LPEI Gelar Indonesia Export Roundtable Sektor Industri Kelapa

News - Rahajeng Kusumo Hastuti, CNBC Indonesia
19 October 2019 20:58
LPEI Gelar Indonesia Export Roundtable Sektor Industri Kelapa
Jakarta, CNBC Indonesia - Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) melalui IEB Institute bekerja sama dengan University Network for Indonesia Export Development (UNIED) melakukan kajian mengenai sektor industri kelapa di Indonesia dan menyelenggarakan Indonesia Export Roundtable (IER).

Dalam IER ini UNIED diwakili oleh Lembaga Penelitian Pelatihan Ekonomika dan Bisnis dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada. Dalam diskusi kali ini, mengulas analisa rantai pasok, hambatan ekspor, insentif ekspor industri kelapa dan turunannya di Indonesia.

Diskusi ini diharapkan menghasilkan langkah-langkah strategis dalam mengatasi hambatan yang dihadapi di sektor kelapa di Indonesia dan menjadi bagian dari kebijakan Pemerintah. Tiga produk turunan kelapa yang dikaji dan turut dibahas dalam roundtable ini adalah produk kelapa parut kering, minyak kelapa, dan kopra.




"Seminar ini diharapkan dapat menjadi pemacu industri kelapa di Indonesia untuk terus berinovasi dalam mengembangkan produk dan meningkatkan daya saing di pasar global. Gexim dan LPEI sama-sama tergabung dalam Global Network of Export-Import and Development Financial Institutions (G-NEXID)," kata Ketua Dewan Direktur merangkap Direktur Eksekutif LPEI Sinthya Roesly dalam pembukaannya, Senin (14/10/2019).

Diskusi ini juga dihadiri oleh perwakilan dari Ghana Export-Import Bank (GEXIM) sebagai bagian dari program sharing information dan capacity building berdasarkan permintaan dari mereka untuk mempelajari industri kelapa beserta produk turunannya di Indonesia.

Adanya permintaan capacity building program dari GEXIM ini menunjukkan bahwa industri kelapa Indonesia semakin dipandang di mata internasional.

Sebelumnya Shintya juga mengatakan LPEI akan berupaya mengoptimalkan ekspor industri pengolahan kelapa. Pasalnya industri ini memiliki potensi yang sangat tinggi, apalagi Indonesia merupakan penghasil kelapa terbesar di dunia.

Saat ini industri kelapa masih memiliki beberapa hambatan dalam ekspor, misalnya akses pasar ataupun pembiayaan. Industri pengolahan kelapa pun masih menghadapi kekurangan bahan baku, karena masih banyak ekspor kelapa butir segar.

"Kita perlu mendorong hilirisasi. Kita sebaiknya mengurangi ekspor kelapa butir, karena Indonesia sudah memiliki pengalaman dan sudah ada industri besar, banyak produk yang diminati. LPEI di sini juga akan ikut membiayai," kata Shintya.

Shintya mengatakan LPEI dan Gexim sebelumnya memiliki Nota Kesepahaman yang ditandatangani di Swiss, 26 Juni 2019 lalu. Salah satu kerja sama yang disepakati antara dua belah pihak adalah sharing information dan capacity building.

Apalagi Indonesia merupakan salah satu negara penghasil kelapa terbesar di dunia yang berasal dari hasil perkebunan rakyat. Selain itu, Indonesia dan Afrika telah memiliki ikatan tersendiri dalam kerjasama Negara Selatan-selatan (South-south Countries).

Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia pada Januari - Desember 2018 tumbuh mencapai US$ 180,06 miliar atau meningkat 6,65% dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. Pertumbuhan ekspor ini diyakini akan terus meningkat seiring dengan diupayakannya diversifikasi produk ekspor dan penetrasi ke pasar ekspor non-tradisional.

"LPEI berkomitmen untuk terus meningkatkan kontribusi dalam pengembangan ekspor nasional baik pelaksanaan mandat LPEI maupun fasilitasi formulasi kebijakan fiscal tools. Sehingga dibutuhkan sinergi, dukungan dan kerjasama antar pihak, baik pengusaha, akademisi dan pemerintah guna memajukan ekspor khususnya sektor kelapa," tutup Shintya. (hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading