Sri Mulyani: Pelemahan Harga Komoditas Terasa Sekali

News - Iswari Anggit Pramesti, CNBC Indonesia
19 March 2019 17:04
Sri Mulyani: Pelemahan Harga Komoditas Terasa Sekali
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati membeberkan realisasi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) pada Februari 2019.

PNBP baru mencapai Rp 39,91 triliun, atau sebesar 10,55% dari target tahun 2019 yang sebesar Rp 378,29 triliun.

"Terasa sekali ada pelemahan karena harga komiditas," tutur Sri Mulyani di Gedung Kemenkeu, saat merilis APBN Kita realisasi Februari, Selasa (19/3/2019).


Realisasi penerimaan Sumber Daya Alam (SDA) Minyak dan Gas (Migas) hanya mencapai Rp 13,95 triliun, atau s9,97% dari target APBN 2019.



Nilai tersebut turun sebesar 1,59% dibanding periode yang sama tahun 2018 yang mencapai Rp 16,19 triliun.

Menurut Kemenkeu rendahnya penerimaan SDA Migas antara lain disebabkan oleh harga minyak asal Indonesia yang lebih rendah dibanding tahun lalu.

Berdasarkan data yang dirilis Kemenkeu, Indonesian Crude Price (ICP) atau harga minyak Indonesia periode Januari-Februari 2019 hanya sebesar US$ 58,93/barel. Melemah dibanding periode yang sama tahun 2018 yang sebesar US$ 63,6/barel

Bila melihat rekaman harga minyak mentah dunia, memang terjadi penurunan harga pada periode tersebut.

Tercatat harga rata-rata minyak jenis Brent sepanjang Januari-Februari 2018 mencapai US$ 67,46/barel, lebih tinggi 2019 yang sebesar US$ 62,21/barel.

Artinya memang harga minyak mentah dunia ikut mengerek harga ICP ke bawah.

Sama halnya dengan realisasi penerimaan SDA Non Migas yang hanya mencapai Rp 5,49 triliun, atau sebesar 17,72% dari target APBN 2019.

Capaian tersebut mengalami penurunan sebesar 0,66% dibanding periode yang sama tahun 2018 yang mencapai Rp 5,52 triliun.

Lagi-lagi penyebabnya adalah harga komoditas ekspor utama Ri, batu bara yang terus tertekan.

Harga Batu Bara Acuan (HBA) yang ditetapkan oleh pemerintah sepanjang Januari-Februari 2019 adalah sebesar US$ 92,11/ton, lebih rendah ketimbang HBA periode yang sama tahun 2018 yang mencapai US$ 98,12/ton.

Penurunan HBA ini dipengaruhi oleh penurunan harga batu bara dunia akibat pembatasan impor batu bara China dan India.

Sebagai informasi, HBA yang ditetapkan pemerintah digerakkan oleh pergerakan variabel yang membentuk HBA, yaitu Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Globalcoal Newcastle Index (GCNC), dan Platss 5900.

Mengingat batu bara merupakan penyumbang sekitar 15% dari total ekspor non-migas, maka sudah tentu akan berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja ekspor, yang mana akan menghasilkan royalti kepada pemerintah.







(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading