Ironi! Industri Kurang Bahan Baku, Kelapa Malah Diekspor

News - Rahajeng Kusumo Hastuti, CNBC Indonesia
14 October 2019 18:25
Bahan baku kelapa malah jadi persoalan di tengah geliat industri olahan kelapa.
Jakarta, CNBC Indonesia - Pengusaha Kelapa meminta pemerintah mengamankan bahan baku lantaran saat ini masih kekurangan. Selama ini banyak bahan baku diekspor tanpa ada hambatan, sedangkan industri dalam negeri butuh bahan baku.

Ketua Himpunan Industri Pengolahan Kelapa Indonesia (HIPKI) Rudy Handiwidjaja mengatakan saat ini ekspor kelapa segar tidak dikenakan pajak, sehingga kebanyakan ekspor yang dilakukan bukan produk bernilai tambah.

Pemerintah Indonesia memang mencoba melakukan hilirisasi dengan mengenakan beberapa bea keluar ekspor atau disinsentif  terhadap komoditas pertanian atau perkebunan agar bisa diolah di dalam negeri.




"Kebijakan ini menurut kami bertolak belakang dengan pencanangan untuk meningkatkan devisa dari industri, dan bertolak belakang dengan industri pengolahan kelapa," kata Rudy, Senin (14/10/2019).



Ia menegaskan industri pengolahan kelapa akan berkembang hanya jika ada ketersediaan bahan baku. Selain itu, pasokan bahan baku kelapa juga jangan bergantung pada musim. Adanya musim kemarau  akan berpengaruh Pada produksi tahun depan.

"Industri pengolahan kelapa akan menarik investasi kalau nggak ada jaminan bahan baku dari pemerintah. Ini hambatan industri berkembang," ujarnya.

Ia juga mengharapkan adanya insentif dari pemerintah untuk ekspor olahan kelapa, karena ekspor produk olahan kelapa Indonesia mendapat hambatan tarif impor saat masuk negara lain. Misalnya saja bea masuk impor olahan kelapa ke ke China mencapai sekitar 10% dan ke wilayah Eropa sekitar 8,9%. Sementara produk kelapa olahan dari Filipina ataupun Sri Lanka mendapatkan fasilitas bea masuk yang sangat rendah saat masuk ke China dan Eropa.

"Jangan dilihat industri pengolahan kelapa meski devisa kecil dibanding sawit, industri pengolahan kelapa sangat bergantung dari bahan baku domestik, kalau ekspor terhambat kami akan terhambat membeli dari petani dalam negeri. Kalau di CPO banyak industri yang punya kebun sendiri," ujat Rudy.

Berdasarkan hasil Studi Penelitian dan Pengembangan Ekonomika dan Bisnis (P2EB) Universitas Gadjah Mada (UGM) menyebutkan pelaku industri olahan kelapa terutama yang menengah kesulitan mendapatkan pasokan dari domestik karena mereka lebih suka ekspor dibandingkan menjual ke industri.



"Harus dicari kenapa mereka lebih suka ekspor. Tugas pemerintah kan mencari tahu masalah ini. Misalnya dari insentifnya, agar kebutuhan dalam negeri terpenuhi," kata Wakil Direktur P2EB UGM, Artidiatun Adji.

Solusi atas mandeknya peremajaan tanaman kelapa pun harus diselesaikan. Selain itu harus ada insentif yang diberikan agar pengusaha kelapa bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri.
(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading