Impor Migas Masih Biang Kerok Defisit RI, Terparah Sejak 2014

News - Anastasia Arvirianty, CNBC Indonesia
16 November 2018 - 11:00
Impor Migas Masih Biang Kerok Defisit RI, Terparah Sejak 2014
Jakarta, CNBC Indonesia- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, impor migas pada Oktober 2018 mengalami kenaikan 31,78% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. 

Kepala BPS Suhariyanto mengakui impor migas menjadi biang kerok kencangnya laju impor. "Karena ada peningkatan impor minyak mentah, hasil minyak dan gas," kata Suhariyanto ketika merilis kinerja neraca perdangangan Oktober 2018, di Gedung BPS, Jakarta, Kamis (15/11/2018).




Ia memaparkan impor migas naik 26,97% dibanding bulan lalu, dari US$ 2,29 miliar ke US$ 2,91 miliar. Rincinya, RI ekspor migas US$ 1,48 miliar sementara impor sebanyak US$ 2,91 miliar. Sehingga defisit migas mencapai US$ 1,42 miliar. Sektor perminyakan masih jadi biang kerok untuk defisit dagang migas ini. 

Secara year on year, BPS mencatat, impor migas pada Oktober 2018 sebesar US$ 2,9 miliar, naik 31,78% dibanding periode yang sama tahun lalu. Peningkatan ini kembali mencatatkan defisit neraca migas yang membengkak 98% jika dibandingkan Oktober 2017, yang sebesar US$ 718,7 juta.

Dari data BPS diketahui impor minyak mentah mencapai US$ 878 juta dan impor hasil minyak atau BBM sebanyak US$ 1,72 miliar selama Oktober 2018. 

Namun, secara volume, impor migas pada Oktober tercatat menurun 4,47% dibanding periode yang sama tahun lalu, dari 4,49 juta ton menjadi menjadi 4,29 juta ton.

Sementara gas masih mencatat performa baik, yakni ekspor US$ 952 juta dan impor US$ 311,2 juta sehingga masih bisa surplus US$ 641 juta.

Defisit migas di sepanjang tahun ini sudah mengungguli nilai defisit tahun 2017 setahun penuh (US$ 8,58 miliar). Padahal, tahun 2018 masih menyisakan 2 bulan lagi. Jika ditarik lebih jauh, defisit migas tahun ini hanya lebih "mending" dibandingkan defisit di Januari-Oktober 2014 yang mencapai US$ 11,14 miliar.

Menanggapi hal ini, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan berdalih, impor migas yang besar tidak diimbangi dengan ekspor hasil produksi yang tinggi.

"Menurut saya ekspor nonmigas atau produk di sektor lainnya masih kurang," ujar Jonan kepada media ketika dijumpai di Jakarta, Kamis (15/11/2018).

Impor Migas Masih Biang Kerok Defisit RI, Terparah Sejak 2014Foto: Infografis/Defisit Migas Tahun Ini Capai Rp158 T, Terparah Sejak 2014!/Aristya Rahadian Krisabella


Lebih lanjut, ia mengatakan, kalau harga minyak mentahnya naik, harga produk BBM juga akan naik. Sedangkan, Indonesia melakukan impor kira-kira mungkin sekitar 500-600 ribu barel per hari, baik crude maupun produk, pasti harganya naik.

"Kalau orang bilang ini defisit neraca perdagangan karena defisit neraca migas, lho pertanyaan saya begini, Jepang itu punya gas tidak? kan tidak punya, punya minyak tidak? Tidak kan, dia impor minyak dan gasnya jauh lebih besar dari Indonesia, tapi ekspornya besar, ekspor produk lainnya besar. Singapura, Hong Kong, dan Tiongkok juga sama dengan Jepang, lah kita juga mestinya begitu," ujar Jonan.

Jonan pun mengatakan, impor minyak tersebut digunakan sebagai alat produksi, bukan untuk dikonsumsi, misalnya diminum, sehingga, walaupun digunakan oleh konsumen, tetapi peruntukkannya sebagai alat berkegiatan.

"Nah, berkegiatan ini yang harus menghasilkan nilai ekspor yang lain, jadi bukan dipisah-pisah begitu penilaiannya," pungkas Jonan. (gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading