Jokowi Minta Ahok Sikat Mafia Migas di Pertamina, Masih Ada?

News - Redaksi CNBC Indonesia, CNBC Indonesia
10 December 2019 15:36
Jokowi kembali singgung soal mafia migas, apakah masih ada di Pertamina?
Jakarta, CNBC Indonesia- Presiden Joko Widodo kembali menyinggung soal kehadiran mafia migas di tubuh PT Pertamina (Persero). Menurutnya, itu menjadi salah satu alasannya menempatkan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok di perusahaan tersebut.

Ini disampaikan Jokowi kepada wartawan usai menghadiri Rapat Koordinasi Nasional Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah dan Silahturahmi Nasional Bank Wakaf Mikro di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, Selasa (10/12/2019).

"Iya larinya ke situ," ujarnya menjelaskan inti pertemuan dengan Ahok dan Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (9/12/2019).


Menjadi pertanyaan, benarkah masih ada mafia migas di tubuh Pertamina?



Mantan komisaris utama Pertamina sekaligus eks Menteri Pendayagunaan BUMN, Tanri Abeng, pernah mengatakan bahwa sejak ditutupnya Petral pada 2015 lalu sudah tak ada lagi mafia migas di Pertamina.

"Tender minyak sekarang terbuka, Pertamina buka lewat ISC itu bisa dikontrol," jelas Tanri Abeng kepada CNBC Indonesia beberapa waktu lalu.

Meskipun begitu, ia tak menampik masih banyak oknum-oknum yang mau terus menggenjot impor minyak Indonesia. Meski kini pintunya sudah tertutup di Pertamina, "Tapi mereka cari pintu lain, itu yang harus waspada," katanya.



Soal mafia migas ini memang isu sensitif, sebelum dibongkar oleh tim tata kelola dan reformasi migas pada 2015 lalu, Pertamina sendiri membantah soal adanya praktik mafia dalam impor minyak RI.

Bayangkan, dengan konsumsi mencapai 1,3 juta barel sehari sementara produksi hanya di kisaran 750 ribu barel hingga 800 ribu barel sehari, ada selisih sampai 500 ribu barel sehari yang bisa jadi ceruk para mafia untuk mendapat cuan dari impor minyak.

Jokowi juga gemas bukan main soal hal ini. KPK bahkan menetapkan mantan bos Petral sebagai tersangka korupsi, setelah 5 tahun lebih melakukan penyelidikan.

Tapi, Oktober lalu sektor migas sempat dihebohkan dengan kelahiran PIMD atau Pertamina International Marketing & Distribution, Pte Ltd (PIMD). Berfungsi sebagai trading arm baru, berbagai pihak khawatir PIMD merupakan reinkarnasi dari Petral.

Salah satu yang khawatir adalah Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto yang dulu juga pernah menjabat sebagai Direktur Utama Pertamina.

Ia menekankan untuk peningkatan efisiensi perusahaan lebih baik tidak ada campur tangan perantara dalam transasksi. "Jangan ada perantara, fungsinya harusnya prosesnya bisa langsung," kata dia saat dijumpai di SKK Migas, Kamis (10/10/2019).

Pertamina sendiri menegaskan bahwa pendirian trading arm Pertamina International Marketing & Distribution, Pte Ltd (PIMD) bukan untuk mengganti Petral.

"Petral merupakan trading arm Pertamina dalam import minyak mentah untuk kebutuhan domestik, sedangkan PIMD merupakan trading arm untuk menjual produk Pertamina maupun produk pihak ketiga di pasar international. Jadi jelas PIMD jangan disamakan dengan Petral, karena PIMD fokus untuk menghasilkan pendapatan tambahan melalui penjualan di luar negeri. Jadi bukan untuk memenuhi kebutuhan domestik," kata Fajriyah Usman, VP Corporate Communication Pertamina dalam siaran pers di Jakarta (9/10/2019).



[Gambas:Video CNBC]




(gus/gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading