Hadapi Ancaman Perang Dagang Trump, Ini Opsi RI

News - Raditya Hanung, CNBC Indonesia 06 July 2018 16:07
Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) membangun kembali hegemoninya dengan slogan "To Make America Great Again". Di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, AS menebar ancaman ke seluruh dunia terkait perdagangan.

Menurut Trump, Negeri Paman Sam banyak dizalimi oleh berbagai negara. Praktik perdagangan yang kurang sehat ini menghasilkan defisit perdagangan yang dalam. Pada 2017, AS membukukan defisit perdagangan mencapai US$795,69 miliar, tertinggi sejak 2008.

Hadapi Ancaman Perang Dagang Trump, Ini Opsi RIFoto: CNBC Indonesia


Trump yang memegang teguh prinsip America First meradang. Menurutnya, defisit ini menunjukkan barang-barang impor terus membanjiri pasar domestik AS sehingga mengganggu industri dalam negeri dan menyebabkan banyak orang menganggur.


Oleh karena itu, Trump pun melakukan aksi proteksi perdagangan. Caranya, dengan mengubah berbagai aturan, utamanya menaikkan bea masuk. Kini, berbagai produk impor harus membayar bea masuk sehingga biaya importasi menjadi mahal. Kebijakan ini diharapkan bisa menekan impor dan membangkitkan produksi dalam negeri.

Sasaran utama Trump sebenarnya adalah China. Negeri Tirai Bambu memang menikmati surplus perdagangan dengan AS dalam jumlah yang signifikan. Tahun lalu, AS tekor US$375,58 miliar saat berdagangan dengan China. Jumlah ini nyaris 50% dari total defisit perdagangan AS.

Pada 6 Juli pukul 00:01 waktu setempat, AS akan mulai menerapkan bea masuk sebesar 25% kepada 818 produk China senilai US 34 miliar. Tidak berhenti di situ, Trump juga menegaskan bakal menambah daftar produk China yang kena bea masuk menjadi senilai lebih dari US$ 500 miliar.

Meski kebanyakan menyasar China, tetapi serangan Trump juga melebar ke kawasan lain yang dianggap terlalu lama mengambil keuntungan kala berdagang dengan AS. Kanada, Meksiko, sampai Uni Eropa sudah merasakan 'tembakan' Trump.

Kini, kabarnya Indonesia pun ikut terseret. Adalah Sofjan Wanandi, Ketua Tim Ahli Wakil Presiden, yang mengungkapkan Trump akan mencabut sejumlah perlakukan khusus yang saat ini diberikan ke Indonesia.

"Trump sudah kasih warning ke kita karena kita surplus. Beberapa special treatment yang dia beri ke kita mau dia cabut, terutama untuk tekstil," katanya.

Berdasarkan data United Nations International Trade Statistics Database (UN Comtrade Database), sepanjang 2017, Indonesia memang menikmati surplus US$9,59 miliar atau sekitar Rp 134 triliun (kurs Rp 14.000) dengan AS.

"GSP (Generalized System of Preference) kita sedang di-review, dan ada sekitar 124 produk dan sektor yang saat ini sedang dalam review. Ada kayu plywood, cotton, macam-macam. Ada juga produk-produk pertanian, udang dan kepiting kalau enggak salah. Ini saya lagi lihat daftarnya juga," kata Shinta Widjaja Kamdani, Anggota Tim Ahli Wakil Presiden.

GSP adalah semacam sistem penghapusan bea masuk untuk produk impor dari negara yang dianggap AS sektor industrinya masih berkembang. Jika memang akhirnya sejumlah produk Indonesia dicabut dari daftar GSP, tentunya ekspor Indonesia ke AS akan lebih mahal gara-gara bea masuk yang lebih tinggi. Permintaan pun akan berkurang.

TIM RISET CNBC INDONESIA


(roy/roy)
1 dari 3 Halaman
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading