Istana Akui Sering Gagap dan Kesusahan Lawan Berita Hoax

News - Tito Bosnia, CNBC Indonesia
21 October 2018 14:46
Istana Akui Sering Gagap dan Kesusahan Lawan Berita Hoax
Jakarta, CNBC Indonesia- Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko menyampaikan pemerintah saat ini mengaku kesulitan untuk membenarkan berbagai pemberitaan palsu ataupun hoax yang diedarkan dan langsung diterima oleh masyarakat.

Pihaknya menggunakan kata "gagap" menghadapi kondisi seperti ini, hingga berujung menjadi sebuah berita yang sangat luar biasa dan sangat sulit untuk dikendalikan.

[Gambas:Video CNBC]


"Dalam kondisi seperti ini, kami pemerintah gagap dan gelisah menghadapi isu-isu tersebut. Serbuan-serbuan berita menjadi luar biasa dan akhirnya tidak mudah bagi kami untuk menghadapi itu," ujarnya di Tzu Chi Center, Minggu (21/10/18).



Moeldoko mengatakan, setidaknya ada alasan kuat bagi masyarakat Indonesia sangat mudah sekali menyerap berikat hoax.

Pertama, yakni pesatnya pertumbuhan penduduk Indonesia, sumber daya alam yang terbatas, sehingga menyebabkan kecepatan peredaran informasi yang tidak terkendali.

"Ada survei bahwa 98,2% masyarakat Indonesia mengikuti berita-berita yang berkaitan dengan politik. Sementara itu, 88,2% berita yang ada di media sosial itu berkaitan dengan sara. Ini sangat berbahaya, karena setiap hari kita disodori berita seperti itu," ungkap Moeldoko.

Ia menambahkan, salah satu frame yang cukup besar dan menimbulkan salah persepsi di kalangan masyarakat yakni pemberitaan terkait Tenaga Kerja Asing (TKA) asal Cina yang menggempur Indonesia.

Pasalnya, banyak media mainstream yang mengabarkan seolah-olah TKA asal Cina tersebut mencapai 10 juta orang dengan gaji, fasilitas dan tunjangan yang lbih baik dibandingkan pekerja dalam negeri (lokal).

Menghadapi hal tersebut, pemerintah langsung melakukan tindakan dengan mengajak para media tersebut untuk melihat kondisi tersebut di lapangan.

Setelah melihat kondisi tersebut, pemerintah menjelaskan alasan dari perbedaan perlakukan yang diberikan kepada TKA Cina dibandingkan dengan pekerja lokal.

"Setelah kita lihat langsung lokasinya, saya yang jadi wartawan. Bisa dilihat bahwa perbedaan perlakuan misalnya gaji mereka lebih tinggi karena mereka bekerja di Sabtu dan Minggu, lalu mereka merupakan pekerja dengan skill yang orang Indonesia belum bisa mampu secara maksimal mengerjakannya," ujar Moeldoko. (gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading