Ingin lepas dari Deindustrialisasi Prematur? Ini Resep ADB!

News - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
08 February 2019 - 20:26
Ingin lepas dari Deindustrialisasi Prematur? Ini Resep ADB!
Jakarta, CNBC Indonesia - Setelah Indonesia mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,17%, Bank Indonesia (BI) melaporkan defisit neraca berjalan (current account deficit/ CAD) sebesar 2,98% pada tahun 2018. Perlambatan pertumbuhan sektor manufaktur dituding menjadi salah satu biangnya.

Lesunya industri manufaktur membuat ekspor Indonesia minim nilai tambah sehingga berujung pada tekor dagang, apalagi ketika harga komoditas yang menjadi andalan republik ini lagi keok.

Lalu bagaimana caranya untuk keluar dari belitan persoalan-meminjam istilah Asian Development Bank (ADB)--deindustrialisasi prematur, lembaga yang berkantor di Manila, Filipina tersebut punya enam resep.


Dalam laporan gabungan antara ADB dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) berjudul "Policies to Support The Development of Indonesia's Manufacturing Sector During 2020-2024", ADB menilai Indonesia minim akan aktivitas manufaktur yang kompleks.


Artinya, barang-barang yang diproduksi oleh sektor manufaktur Indonesia memiliki nilai tambah yang terbatas karena cenderung sederhana dan "itu-itu saja" dalam arti tidak menggunakan inovasi dan menerapkan teknologi maju.

Pertama, menurut ADB, Indonesia harus meningkatkan potensi dan mengatasi konstrain neraca pembayaran (balance of payment constraints/ BOPC) periode 2020 hingga 2024.

"Tingkat pertumbuhan Indonesia yang aktual ditentukan oleh tingkat pertumbuhan ini, yang juga ditentukan oleh struktur perekonomian Indonesia, terutama dalam hal kontribusi sektor manufaktur," tulis ADB dalam laporan tersebut.

Produknya pun diekspor yang ditandai elastisitas permintaan masyarakat berpenghasilan rendah. Untuk meningkatkan elastisitas ini, Indonesia perlu mendiversifikasi dan meningkatkan perekonomiannya menjadi lebih kompleks dalam hal produksi.

Kedua, Indonesia harus mempercepat penciptaan perusahaan berskala besar untuk mendorong transformasi perekonomian menjadi lebih berkelanjutan. Saat ini, sektor manufaktur Indonesia didorong perusahaan skala kecil dan menengah.

"Indonesia perlu menciptakan perusahaan besar karena merekalah yang bisa mendiversifikasi, meng-upgrade dan mendorong peningkatan penggunaan teknologi di Indonesia," ujar ADB.

Ketiga, pertimbangkan kembali sistem insentif yang ditujukan untuk memperbaiki sektor manufaktur untuk menciptakan insentif yang lebih baik terhadap sektor tersebut-terutama yang berskala kecil menjadi entitas baru yang tinggi penyerapan tenaga kerjanya dan lebih kompleks produknya.

Keempat, longgarkan faktor penghambat (yang berupa keuangan dan perpajakan, infrastruktur, institusi, akses terhadap tanah dan tenaga lerja, peraturan dan perizinan) baik untuk mendukung penyerapan tenaga kerja maupun untuk mendorong pertumbuhan penjualan.

Kelima, lakukan diversifikasi manufaktur dan naikkan levelnya agar mampu menjadi bagian dari global value chain (GVC). "Ibarat permainan scrabble, Thailand memiliki banyak variasi huruf untuk membentuk kata, Indonesia hanya memiliki A,A, B,B, itu saja sehingga kurang variatif dan sulit menciptakan manufaktur lengkap," ujar Direktur Utama PT Aneka Gas Industri Tbk Rachmat Harsono dalam wawancara dengan CNBC Indonesia TV.

Saat ini, perusahaan Indonesia yang berpartisipasi di GVC kebanyakan hanya menjadi supplier bahan mentah dan sumber daya alam dan secara umum produknya memiliki tingkat kompleksitas rendah."Ini terkait dengan sifat alami perekonomian Indonesia yang masih bergantung pada sumber daya alam. Upaya baik yang dilakukan oleh pemerintah dan perusahaan swasta harus lebih ditunjukan untuk memperbaiki situasi ini," tulis ADB.

Keenam, pemerintah harus merombak kebijakan fiskal dan mometer untuk memperkuat posisi keuangan Indonesia di sektor swasta. "Ini penting karena dalam beberapa tahun ke depan, Indoensai akan menghadapia defisit CAD dalam tingkat terbatas, sedangkan aturan fiskal hanya mengizinkan maksimum defisit sebesar 3%. Saat ini, beban pertumbuhan bergantung pada sektor korporasi, dan ini cenderung menciptakan kerentanan finansial."

Laporan tersebut telah diserahkan kepada Tim Ekonomi Presiden Joko Widodo. Apakah akan ditindaklanjuti secara serius? Kita lihat saja.

TIM RISET CNBC INDONESIA


(ags/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading