Internasional

Perang Dagang, Tesla Tetap Bangun Pabrik Rp 30 T di China

News - Bernhart Farras, CNBC Indonesia
18 October 2018 12:31
Tesla telah menandatangani perjanjian dengan pemerintah Shanghai untuk membeli tanah seluas 860.000 meter persegi untuk megapabriknya di China.
Beijing, CNBC Indonesia - Produsen mobil listrik asal Amerika Serikat (AS), Tesla, telah menandatangani perjanjian dengan pemerintah Shanghai untuk membeli tanah seluas 860.000 meter persegi. Plot tersebut akan menjadi lokasi Gigafactory pertama milik pabrikan tersebut di luar AS, menurut postingan perusahaan di media sosial China, Rabu (17/10/2018).

Perjanjian tersebut menandai langkah penting bagi perusahaan dan CEO Elon Musk dalam upaya membuat mobil lokal di China untuk pasar yang tumbuh cepat itu, bahkan saat bea masuk yang dikenakan oleh Beijing atas barang-barang buatan AS telah menyebabkannya menaikkan harga model impornya.



Tesla menandatangani kesepakatan yang lama dinanti-nantikan dengan pihak berwenang Shanghai pada Juli untuk membangun pabrik pertamanya di luar AS, yang akan menggandakan ukuran manufaktur globalnya dan membantu menurunkan harga mobil Tesla yang dijual di pasar mobil terbesar dunia.


"Mengamankan lokasi ini di Shanghai, Gigafactory pertama Tesla di luar AS, merupakan tonggak penting bagi apa yang akan menjadi lokasi manufaktur yang berkelanjutan dan maju," kata Robin Ren, wakil presiden penjualan global Tesla dalam sebuah pernyataan, Reuters melaporkan.

Tesla tidak memberikan detail harga untuk lokasi tersebut, tetapi Biro Perencanaan dan Sumber Daya Tanah Shanghai mengatakan pada Rabu bahwa sebidang tanah seluas 864.885 meter persegi telah dilelang seharga US$140,51 juta (Rp 2 triliun).

Perang Dagang, Tesla Tetap Wujudkan Pabrik Rp 30 T di ChinaMobil Tesla (Foto: REUTERS/Mike Blake)
Tesla menandatangani kesepakatan dengan pihak berwenang Shanghai pada Juli untuk membuka pabrik dengan kapasitas produksi tahunan sebesar 500.000 mobil di kota itu.

Pabrik Tesla akan membantu memanfaatkan pasar China yang berkembang pesat untuk apa yang disebut kendaraan energi baru (NEV) bahkan ketika pasar mobil China yang lebih luas sedang melambat. Kategori ini terdiri dari baterai mobil listrik dan kendaraan hibrida listrik plug-in.

Penjualan NEV naik 54,8% pada September dan naik 81,1% dalam sembilan bulan pertama tahun ini, menjadi 721.000 kendaraan, kata asosiasi industri otomotif terkemuka di negara itu pekan lalu.



Tesla yang memulai membuka lowongan kerja untuk pabrik di Shanghai pada Agustus, sebelumnya mengatakan akan mencari pendanaan dari pasar utang Asia untuk membiayai pembangunan pabrik, yang diperkirakan akan menelan biaya sekitar US$2 miliar.
Artikel Selanjutnya

Warganet Asing Heboh Tesla Bakal Bangun Pabrik di Indonesia


(prm)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading