Impor Migas Naik, Defisit Neraca Perdagangan Membengkak

News - Anastasia Arvirianty, CNBC Indonesia
11 July 2018 08:43
Data BPS menunjukkan, impor migas pada Mei 2018 lalu merupakan impor tertinggi sejak 2015.
Jakarta, CNBC Indonesia - Dalam rilis statistik untuk Mei 2018 kemarin, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada tahun ini, sepanjang Januari - Mei 2018 neraca perdagangan Indonesia masih mengalami defisit US$ 2,83 mliar, lantaran impor yang melonjak lebih tinggi dibandingkan ekspor.

"Defisit (neraca perdagangan Mei 2018) sebenarnya banyak dipengaruhi oleh sektor migas, selalu, kalau kita bicara soal migas itu selalu negatif terus sejak beberapa tahun terakhir ini," ujar Direktur Statistik Distribusi BPS, Anggoro Dwitjahyono, kepada CNBC Indonesia, Selasa (10/7/2018).

Menurut data dari lembaga statistik pelat merah tersebut, defisit migas konstan terjadi di neraca perdagangan Indonesia sejak 2013. Jumlah impor yang tinggi tak sebanding dengan produksi migas telah lama membuat neraca perdagangan Indonesia kewalahan. 


Data BPS menunjukkan, impor migas pada Mei 2018 lalu merupakan impor tertinggi sejak 2015. Impor tinggi ini menjadi penyumbang besar pada defisitnya neraca perdagangan Indonesia di periode tersebut.

Berdasarkan data BPS yang didapat oleh CNBC Indonesia, pada periode Mei 2018 impor migas tercatat sebesar US$ 2,81 miliar atau setara Rp 40,42 triliun.

"Impor ini tertinggi sejak 2015, sehingga secara total impor, merupakan angka tertinggi. Baru kali ini sepanjang sejarah, impor tinggi, dan menurut kami ini di luar kebiasaan," tutur Anggoro.

Total impor yang tinggi tersebut pun menjadi faktor utama yang memengaruhi defisit neraca perdagangan pada Mei 2018. Anggoro mengatakan, defisit neraca perdagangan migas sudah terjadi sejak beberapa tahun lalu.

Lalu, dari mana negara asal datangnya minyak-minyak tersebut? 

Masih dari data BPS yang didapat CNBC Indonesia, negara setidaknya mengimpor minyak dari 9 negara yakni; Arab Saudi, Nigeria, Australia, Angola, Azerbaijan, Singapura, Malaysia, Korea Selatan, dan Qatar. Minyak yang didatangkan berupa minyak mentah dan juga hasil minyak (seperti BBM/bensin).

Untuk minyak mentah, total impor untuk minyak mentah adalah 8,01 ton dengan nilai CIF (Cost, Insurance, and Freight) mencapai US$ 4,03 miliar atau setara dengan Rp 57 triliun. Berikut adalah daftar negara importir hingga Mei 2018:
  • Arab Saudi 1,9 ton
  • Nigeria 1,9 ton
  • Australia 0,652 ton
  • Angola 0,604  ton
  • Azerbaijan 0,619  ton
  • Lainnya 2,2 ton
Sementara untuk hasil minyak (BBM), total impor hasil minyak lebih tinggi ketimbang impor minyak mentah, yakni mencapai 10,2 ton dengan nilai US$ 6,7 miliar atau Rp 95 triliun. Dari data di atas, dua impor minyak tersebut dijumlah menghabiskan uang negara sebanyak Rp 152 triliun. Berikut adalah daftar negara importir hingga Mei 2018: 
  • Singapura 6,4 ton
  • Malaysia 1,52 ton
  • Korea Selatan 0,925 ton
  • Qatar 0,380 ton
  • Arab Saudi 0,395 ton
  • Lainnya 0,520 ton 


Artikel Selanjutnya

Dari Arab Sampai Singapura, Ini 9 Negara Asal Impor Minyak RI


(roy)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading