Bukan Melesat, Ekonomi RI Malah Meleset dan Neraca Jeblok

News - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
13 June 2019 17:40
Bukan Melesat, Ekonomi RI Malah Meleset dan Neraca Jeblok
Jakarta, CNBC Indonesia - Pekerjaan Rumah (PR) sektor ekonomi pemerintah di bawah pimpinan Joko Widodo (Jokowi) cukup berat. Pertumbuhan ekonomi di kuartal I-2019 sebesar 5,07% berada di bawah ekspektasi. Sementara neraca perdagangan pada April 2019 mengalami defisit US$ 2,56 miliar, atau terbesar dalam sejarah. Sebelumnya, defisit paling dalam pernah terjadi pada Juli 2013 sebesar US$ 2,3 miliar.

Soal pertumbuhan ekonomi, dalam Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia kemarin, ekonom memproyeksikan perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 5,19% secara tahunan (year-on-year/YoY), lebih tinggi dari kuartal-I 2018 dan juga kuartal-IV 2018 yang masing-masing sebesar 5,06% YoY dan 5,18% YoY.

Kepala BPS, Suhariyanto, mengatakan melesetnya target pertubuhan ekonomi di kuartal I-2019 ini adalah karena turunnya pertumbuhan ekonomi global, perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China, serta harga minyak dunia yang belum stabil.


Baca juga: Duh! Ekonomi RI Q1-2019 Tumbuh 5,07%, Jauh dari Harapan Pasar

"Pertumbuhan ekonomi ini di bawah ekspektasi karena ada kendala," kata Suhariyanto dalam rapat bersama Komisi XI DPR, Kamis (13/6/2019). Rapat tersebut juga dihadiri oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati; Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo; Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso; dan Menteri PPN/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro.

Beberapa kendala penghambat ekonomi kuartal I-2019 adalah ekspor CPO yang turun ke India dan Eropa. Kemudian industri karet dan plastik disebut tumbuh negatif, demikian juga dengan batu bara.

Suhariyanto menjelaskan, sektor pertanian dan kehutanan bermasalah karena hanya tumbuh 1,81% atau melambat, karena pergeseran panen.

Selain pertumbuhan ekonomi kuartal I-2019 yang di bawah ekspektasi, Suhariyanto juga memaparkan soal tantangan besar Indonesia, yaitu neraca perdagangan yang defisit US$ 2,5 miliar pada April 2019, atau terendah sepanjang sejarah. Alasannya, karena harga komoditas ekspor andalan Indonesia sedang turun.

Baca juga: CAD Bengkak Jokowi Jengkel, Menteri Ini Harus Tanggung Jawab?

"Jadi dari komposisi ekspor impor ini, di internal kita masih punya PR untuk diversifikasi produk pasar dan menciptakan produk yang kompetitif, sementara eksternal perlambatan ekonomi global," ujarnya.

Ekspor Indonesia sebanyak 40% berasal dari Jawa Barat, Jawa Timur, dan Kalimantan Timur. PR pemerintah adalah meningkatkan ekspor dari provinsi lain.

"Ke depan kita harus usaha keras bagaimana provinsi lain juga bisa tingkatkan ekspor berdasarkan komoditas unggulannya," ujar Suhariyanto.

Baca juga: Sri Mulyani Sebut Target Ekonomi 2019 Meleset, BI pun Sama

Sebelumnya, soal jebloknya defisit neraca perdagangan ini, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengaku sudah sering mengingatkan jajaran menterinya.

"Namanya defisit transaksi berjalan, defisit neraca perdagangan, itu memang persoalan besar kita. Bolak balik saya sampaikan," keluh Jokowi.

"Tapi rumusnya, kalau ekspor tidak meningkat, kemudian barang subtitusi impornya tidak diproduksi sendiri di dalam negeri, mau sampai kapan rampung?," kata dia.

Jokowi menekankan, kunci untuk mengatasi defisit neraca perdagangan adalah hilirisasi dan meningkatkan kinerja industri domestik. Menurut Jokowi, sudah saatnya industri nasional bangkit.

"Jangan sampai kirim barang mentah, raw material. Kuncinya di situ aja. Contohnya avtur. Sekarang nggak impor, nanti mulai bulan depan udah nggak ada impor avtur dan solar," tegas Jokowi.

"Karena sudah dikerjakan di dalam negeri. Semua kok impar-impor. Sampai kapan pun defisit pasti. Yang paling penting itu bagaimana menyelesaikan persoalan," katanya. (wed/dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading