Internasional

Tak Ingin Resesi Seperti Hong Kong, RI Andalkan RCEP

News - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
05 November 2019 12:58
Tak Ingin Resesi Seperti Hong Kong, RI Andalkan RCEP
Jakarta, CNBC Indonesia - Fenomena perlambatan ekonomi di Singapura dan resesi di Hong Kong, membuat Indonesia menyiapkan langkah untuk perkuat Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP).

Menteri Koordinator Bidang Ekonomi Airlangga Hartarto mengatakan bahwa pihaknya optimistis Indonesia bisa terhindar dari ancaman resesi ekonomi.


"Indonesia kan kita punya domestik market yang cukup bagus. Memang kan selama ini Singapura dan Hong Kong sudah slow down," ujarnya di kantornya, Selasa (5/11/2019).


Oleh karenanya, lanjut Airlangga, RI tengah memperdalam lagi persoalan perdagangan lewat RCEP.

"Jadi RCEP ini kan East Asia FTA [Free Trade Agreement]. Dan ini adalah terbesar dibandingkan seluruh blok perdagangan," jelas dia.

Pembahasan RCEP dibahas di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke 35 ASEAN di Bangkok, Thailand. Perjanjian ini memungkinkan 10 negara ASEAN bekerja sama dengan 6 mitra penting perdagangan di Asia, termasuk diantaranya India dan China.


Meski demikian, India dikabarkan belum menyetujui RCEP. Pasalnya RCEP bisa membuat barang China membanjiri India dan membuat pelaku UKM negara itu mati.

RCEP digadang-gadang akan menjadi blok perdagangan bebas terbesar. Bahkan RCEP adalah blok terbesar melebihi Uni Eropa (EU).

"EU itu PDB (total negara anggota) kira-kira US$18 triliun, kalau PDB RCEP itu US$27 triliun, sedangkan TPP (Trans Pacific Partnership) itu US$11 triliun," kata Airlangga lagi.

Dari sisi volume perdagangan, dari 16 negara calon anggota RECP mencapai US$11,5 triliun. Sedangkan EU US$ 12,5 dan TPP US$ 5,8 triliun.

"Kalau kita bicara penduduk, RCEP ini 3,6 miliar jiwa jadi tentu jauh lebih besar daripada EU dan PBB. Oleh karena itu, tadi hampir seluruh pemimpin itu mendorong agar perundingan ini bisa difinalisasi," jelasnya.

Sebelumnya, pelemahan terjadi di sejumlah negara di dunia. Perang dagang dan geopolitik sejumlah kawasan menjadi penyebab.

Hong Kong misalnya jatuh dalam resesi karena pertumbuhan negatif di dua kuartal berturut-turut dalam setahun. Diketahui kota ini membukukan kontraksi sebesar 3,2% secara kuartalan (quarter-on-quarter/QoQ).

[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading