Internasional

Lira Turki Krisis, Beban Utang Negara Asia Meningkat

News - Bernhart Farras, CNBC Indonesia
20 August 2018 14:56
TOKYO, CNBC Indonesia - krisis mata uang lira Turki menambah masalah finansial pada negara-negara berkembang di Asia yang telah mengambil pinjaman besar untuk proyek-proyek infrastruktur di bawah inisiatif Belt and Road China yang membutuhkan dana besar.

Krisis lira telah memaksa negara-negara Asia untuk mempertimbangkan kenaikan suku bunga acuan, Bank Indonesia sudah menaikkannya minggu lalu, untuk menstabilkan mata uang yang terus melemah. Jika gagal mengendalikan, pelemahan nilai tukar ini akan menambah biaya pembayaran utang yang melemahkan stabilitas keuangan.

Pinjaman uang dari China membantu negara-negara berkembang membayar untuk perbaikan infrastruktur yang mereka butuhkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi biaya pembayaran utang yang besar dapat merusak stabilitas keuangan mereka.


The Center for Global Development, sebuah lembaga think tank Amerika Serikat (AS), mengatakan Laos, Maladewa, Mongolia, Pakistan dan empat negara lain yang mengambil bagian dalam proyek Belt and Road sudah dalam ambang risiko.

Di Mongolia, hutang luar negeri sudah sekitar delapan kali cadangan devisa negara. Utang luar negeri Laos dan Kyrgyzstan melebihi 100% dari produk domestik bruto

Negara-negara yang berutang sangat rentan terhadap depresiasi mata uang mendadak. Ketika mata uang mereka nilainya jatuh, semakin sulit bagi mereka untuk melunasi utang-utang mereka, yang biasanya dalam mata uang dolar.

Lira Turki Krisis, Beban Utang Negara Asia MeningkatFoto: IST

China telah berkembang sebagai pemodal global dan mulai mengikis pengaruh International Monetary Fund (IMF).

IMF telah lama bertindak sebagai pemberi pinjaman bagi dunia. Solusi kebijakan untuk menyelamatkan negara-negara yang bermasalah secara finansial dengan syarat reformasi fiskal, yang dijuluki "Konsensus Washington," yang telah terbukti membantu meredam krisis mata uang Meksiko tahun 1994-1995 dan krisis mata uang Asia tahun 1997, yang keduanya dipicu oleh pengetatan moneter AS.

Tetapi tidak ada negara yang senang mengambil bantuan dari IMF karena diberikan sebagai imbalan untuk langkah-langkah penghematan yang ketat. Dengan China muncul sebagai pemberi pinjaman alternatif, beberapa negara secara alami mengubah sumber dana mereka dari IMF bahkan jika akan terkena kekuatan pasar yang tidak dapat diprediksi.

Turki, negara yang inti dari gejolak keuangan saat ini, dengan gigih menolak bantuan IMF. Dan Pakistan juga sama-sama menentang.

(roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading