Miris! RI Impor 70% Pasokan LPG dan Bikin Subsidi Menggila

News - Gustidha Budiartie, CNBC Indonesia
25 January 2019 12:35
Miris! RI Impor 70% Pasokan LPG dan Bikin Subsidi Menggila
Jakarta, CNBC Indonesia- Lebih dari satu dekade lalu, tepatnya pada 2007, LPG dikenalkan ke masyarakat Indonesia untuk gantikan pemakaian minyak tanah. Dulu, LPG adalah solusi dan salah satu upaya pemerintah untuk konversi energi.

11 tahun kemudian, LPG jadi primadona. Hampir semua rumah tangga RI menggunakan bahan bakar gas ini untuk kebutuhan sehari-hari. Tapi masalahnya, antara kebutuhan dan pasokan tidak seimbang.




Dari penggunaan 1,9 juta metrik ton (MT) di 2008, penggunaan LPG terus melonjak. Hingga menyentuh 7,11 juta MT di 2017.

Untuk 2018, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati dalam acara penandatanganan kerjasama gasifikasi batu bara dengan PT Bukit Asam (PTBA) juga menyinggung soal permintaan di 2018 yang menyentuh angka serupa, yakni 7,3 juta MT.

Mirisnya, meski produksi gas Indonesia berlimpah ketimbang minyak, urusan LPG masih harus impor.

Dalam acara yang sama, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno mengatakan, Indonesia saat ini masih mengimpor 70% kebutuhan LPG dalam negeri. Jumlah impornya mencapai 5,5 juta ton per tahun. "Impor LPG ini turut menyumbang defisit neraca perdagangan dan menggerus devisa," kata Rini, Rabu (16/1/2019).

Miris! RI Impor 70% Pasokan LPG dan Bikin Subsidi Menggila Foto: Tim Riset CNBC Indonesia/ Raditya Hanung


Subsidi LPG Makin Menggunung
LPG termasuk salah satu barang subsidi yang menelan anggaran belanja cukup besar. Terutama dengan adanya program tabung gas 3 kg atau tabung gas melon, yang konsumsinya terus melonjak setiap tahun.

Kementerian Keuangan mencatat kenaikan pos subsidi, didorong oleh pertumbuhan subsidi energi yang mencapai 57,27% YoY ke angka Rp 153,5 triliun. Secara rinci, subsidi BBM & LPG naik 106,38% YoY ke Rp 97 triliun, sementara subsidi listrik tumbuh 11,66% YoY ke Rp 56,5 triliun.

Miris! RI Impor 70% Pasokan LPG dan Bikin Subsidi Menggila Foto: Tim Riset CNBC Indonesia/ Raditya Hanung


Pertumbuhan subsidi BBM & LPG yang sebesar 2 kali lipat lebih itu lantas menjadi yang terbesar dibandingkan pos belanja pemerintah lainnya. Realisasi subsidi BBM& LPG bahkan sudah mencapai 207% dari target APBN 2018. Artinya, kuota subsidi untuk solar dan LPG di tahun ini sudah jebol cukup parah. 

Kenaikan harga minyak mentah dunia ditambah pelemahan rupiah, nampaknya berkontribusi bengkaknya subsidi BBM & LPG. Di sepanjang tahun 2018, harga minyak jenis brent memang jeblok 19,55% secara point-to-point. Namun, rata-rata harga di tahun lalu adalah sebesar US$ 71,67/barel, naik dari rata-rata tahun 2017 sebesar US$ 54,75/barel.

Khusus untuk komoditas LPG, tercatat bahwa subsidi LPG mulai menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan pada tahun 2017, yakni mencapai Rp38,75 triliun. Jumlah itu merupakan nominal kedua tertinggi dalam lima tahun terakhir.

Padahal, pada 2015 dan 2016, subsidi LPG sudah lumayan terpangkas di kisaran Rp20 triliun, seiring menurunnya harga komoditas global.

(gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading