Jujur Berat, Pertamina Ungkap Alasan Belum Turunkan Harga BBM

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
22 April 2020 11:47
Petugas mengisi BBM mobil di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak (SPBU) milik PT Pertamina di Jakarta, Selasa (28/8). Saat ini sebanyak 60 terminal BBM Pertamina telah menyalurkan biodiesel 20% atau B20 untuk PSO (Public Service Obligation/subsidi). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Jakarta, CNBC Indonesia - PT Pertamina (Persero) mendapatkan banyak dorongan dari berbagai pihak untuk menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM). Alasannya untuk menyesuaikan dengan harga minyak dunia yang saat ini sedang anjlok.

Harga minyak WTI bahkan sudah di level minus, sementara minyak jenis Brent yang erat ikatannya dengan harga minyak Indonesia (ICP) masih anteng di level US$ 27 per barel. Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati pun buka-bukaan soal alasan dan kondisi perusahaan.

Pertimbangan pertama adalah harga BBM saat ini ditentukan oleh formula yang dirumuskan oleh Kementerian ESDM. Pertamina, sebagai BUMN akan mengikuti ketetapan pemerintah.


"Kami sesuaikan dengan kebijakan pemeringtah, kami ikuti arahan pemerintah," jelas Nicke dalam Rapat Dengar Pendapat virtual bersama Komisi VII DPR RI, Selasa (21/4/2020).

Pertimbangan kedua yakni peran Pertamina sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) punya kewajiban membeli minyak dari Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) migas yang beroperasi dalam negeri.Tujuannya untuk menekan defisit migas yang jadi perhatian Presiden Joko Widodo sejak tahun lalu. Sayangnya, saat ini harga minyak yang dibeli dari KKKS dalam negeri tidak semurah jika Pertamina impor.



"Kami prioritaskan crude dari dalam negeri, yang kebutuhannya mencapai 40%. Kalau kami putuskan impor saja, ini KKKS akan berhenti semua, jadi ini ekosistem," kata Nicke.

Ketiga, peran Pertamina sebagai BUMN tidak bisa beraksi seperti trader. Bagi perusahaan biasa tentu akan memilih stop operasi kilang dan hulu, dan mengambil opsi impor yang lebih murah. "Sebagai BUMN kami tidak bisa setop operasi kilang dan hulu kami," jelasnya.

Seperti diketahui Pertamina akan menyetop operasi beberapa kilangnya, misalnya saja di Balikpapan. Selama penyetopan Pertamina akan melakukan pemeliharaan. Sementara di hulu, di beberapa lapangannya secara faktual biaya produksi lebih tinggi ketimbang harga minyak mentah saat ini. "Jadi harga di hulu kami tidak bisa diadjust."

Kondisi objektifnya memang demikian, Pertamina harus merogoh kocek lebih dalam untuk mengolah produk dan mendapat minyak mentah di dalam negeri lebih mahal ketimbang impor.

Bahkan harga crude impor pun lebih mahal ketimbang harga produk impor. Misalnya, Maret lalu Pertamina membeli crude di harga US$ 24 per barel, sementara harga produk sudah di level US$ 22 per barel.

"Kalau melihat kaya gini, jika kami trading kan lebih baik tutup semuanya. Tutup kilang, tapi kami tidak bisa seperti itu. Antara keputusan bisnis dan BUMN memang berbeda, kami harus ambil jalan tengah," papar Nicke.

Pertamina saat ini tengah mencari jalan tengah agar hulu dan hilir bisa berjalan bersama. Sebab, produksi minyak juga penting untuk pergerakan ekonomi Indonesia.

Hilir Turut Terpuruk

Babak belurnya kondisi hulu ternyata juga dirasakan di hilir. Pertamina mencatat penjualan BBM terendah sepanjang sejarah sejak pandemi berlangsung. Selama ini pendapatan Pertamina dikontribusikan besar oleh sektor hilir seperti penjualan BBM. "Kondisi normal, 70% revenue kami dari hilir," kata Nicke, Selasa (21/4/2020).

Tapi dari sisi profit atau keuntungan, masih disumbang besar oleh sektor hulu mencapai 80%."Nah sekarang, kondisi yang terjadi adalah permintaan menurun dan revenue tidak bisa terdongkrak dan tak bisa menambah portofolio kami," jelasnya.

Anjloknya penjualan saat ini sudah mencapai 24%, apabila kebijakan PSBB untuk mencegah penyebaran Covid-19 diperluas, maka diperkirakan penjualan akan semakin anjlok. Belum lagi kebijakan work from home dan sosial distancing membuat konsumsi BBM turun, yang artinya pembelian juga anjlok.

"Ini harga murah mau kita promosikan bagaimana pun tidak ada yang berani, tidak ada yang mau beli barang kita. Jadi pendapatan itu tidak bisa kami dapatkan," ujarnya.

Dampak Negatif Bagi Pertamina Menghadapi kondisi yang demikian rumit, Nicke mengatakan sebagai BUMN pihaknya akan menunggu keputusan pemerintah. "Apapun peraturannya nanti kami ikuti."

Nicke menjelaskan dari sisi harga, untuk kawasan regional ASEAN, BBM di Indonesia masih cukup murah. Hanya kalah dengan Malaysia, tapi perlu dicatat Malaysia merupakan satu-satunya negara di ASEAN yang produksinya aman dan tergabung OPEC.

Pertamina sebenarnya telah menurunkan harga jual BBM pada 1 Februari lalu. Harga BBM nonsubsidi Pertamina saat ini yaitu pertamax turbo dibanderol Rp.9.850 per liter, pertamax Rp.9.000 per liter, dan pertalite Rp.7.650 per liter.

Jika diperbandingkan dengan rata-rata harga di kawasan, harga bensin kita baik Pertamax maupun Pertalite masih terhitung lebih murah karena masih di bawah rerata harga bensin di negara ASEAN yang berada di level US$ 0,77 per liter.

Tapi untuk solar atau gasoil, harga Indonesia di kisaran US$ 0,33 per liter (sebab masih subsidi). Harga ini bahkan terendah di ASEAN."Jadi ini kalau dilihat benchmark regional, jadi kami mohon kalau kami trading company itu mudah. Tapi tidak semudah itu kami putuskan sebagai BUMN," jelas Nicke. 



[Gambas:Video CNBC]






(gus/gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading