Internasional

Harley-Davidson, Simbol AS yang Jadi Korban Perang Dagang

News - Ester Christine Natalia, CNBC Indonesia
19 July 2018 15:04
Harley-Davidson, Simbol AS yang Jadi Korban Perang Dagang
Jakarta, CNBC Indonesia - Bagi semua orang di seluruh dunia, Harley-Davidson melambangkan Amerika Serikat (AS). Identitas itulah yang berada di barisan terdepan dan pusat dari perang dagang Presiden AS Donald Trump.

Perusahaan itu menjadi salah satu target dari bea masuk Uni Eropa (UE) terkini dan nampaknya sekarang berada di sisi buruk sang presiden. Namun, beberapa dekade lalu, identitas AS menjadi penyelamat Harley dari keterpurukan.

Pada akhir 1970-an, Harley Davidson mengalami masalah berat. Kualitas sepeda motornya anjlok dan industri sepeda motor AS direbut oleh merek-merek Jepang. Pangsanya di pasar motor gede (moge) AS anjlok dari 75% di awal 1970-an menjadi hanya 25% di awal 1980-an.

Situasi itu sangat buruk sehingga sekelompok pejabat eksekutif Harley yang dipimpin oleh CEO Vaughn Beals membeli perusahaan itu dari AMF, pemilik sebelumnya, di tahun 1981. Mereka meluncurkan stategi ambisius untuk merombak perusahaan. Mereka memangkas tenaga kerja, memperbaiki kualitas, kemudian meminta bantuan Komisi Perdagangan Internasional (International Trade Commission/ITC) terkait kompetisi luar negeri.


Di tahun 1983, Presiden AS Ronald Reagan menaikkan tarif 45% untuk moge yang masuk ke AS. Inisiatif itu membantu memperlambat perkembangan produsen sepeda motor Jepang. Saat berbicara di fasilitas Harley di York, Pennsylvania pada tahun 1987, Reagan menyatakan, "Rasanya seperti memberi seorang petinju latihan ekstra selama beberapa pekan sebelum bertarung".

Harley-Davidson terus melakukan kemunculan kembali yang bersejarah. Pada tahun 1987, perusahaan itu melantai di New York Stock Exchange (NYSE) dan pada tahun 1989 merebut kembali hampir 50% pangsa pasar moge.

Jika di masa lalu tarif membantu Harley bertahan, tarif dalam perang dagang ini kemungkinan akan menghantamnya, demikian dilansir dari CNBC International hari Kamis (19/7/2018).


Sampai tahun 2014, Harley-Davidson menguasai 35% pangsa pasar di AS, paling tinggi jika dibandingkan dengan produsen sepeda motor lainnya. Meskipun begitu, penjualannya menurun.

Penjualan Harley di seluruh dunia anjlok dari di atas 260.000 di tahun 2016 menjadi di bawah 243.000 di tahun 2017. Sementara di tahun yang sama, Honda menjual lebih dari 17,6 juta unit dan mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya.

Harley bisa saja memiliki pangsa pasar terbesar di dalam negeri, tetapi di luar negeri perusahaan itu dikalahkan oleh jutaan kompetitor.

Tarif dari UE memberi tekanan yang lebih besar ke Harley. Pilihannya adalah mereka harus meneruskan ongkos ke konsumen sehingga membuat harga sepeda motor, yang memang sudah mahal, menjadi lebih mahal jika dibandingkan dengan kompetisi. Pilihan lain adalah perusahaan harus menyerap ongkos sendiri dan menurunkan marjin laba.

Untuk melawan hal tersebut, Harley sudah membicarakan upaya menghindari tarif dengan mengalihkan lebih banyak pabrik ke luar AS. Keputusan itu membuat Presiden Trump marah. Di Twitter, dia berkata pemerintahannya sekarang akan bekerjasama dengan perusahaan sepeda motor lain yang ingin pindah ke AS.

Di tahun 1980-an, Harley adalah sebuah perusahaan independen dan melejit dengan presiden yang memihak padanya. Reli yang dilakukan untuk merayakan pergerakan tersebut dikenal dengan sebutan "The Eagle Soars Alone" atau Elang Melayang Sendirian.

Kini, ungkapan itu masih terasa relevan meski bukan dalam konteks perayaan lagi. (prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading