris olehnya. Bahkan Chauvin terlihat santai sembari memasukkan tangannya ke saku.

Selain Chauvin, ada juga anggota polisi Tou Thao, Thomas Lane, dan J. Alexander Kueng di lokasi tersebut. Namun ketiga polisi tersebut juga tidak membantu Floyd dan bahkan terkesan 'menutup mata' atas peristiwa yang sedang berlangsung saat itu.

Saat Floyd tidak lagi bergerak dan merintih, ia langsung dibawa ke rumah sakit dengan mobil ambulan. Sesampainya di rumah sakit Hennepin County Medical Center, George dinyatakan meninggal dunia.

Floyd pergi meninggalkan istrinya, Roxie Washington dan putrinya yang berusia 6 tahun, Gianna. Selain Gianna, George juga meninggalkan seorang putri berusia 22 tahun dari hubungan sebelumnya.



Unjuk Rasa Gerakan 'Black Lives Matter'
Kematian Floyd merupakan tragedi kemanusiaan yang memicu kemarahan publik, khususnya warga kulit hitam. Mereka yang berang terhadap perlakuan polisi yang rasis, mulai turun ke jalan dan berdemonstrasi, menuntut tindakan kebrutalan polisi dan pertanggungjawaban atas beberapa kematian warga kulit hitam di tangan mereka.

Protes melanda sejumlah kota besar Amerika sejak Kamis (28/5/2020), dengan kerumunan turun ke jalan dengan membawa gerakan Black Lives Matter. Gelombang protes terus terjadi hingga berhari-hari. Sampai dengan kemarin, aksi protes keras tersebut sudah memasuki hari kedelapan.

Activists march to the Brooklyn Bridge on Sunday, May 31, 2020, in New York. Demonstrators took to the streets of New York City to protest the death of George Floyd, who died May 25 after he was pinned at the neck by a Minneapolis police officer. (AP Photo/Kevin Hagen).Foto: Demo Kematian George Floyd (AP/Kevin Hagen)
Activists march to the Brooklyn Bridge on Sunday, May 31, 2020, in New York. Demonstrators took to the streets of New York City to protest the death of George Floyd, who died May 25 after he was pinned at the neck by a Minneapolis police officer. (AP Photo/Kevin Hagen).


Mulanya para demonstran muncul di 'Kota Kembar' Minneapolis dan St. Paul di Minnesota, namun dalam waktu singkat, beberapa kota di beberapa negara bagian mulai ikut menggelar protes yang sama.

Hingga kini, menurut data USA Today, setidaknya gerakan ini sudah muncul di sebanyak 430 kota, baik kota besar maupun kecil, di seluruh 50 negara bagian AS.

Saking kisruhnya protes tersebut, sebanyak 40 kota di AS sampai menerapkan jam malam. Bahkan Presiden AS Donald Trump sampai menerjunkan personel militer untuk turun ke jalan. Setidaknya 17.000 personel Garda Nasional, unit militer Pentagon yang termasuk dalam tentara cadangan nasional, sudah diterjunkan di sejumlah titik di negeri itu.

[Gambas:Video CNBC]





Rasisme dan Keistimewaan Warga Kulit Putih AS
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading