Pasokan Minyak Sawit B20 Seret, Salah Siapa?

News - Anastasia Arvirianty, CNBC Indonesia
24 September 2018 10:18
Para pemangku kepentingan saling lempar tangan soal seretnya pasokan minyak sawit untuk bahan baku B20
Jakarta, CNBC Indonesia- PT Pertamina (Persero) mengakui, dalam pelaksanaan mandatori B20, perusahaan masih mengalami kekurangan pasokan FAME (Fatty Acid Methyl Ester) dari Badan Usaha yang memproduksi Bahan Bakar Nabati (BBN). 

"Seluruh instalasi Pertamina sudah siap blending B20. Namun penyaluran B20 tergantung pada pasokan FAME, yang hingga saat ini pasokan belum maksimal didapatkan," kata Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati, melalui keterangan resminya, Jumat (21/9/2018).




Lebih lanjut, Nicke menuturkan, dari 112 terminal BBM yang dimiliki perusahaan migas pelat merah ini, baru 69 terminal BBM yang sudah menerima penyaluran FAME. Sementara, sebagian besar daerah yang belum tersalurkan FAME berada di kawasan timur seperti Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua, dan Sulawesi.

Sedangkan, total kebutuhan FAME Pertamina untuk dicampurkan ke solar subsidi dan non subsidi yaitu sekitar 5,8 juta kiloliter per tahun, dan total konsumsi solar subsidi dan non subsidi 29 juta kiloliter per tahun.

Kebalikan dari Nicke, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi memastikan tidak ada kendala dalam distribusi minyak sawit sebagai bahan baku B20 di pelabuhan-pelabuhan yang berada di bawah otoritas Kementerian Perhubungan.

Kalaupun ada kendala distribusi, lanjutnya, hal itu lebih disebabkan koordinasi yang belum optimal dalam rantai pasok bahan baku dari Badan Usaha yang memproduksi Bahan Bakar Nabati (BBN) ke Pertamina atau distributor BBM lainnya yang melakukan proses produksi dan distribusi B20.

"Saya pikir B20 ini satu program yang baru, kita mencari cara terbaik untuk melakukan itu. Kalau kita mikir di meja kan, hari ini kita ngomong, maunya besok ada kan, padahal infrastruktur belum tentu ada," kata Budi Karya usai gelaran HUBRUN di Gelora Bung Karno, Minggu (23/9/2018) pagi.

Pasokan Minyak Sawit B20 Seret, Salah Siapa?Foto: Peluncuran Mandatori B20 di Lapangan Kementerian Keuangan, Jumat (31/8/2018) (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)


"Nah buatlah perencanaan yang pasti, siapa yang akan mensuplai, periode waktunya, siapa yang menyediakan kapal pengangkut untuk pengiriman, siapa yang akan menerima. Kalau sudah terencana, tentu akan berjalan. Jadi saya pikir kalaupun ada kendala, hanya soal belum adanya koordinasi yang maksimal," imbuhnya.

Sebagai informasi, FAME adalah unsur nabati yang dibutuhkan perseroan untuk memproduksi biodiesel 20% atau B20, di mana bahan utama FAME ini adalah minyak kelapa sawit. 

Merinci lebih jauh, dalam paparannya, Pertamina pernah menyebutkan, kendala yang dihadapi dalam B20 yakni:

1. Perbedaan harga acuan Solar untuk pembiayaan FAME PSO dan FAME non-PSO, sehingga BU BBN tidak bersedia menyalurkan FAME PSO untuk konsumen non-PSO (konsumen dilayani B0 meski ada FAME di Terminal BBM).

2. Kesanggupan badan usaha (BU) BBN untuk supply perdana FAME non-PSO ke Terminal BBM Utama (Wayame, Baubau, Kupang, Tanjung Wangi, Bitung, Tanjung Uban) adalah di minggu ke-4 September 2018 sehingga pendistribusian B20 dari TBBM utama ke end terminal BBM tertunda.

Menanggapi hal ini, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar mengakui memang masih ada kendala dalam penyaluran FAME (Fatty Acid Methyl Ester) dalam penerapan mandatori B20.

"Memang ada kendala di lapangan, teknis, distribusi, dan sebagainya. Kami berusaha agar ini bisa diatasi," ujar Arcandra kepada media saat dijumpai di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (21/9/2018).

Sedangkan, menurut Dirjen EBTKE Kementerian ESDM Rida Mulyana, kendala penyaluran FAME tidak melulu soal harga, tapi lebih kepada rantai pemasok FAME. "Menurut saya ini tidak ada kaitannya melulu dengan harga, dan hanya melulu karena kendala pada supply chain fame. Ada info akan dibentuk tim khusus terkait supply chain fame ini yang dimotori oleh Kemenko Bidang Perekonomian," ujar Rida kepada CNBC Indonesia, saat dihubungi Jumat (21/9/2018).

Adapun, Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan tidak membantah adanya kendala pengiriman minyak sawit ke wilayah Indonesia Timur seperti NTT, kondisi cuaca dan ombak besar juga bisa memperlambat waktu pengiriman.

"Tentunya ada sebabnya mengapa sampai saat ini masih ada beberapa titik yang masih belum terpasok. Namun, masing-masing titik terdapat hal yang berbeda, dan tidak bisa disamakan," ujar Paulus kepada CNBC Indonesia saat dihubungi, Jumat (21/9/2018).

Ia pun menambahkan, kendala tersebut sedang diupayakan untuk diatasi, dan sedang dilakukan koordinasi dengan berbagai pihak yang difasilitasi oleh Dirjen Migas dan Kemenko Bidang Perekonomian.
(gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading