Internasional

Korsel Geger, Kala New Normal Buat Gelombang 2 COVID-19

News - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
29 May 2020 10:07
South Korean army soldiers wearing protective gears spray disinfectant as a precaution against the new coronavirus at a shopping street in Seoul, South Korea, Wednesday, March 4, 2020. The coronavirus epidemic shifted increasingly westward toward the Middle East, Europe and the United States on Tuesday, with governments taking emergency steps to ease shortages of masks and other supplies for front-line doctors and nurses. (AP Photo/Ahn Young-joon)
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Korea Selatan secara resmi memberlakukan lagi aturan pembatasan sosial. Aturan ini berlaku selama dua minggu dari Jumat (29/5/2020) hingga 14 Juni nanti.

New normal yang diberlakukan 6 Mei lalu, menimbulkan gelombang kedua di Korsel. Kluster baru muncul di kota terpadat, metropolitan Seoul.

Akibatnya semua area publik yang sebelumnya dibuka, ditutup kembali. Tak ada lagi museum, taman dan galeri seni untuk umum. Perusahaan juga didesak memberlakukan jam kerja fleksibel ke masyarakat. Tempat ibadah diminta waspada.


Dari data Wordlometers, Kamis (28/5/2020) ada tambahan 79 kasus baru. Ini menjadi lonjakan tertinggi sejak 5 April.

Ini menjadikan total kasus menjadi 11.344. Secara keseluruhan, ada 10.340 warga sembuh dan 269 pasien meninggal

Lalu bagaimana ceritanya, sehingga Korsel yang sempat nol kasus kini kembali diserbu gelombang II COVID-19? Semua karena dua kluster yakni Itaewon dan Bucheon

Dugem di Itaewon
Kemunculan kluster Itaewon dimulai saat seorang pria yang dinyatakan positif COVID-19 ketahuan mengunjungi sebuah klub di Itaewon. Ini salah satu distrik kehidupan malam yang populer di Seoul, Korea Selatan.

Menurut AFP, pasien merupakan pria berusia 29 tahun asal Yongin, Gyeonggi. Ini sekaligus menjadi kasus infeksi pertama lokal yang dilaporkan setelah pembatasan resmi diakhiri.

Meski begitu, bagaimana dan di mana pasien tertular virus masih belum diketahui. Ini secara tidak langsung menimbulkan kekhawatiran bahwa virus bisa menyebar di masyarakat yang tidak terdeteksi.

Dia tidak memiliki kontak yang diketahui dengan pasien sebelumnya. Bahkan dia belum pernah melakukan kontak dengan siapa pun yang baru kembali dari luar negeri.

Sehari-hari, ia bekerja di sebuah perusahaan perangkat lunak di Seongnam. Ia mulai menunjukkan gejala demam tinggi dan diare lalu dia mengunjungi klinik setempat dan di tes COVID-19.

Menurut informasi, ia mengunjungi tiga klub malam di Itaewon selama liburan panjang di negara itu. Termasuk datang ke restoran, supermarket, klinik, toko dan farmasi.

Klub-klub Itaewon yang ia kunjungi memiliki beberapa ratus pengunjung. Sehingga ini membuat pemerintah waspada.

Korea Selatan Bersiap Buka Kembali Sekolah. AP/Kim Hyun-taeFoto: Korea Selatan Bersiap Buka Kembali Sekolah. AP/Kim Hyun-tae
Korea Selatan Bersiap Buka Kembali Sekolah. AP/Kim Hyun-tae


Gudang Online Shop
Kluster kedua adalah perusahaan e-commerce Coupang di Bucheon, Seoul Selatan. Kasus pertama terjadi Sabtu pekan kemarin.

Pengawas kesehatan Korsel mengatakan, kasus kemungkinan terkait dengan kluster Itaewon. Coupang adalah perusahaan online yang disupport Softbank Jepang.

Saat pembatasan sosial terjadi, lonjakan pesanan e-commerce terjadi di perusahaan ini. Banyak warga berbelanja dari rumah dan karyawan masuk seperti biasa.

"Diduga bahwa peraturan dasar (pencegahan COVID-19) tidak ditegakkan di gudang. Jika aturan karantina tidak diterapkan di tempat kerja, itu dapat menyebabkan hasil yang mengerikan dari infeksi massal," ujar Wakil Menteri Kesehatan Korsel, Kim Gang-lip.

Alhasil 3.600 orang diuji COVID-19. Kini sekitar 4.100 pekerja dan pengunjung kini melakukan isolasi mandiri.
(res)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading