Waduh, Belasan Tahun Laut RI Tercemar Minyak dari Kapal Asing

News - Efrem Limsan Siregar, CNBC Indonesia
30 September 2019 19:17
Waduh, Belasan Tahun Laut RI Tercemar Minyak dari Kapal Asing
Jakarta, CNBC Indonesia- Ternyata, selama belasan tahun laut dan perairan di Kepulauan Riau dan BatamĀ tercemar minyak dari kapal-kapal asing.

Kasubdit Restorasi Dirjen Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan Sapta Putra Ginting mengatakan minyak-minyak tersebut berasa dari kapal-kapal yang masuk ke perairan Indonesia.




Ia mengaku tidak mengetahui sejauh mana sumber minyaknya, namun sebenarnya bisa dihindari dengan cara tank cleaning seperti di Singapura. "Jadi kapal-kapal sebelum masuk Singapura dia bersihkan minyak bekas dan bilas supaya tidak kena denda di Singapura," katanya, Senin (30/9/2019).

Menurutnya, jika perusahaan legal kapal akan dibersihkan dan minyak dibawa ke Pulau Bintan dipilah lagi untuk diekstrak jadi minyak. "Tapi kapal-kapal itu sering pakai ilegal karena lebih murah, yang ilegal itu tak punya fasilitas pemilahan di daratan. Dimasukkan ke karung plastik, kemudian ditimbun di bawah laut atau pasir."

Dari situ, ia melanjutkan, jika ada angin barat sepanjang Oktober sampai Maret karung tersebut bisa pecah dan minyaknya tersebar. Kejadiannya ini terjadi dalam periode tertentu.

Sekarang, Indonesia ingin memperketat pengawasan dengan menggandeng tentara AL untuk berjaga di perairan Indonesia. Repotnya kadang-kadang, pecahan dan tumpahan itu terjadi di laut internasional namun terbawa angin sampai ke laut Indonesia.

"Kebetulan titik-titik tunpahan minyak lumayan dominan Singapura," kata dia.

Kejadian ini, kata dia, berlangsung belasan tahun. Tumpahan minyak ada yang berasal dari kapal, minyak bekas sisa, minyak oli, namun semuanya masuk kategori B3. Setiap tahun, bisa ratusan kapal yang melakukan hal ini ke laut Indonesia.

Kapushidrosal Laksamana Muda TNI Dr Ir Harjo Susmoro menambahkan tumpahan ini terjadi setiap tahun, "Kita coba cari solusi, buat SOP, dan buat koordinasi secara ketat di stakeholder," katanya.

(gus/gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading