Setelah PLN, Giliran Petrokimia Minta Harga Batu Bara Khusus

News - Samuel Pablo, CNBC Indonesia
05 April 2018 15:04
Setelah pemerintah memberikan harga khusus batu bara di bawah harga pasar untuk PLN, kini giliran industri petrokimia yang meminta harga murah untuk batu bara.
Jakarta, CNBC Indonesia- Setelah pemerintah memberikan harga khusus batu bara di bawah harga pasar untuk PLN, kini giliran industri petrokimia yang meminta harga murah untuk batu bara.

Direktur Jenderal Industri Kimia, Tekstil dan Aneka (IKTA) Achmad Sigit Dwiwahjono mengatakan permintaan harga DMO khusus ini untuk batu bara berkalori rendah yang digunakan industri petrokimia, yakni kisaran 2500-3000 kalori.




"Butuh kriteria harga batubara untuk bahan baku yang harus dijamin oleh pemerintah, kami sedang bicara dengan ESDM. Untuk low rank 2.500-3.000 kalori harganya berapa,kita butuh semacam DMO," kata Sigit, Kamis (05/04/2018).

Sigit menjelaskan, harga yang ekonomis menurut kebutuhan teknologi saat ini kurang lebih US$ 15-20/ton untuk batu bara 2.000 cal. "Itu kan sekarang nggak ada yang mau. 3.000 cal saja nilai bakarnya lebih rendah daripada kayu tapi kan bisa diolah dengan teknologi tertentu, hanya harga harus terjamin," jelas Sigit.

Sigit berharap secepatnya ada keputusan dan kepastian harga batubara low rank yang diatur pemerintah melalui Peraturan Menteri ESDM. "Semakin cepat semakin baik karena investor sudah menunggu," pungkasny

Corporate Secretary PT Chandra Asri Petrochemical, Tbk. (CAP) Suhat Miyarso mengatakan untuk melakukan proses gasifikasi, Chandra Asri dan perusahaan petrokimia lain ke depannya membutuhkan kepastian harga batu bara. Menurutnya, harga yang dapat diterima kira-kira sekitar US$ 30/ton untuk batu bara berkalori maksimum 5.000 cal.

"Yang feasible dengan harga hari ini itu kira-kira di bawah 30 dollar per ton untuk 5.000 kalori ke bawah. Ya, sekitar 30 dollar lah. Untuk itu kita minta penghilangan royalti yang biasanya dipungut oleh pemerintah, kalau bisa dihilangkan lah biar kita bisa ubah jadi chemical ," ujar Suhat di sela Indonesia Industrial Summit 2018.
(gus/gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading