PLN Genjot Pembangunan Pembangkit EBT di 2019

News - Anastasia Arvirianty, CNBC Indonesia
19 December 2018 19:07
PLN Genjot Pembangunan Pembangkit EBT di 2019
Jakarta, CNBC Indonesia- PT PLN (Persero) mencatat, sampai saat ini perusahaan sudah memiliki 7.000 MW kapasitas terpasang atau 12% pembangkit energi baru terbarukan (EBT) yang sudah beroperasi di seluruh Indonesia, dari target bauran energi 23% sampai 2025.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Divisi Energi Baru dan Terbarukan PT PLN (Persero) Zulfikar Manggau kepada media ketika dijumpai di Jakarta, Rabu (19/12/2018).




Lebih lanjut, Zulfikar mengakui, memang tidak mudah dalam mengerjakan proyek pembangkit EBT, ada beberapa hal yang menjadi hambatan yakni masalah pasokan dan permintaan, kesiapan, sistem, pendanaan, dan regulasi.

"Keekonomian pembangkit EBT menjadi hambatan, karena melihat faktor supply demand, kadang supply ada tetapi demand-nya yang tidak ada, lalu ada juga kesiapan sistem EBT, dan butuh regulasi yang lebih stratehgis yang bisa mendukung semua pihak," ujar Zulfikar.

"Selain itu, butuh pembiayaan yang lebih atraktif, seperti bunga rendah, tenor panjang, agar membantu pengusaha-pengusaha EBT juga," tambahnya.

Adapun, saat ini, 12% pembangkit EBT terdiri dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), PLTP,  PLTS, dan sisanya adalah PLTB (Angin).

Kendati demikian, untuk mendukung target 23% bauran energi, Zulfikar mengungkapkan, di tahun depan PLN aka menambah banyak proyek pembangkit biomass dan biogas, di Kalimantan dan Sumatra, sebab dua daerah tersebut memiliki potensi berlimpah.

"Revisi RUPTL tahun depan, kami akan lebih banyak bangun pembangkit biomass dan biogas," pungkas Zulfikar.

Sebelumnya, dalam laporan yang dirilis oleh Institute for Essential Services Reform (IESR) dikatakan, pengembangan energi terbarukan di 2018 ini dinilai tidak mengalami kemajuan yang signifikan. Laporan tersebut menyoroti mandeknya kapasitas terpasang baru dari pembangkit listrik energi terbarukan dalam tiga tahun terakhir.  

[Gambas:Video CNBC]

Laporan yang bertajuk Indonesia Clean Energy Outlook: Reviewing 2018, Outlooking 2019 ini memperkirakan prospek energi terbarukan 2019 akan lebih suram, setidaknya hingga semester pertama 2019. 

Direktur Eksekutif IESR Fabby Tumiwa menjelaskan, ada beberapa faktor yang menghambat percepatan pengembangan energi di Indonesia, yakni kualitas kebijakan dan kerangka peraturan di sektor energi, konsistensi dalam implementasi kebijakan, proses procurement internal PLN, akses pembiayaan bunga rendah, kapasitas jaringan, dan terbatasnya proyek energi terbarukan yang bankable.

Menurut Fabby, laporan ini memberikan peringatan keras bahwa pemerintah tidak berada di jalur untuk mencapai 23% target energi terbarukan sebagaimana ditetapkan dalam Kebijakan Energi Nasional 2014 dan Rencana Energi Nasional 2017. 

"Situasi telah memburuk dalam dua tahun terakhir karena kebijakan dan regulasi yang menguntungkan kepentingan PLN tetapi gagal menciptakan kondisi yang memungkinkan untuk memobilisasi investasi sektor swasta. Akibatnya, investasi terbarukan terus menurun sejak 2015," ujarnya dalam acara Indonesia Clean Energy Dialogue, di Jakarta, Rabu (19/12/2018). (gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading