Internasional

China Berhenti Jadi Penampung Sampah, Dunia Kebingungan

News - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
17 April 2018 14:34
China Berhenti Jadi Penampung Sampah, Dunia Kebingungan
Jakarta, CNBC Indonesia - Selama beberapa dekade China telah menjadi importir sampah terbesar dunia, sebuah gelar yang dianggap remeh oleh banyak negara. Namun, China kini mengejutkan dunia dengan memutuskan untuk berhenti menampung 24 jenis sampah mulai tahun 2018.

Lebih dari tiga bulan sudah larangan tersebut dijalankan, negara-negara eksportir sampah masih terus mencari alternatif negara selain China, kata beberapa ahli kepada CNBC International.


Laporan media menunjukkan beberapa solusi telah diupayakan, misalnya Uni Eropa yang mengatakan tengah mempertimbangkan pengenaan pajak untuk penggunaan plastik, Inggris berencana membuang sebagian sampahnya ke Asia Tenggara, dan Amerika Serikat (AS) meminta China mencabut larangannya. Namun menurut para ahli, tidak ada satupun dari langkah-langkah tersebut yang bisa menjadi solusi jangka panjang bagi tatanan global baru dalam pengelolaan sampah.

AS, Inggris, Uni Eropa, dan Jepang merupakan beberapa dari banyak negara yang mengeskpor sampah terbanyak ke China.

Untuk keempat eksportir yang menolak larangan tersebut, "larangan China untuk mengimpor limbah berarti mengurangi saluran pembuangan sampah utama mereka, yang telah menimbulkan masalah tidak terduga dalam waktu singkat," kata Neil Wang, presiden lembaga konsultasi Frost dan Sullivan untuk wilayah China.

"Mereka belum menemukan solusi efektif untuk jangka pendek. Negara pengekspor sampah terbanyak masih mencari jalan keluar dari masalah ini," tambahnya.

Sebelum larangan diterapkan, China menampung hampir 9 juta metrik ton potongan plastik dalam setahun, menurut Greenpeace, dilansir dari CNBC International.

China mulai menampung sampah sejak tahun 1980-an untuk dijadikan bahan bakar sektor manufakturnya yang sedang tumbuh. Negara itu juga mengembangkan industri pengolahan dan daur ulang limbah secara keseluruhan, tetapi penanganan sampah yang tidak tepat dan kurangnya pengawasan yang efektif mengubah China menjadi pencemar lingkungan utama di dunia.

China, yang saat ini menjadi perekonomian terbesar kedua di dunia, tengah berusaha keras membersihkan udara, air, dan lingkungannya yang tercemar. Di bawah pimpinan Presiden Xi Jinping, negara itu telah menutup puluhan ribu pabrik yang menyebabkan polusi, mendorong lebih banyak penggunaan energi terbarukan, dan berupaya menjadi perekonomian yang hijau.

Sayangnya, China masih jauh dari tujuannya. Sebuah penelitian yang dirilis pada bulan Maret oleh Universitas Chicago menunjukkan level polusi udara di sekitar China masih melebihi tingkat standar dunia yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Namun, larangan impor 24 jenis sampah yag diumumkan bulan Juli 2017 dan yang baru diterapkan pada bulan Januari 2018, dipuji oleh pecinta lingkungan sebagai kemenangan besar bagi upaya penghijauan dunia. Larangan China, kata mereka, tidak hanya akan membersihkan negaranya, tetapi juga memaksa negara lain untuk mengelola sampah mereka dengan lebih baik.

"Aturan ini akan mengejutkan dunia dan memaksa banyak negara untuk berhenti bersikap tidak memedulikan sampah," ujar Liu Hua, aktivis kampanye antiplastik di Greenpeace Asia Timur pada bulan Desember, dan menyebut langkah yang diambil Beijing sebagai "sebuah ajakan bagi dunia".

Namun, hal itu juga bisa disebut sebagai sebuah ajakan bagi para investor untuk berinvestasi di bisnis daur ulang di negara-negara berkembang.

Impor limbah padat China (sudah termasuk plastik, kertas, dan logam) turun 54% pada kuartal pertama 2018 setelah ditetapkannya larangan pada bulan Januari, menurut data kepabeanan China.

Pada periode yang sama, beberapa negara Asia Tenggara, seperti Vietnam, Malaysia, dan Thailand, melaporkan adanya lonjakan impor limbah, sebuah indikasi bahwa sampah dialihkan ke negara-negara tersebut. Namun, para ahli mengatakan mereka tidak berpikir negara-negara ini dapat menampung semua sampah yang ditolak China.



Lawrence Loh, seorang profesor di National University of Singapore, mengatakan polusi udara akibat pembakaran hutan telah melanda negara-negara Asia, dan menampung sampah bukanlah masalah tambahan yang mereka inginkan. Ia mengimbau agar negara-negara di dunia mulai mencari solusi terhadap sampahnya.

"Dalam jangka panjang, masalahnya harus diselesaikan dari sumbernya. Amerika Utara dan Eropa Barat harus mengambil upaya yang jelas dan sadar untuk mengurangi pemborosan sampah. Bukannya mencari tempat pembuangan lainnya. Negara-negara maju harus memikul tanggung jawab, mengurangi penumpukan limbah melalui praktik berkelanjutan," ujarnya. (prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading