Internasional

Heboh Putin Ubah Konstitusi Rusia, PM Mundur & Tambah Periode

News - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
16 January 2020 08:08
Presiden Vladimir Putin menyatakan ingin melakukan perubahan konstitusi
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Vladimir Putin menyatakan ingin melakukan perubahan konstitusi. Hal itu ia sampaikan dalam pidato tahunannya kepada anggota parlemen, Rabu (15/1/2020).

Beberapa jam setelahnya, Pemerintah Rusia mengumumkan mengundurkan diri untuk memberi jalan bagi perubahan konstitusi besar tersebut. Pernyataan itu disampaikan Perdana Menteri Dmitry Medvedev, sebagaimana dilaporkan kantor berita negara Tass, dan dikutip CNBC International.

Setelah keputusan itu, kantor berita mengatakan Putin berterima kasih kepada pemerintah Medvedev untuk pekerjaannya. Namun ia tidak memberikan banyak detail.

"Bagi saya, saya juga ingin mengucapkan terima kasih atas semua yang dilakukan pada tahap kerja sama kita ini, saya ingin mengungkapkan kepuasan dengan hasil yang telah dicapai," kata Putin dalam pertemuan para menteri, menurut Tass.

"Tidak semuanya dilakukan, tetapi semuanya tidak pernah berhasil sepenuhnya," kata Putin lagi.


Kemudian, media Rusia lainnya melaporkan bahwa Putin ingin menunjuk Mikhail Mishustin, kepala Layanan Pajak Federal Rusia, sebagai Perdana Menteri baru.

Sebelumnya dalam pidato, Putin dengan tegas mengusulkan pemungutan suara nasional tentang perubahan konstitusi yang akan mendorong kekuasaan ke arah perdana menteri dan parlemen, menjauhi kursi kepresidenan. Langkah ini dianggap berpotensi membatasi kekuatan penerus Putin jika ia mundur pada 2024, sebagaimana disampaikan Medvedev.

"Setelah amandemen itu diadopsi ... akan ada perubahan signifikan tidak hanya pada berbagai artikel konstitusi, tetapi juga pada keseimbangan kekuasaan, yaitu ke cabang kekuasaan eksekutif, legislatif dan yudikatif," kata Medvedev.

Pemerintah di Rusia sesuai dengan struktur gaya Kabinet Barat, terdiri dari perdana menteri, wakil perdana menteri dan menteri federal dan kementerian mereka. Namun, sistem politik negara itu secara luas dipandang sebagai otokrasi karena Putin memiliki banyak kekuasaan.

Putin yang berusia 67 tahun telah memimpin Rusia selama dua dekade sebagai perdana menteri atau presiden. Perubahan dalam konstitusi Rusia saat ini diperkirakan akan mempengaruhi sistem politik Rusia, yang akan memungkinkan Putin untuk tetap bertahan di pemerintahan saat masa pemerintahannya berakhir pada 2024.

"Ini akan memicu spekulasi menjelang 2024 (akhir masa kedua berturut-turut Putin). Putin sekarang akan dapat memilih loyalis bahwa ia akan ditempatkan di posisi kekuasaan di pemerintahan barunya sementara ia mungkin sedang bersiap untuk transisi ke posisi PM dengan kekuatan yang diperbesar pada tahun 2024." kata Adeline Van Houtte, seorang analis Eropa di The Economist Intelligence Unit.


[Gambas:Video CNBC]







(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading