Cerita Warga Tolak Tol Cijago karena 'Digantung' 14 Tahun

News - Muhammad Choirul Anwar, CNBC Indonesia
09 January 2020 14:33
Tol Cijago masih menyisakan pembebasan lahan pada seksi III.
Depok, CNBC Indonesia - Warga RW 01 dan 02 Kelurahan Krukut, Kecamatan Limo, Kota Depok, Jawa Barat merasa jadi korban PHP (pemberi harapan palsu) karena adanya proyek Tol Cinere-Jagorawi (Cijago). Proyek tersebut mulai disosialisasikan kepada warga sejak tahun 2006 atau 14 tahun.
Staf Pelaksana Kasi Pemerintahan Kelurahan Krukut, Hamzah Harun, berkata bahwa warga sudah menanti kejelasan proyek tersebut sejak tahun 2006. Sejak saat itu pula warga menunjukkan itikad baik.
"Dan kondisinya sejak saat itu tidak boleh ada transaksi, tidak boleh ada jual beli tanah, tidak boleh pecah surat tanah, nggak boleh ada surat baru, tidak boleh ada bangunan baru," kata Hamzah Harun ketika ditemui CNBC Indonesia di kantornya, Rabu (8/1/20).

Cerita Warga Tolak Tol Cijago karena 'Digantung' 14 TahunFoto: Warga Tolak Pembebasan Lahan Tol Cijago 3 (CNBC Indonesia/Muhammad Choirul Anwar)
Dengan berbagai ketentuan tersebut, warga sebenarnya juga berharap adanya ganti rugi lahan yang sepadan. Sayangnya, harapan warga pupus karena nilai yang ditetapkan jauh api dari panggang.

"Prinsipnya, harusnya kan paling enggak ada pertimbangan lonjakan harga. Selain itu beban warga kan menunggu lama tanpa kejelasan, nah pas ada kejelasan mau dibayar, harganya ancur," imbuhnya.
Padahal, di lokasi lain yang tak terlalu jauh sebelumnya sudah ada pembebasan lahan untuk proyek Tol Depok-Antasari (Desari). Hamzah menyebut, ganti rugi yang didapat warga dari Tol Desari jauh lebih tinggi dibandingkan Tol Cijago seksi III.
Harga ganti rugi lahan Tol Desari ada pada kisaran Rp 3,7 juta sampai Rp 6 juta per meter persegi. Nominal tersebut dipatok pada tahun 2016 silam. Adapun ganti rugi Tol Cijago seksi III, ditaksir hanya Rp 1,8 juta sampai Rp 6,5 juta per meter persegi pada akhir 2018.
"Padahal kualitas tanah di Desari itu kebanyakan sawah, empang-empang, relatif jarang tempat tinggal. Di sini rata- rata bangunan, artinya kan orang harus pindah," urainya.
 
Sementara itu, koordinator perwakilan warga, Roni Ibrahim mengungkap fakta yang lebih mencengangkan. Dia bilang, sejak 2006 warga setempat sudah terbatasi dalam merencanakan kehidupannya akibat menunggu ketidakpastian.
 
Tidak sedikit bagian bangunan rumah warga yang mengalami kerusakan dan terbengkalai. Dia memberikan contoh misalnya untuk renovasi kamar mandi atau toilet.
 
"Bagi orang yang nggak punya uang, masyarakat biasa untuk renovasi WC nggak mampu, asbes bocor. Kita mau renovasi sekarang jadi tertunda, karena mikir oh besok ada pembebasan. Kerusakan-kerusakan bangunan jadi terbengkalai," katanya.

Selain itu, larangan pecah surat tanah dan bikin bangunan baru juga membuat warga dirugikan.

 
"Improvisasi kehidupan kita juga susah. Kita mau bangun ruko, bangun kolam, nggak bisa karena terganjal aturan yang bagi masyarakat tentu merugikan. Kita mau pecah surat nggak bisa. Transaksi jual beli enggak ada," tandasnya.

Semua pengorbanan tersebut akhirnya tidak dihargai dengan nilai sepadan. Nominal harga ganti rugi yang ditetapkan jauh dari harapan warga.

"Setelah sampai batas waktu akan dibebaskan, nilai kompensasi material dan imaterial, moral, biaya pendidikan anak mulai sekolah, kehilangan tentanga, dihargai dengan tidak manusiawi. Untuk wilayah kita range (pasaran tanah) Krukut itu harga Rp 2 juta nggak ada, tapi kita dihargai segitu," keluhnya.

Tol Cijago sepanjang 14,7 Km dibangun oleh Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) PT. Translingkar Kita Jaya yang terbagi menjadi tiga seksi. Tol Cijago Seksi I sepanjang 3,70 Km dimulai dari interchange Jagorawi hingga ke Jalan Raya Bogor dan telah beroperasi sejak Januari 2012. Kemudian Seksi II sepanjang 5,5 Km dimulai dari Jalan Raya Bogor hingga Kukusan juga telah beroperasi. Adapun Seksi III dari Kukusan ke Cinere sepanjang 5,5 Km ditargetkan akan selesai pada tahun 2020.

[Gambas:Video CNBC]





(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading