Internasional

Data Bocor, Inggris dan AS Akan Investigasi Facebook

News - Ester Christine Natalia, CNBC Indonesia
20 March 2018 12:28
Otoritas Inggris dan AS mengatakan akan menyelidiki penyalahgunaan data oleh perusahaan konsultan kampanye pilpres Donald Trump, Cambridge Analytica.
Washington, CNBC Indonesia - Saham Facebook anjlok pada hari Senin (19/3/2018) setelah raksasa media sosial tersebut dilanda kritik baik dari dalam maupun luar negeri menyusul terungkapnya kasus penyalahgunaan data 50 juta penggunanya oleh perusahaan yang bekerja untuk kampanye kepresidenan Donald Trump.

Permintaan investigasi datang dari Amerika Serikat (AS) dan Inggris setelah Facebook merespons laporan media tentang penyalahgunaan data dengan menskors akun Cambridge Analytica, perusahaan asal Inggris yang dipekerjakan untuk kampanye Trump tahun 2016.

Senator Demokrat Amy Klobuchar dan senator Republik John Kennedy meminta CEO Facebook Mark Zuckerberg untuk hadir di Kongres, beserta dengan CEO Google dan Twitter, seperti dilansir dari AFP.


Para anggota dewan tersebut mengatakan perusahaan "telah mengumpulkan jumlah data pribadi yang belum pernah terjadi sebelumnya" dan kelalaian itu "meningkatkan keresahan akan integritas pemilu Amerika, serta hak privasi".


Direktur Keamanan Facebook Alex Stamos mengatakan tugasnya kini berubah menjadi berfokus pada kemunculan risiko dan keamanan pemilu di jejaring sosial global itu.

Stamos mengungkapkan perubahan itu setelah harian New York Times melaporkan ia keluar dari Facebook karena cekcok internal tentang cara menangani fakta bahwa platform perusahaan sekarang digunakan untuk menyebarkan informasi yang salah.

"Meskipun ada rumor itu, saya tetap terikat dengan pekerjaan saya di Facebook," kata Stamos dalam sebuah pesan yang diposting di akun Twitter-nya yang terverifikasi.

"Benar bahwa peran saya berubah. Saya sekarang menghabiskan lebih banyak waktu menyelidiki munculnya risiko keamanan dan bekerja pada keamanan pemilu."

Stamos menganjurkan investigasi dan pengungkapan manipulasi berita di jejaring sosial oleh entitas Rusia untuk mengecewakan eksekutif atas lainnya, menurut laporan Times, dengan mengutip sumber tanpa nama dan mantan karyawan.

Senator Ron Wyden meminta Facebook untuk menyediakan lebih banyak informasi pada apa yang disebutnya sebagai penyalahgunaan data pribadi "mengganggu" yang bisa saja menggoyahkan para pemilih.

Wyden mengatakan ia ingin tahu bagaimana Cambridge Analytica menggunakan Facebook untuk menjadikan rincian profil psikologi sebagai senjata melawan puluhan juta warga negara Amerika.

Di Eropa, pejabat menyuarakan suara serupa.

Vera Jourova, komisioner Eropa untuk keadilan, konsumen, dan kesetaraan gender, menyebut pengungkapan tersebut "mengerikan, jika benar," dan berjanji untuk membahasnya di AS pekan ini.

Menurut investigasi gabungan dari New York Times dan Observer dari Inggris, Cambridge Analytica tidak hanya dapat menciptakan profil psikologis pada 50 juta pengguna Facebook lewat penggunaan aplikasi penebak kepribadian yang diunduh oleh 270.000 orang, tapi juga meraup data dari teman-teman.

Cambridge Analytica membantah menyalahgunakan data Facebook untuk kampanye Trump.

Elizabeth Denham, Komisioner Informasi Inggris yang mengatur sektor tersebut di negaranya, mengumumkan pihaknya akan meminta surat perintah pengadilan pada hari Selasa (20/3/2018) untuk mencari server computer Cambridge Analytica.

Ia mengatakan perusahaan "tidak kooperatif" untuk permintaan akses ke rekamannya dan melewatkan tenggat waktu hari Senin yang ditentukan.

Sementara itu, Facebook mengatakan telah mempekerjakan perusahaan forensik digital untuk memeriksa bagaimana kebocoran data muncul dan untuk memastikan bahwa semua data yang dikumpulkan telah dimusnahkan.

Harga saham Facebook terperosok 6,8% saat penutupan Nasdaq di tengah keprihatinan tentang tekanan regulasi baru yang dapat merugikan model bisnisnya.

Harga saham kembali turun beberapa persen menjadi US$170 (Rp 2,3 juta) di perdagangan pasar negosiasi.

Regulasi Mandiri Tidak Berfungsi
Jennifer Grygiel, profesor Syracuse University yang mempelajari media sosial, mengatakan pengungkapan ini akan meningkatkan tekanan untuk meregulasi Facebook dan perusahaan media sosial lainnya, yang sudah diawasi untuk memperbolehkan disinformasi dari sumber langsung Rusia untuk tersebar.

"Regulasi mandiri (self-regulation) tidak berfungsi," kata Grygiel.

Daniel Kreiss, profesor media dan komunikasi di University of North Carolina, mengatakan Facebook gagal menyesuaikan diri dengan tanggung jawabnya pada iklan pemilu.

"Fakta bahwa Facebook nampaknya tidak menetapkan perbedaan antara menjual sneakers dan menjual kanal kepresidenan adalah masalah mendalam," kata Kreiss.

David Caroll, profesor media di Parsons School of Design, mengatakan Facebook dan yang lainnya sebentar lagi akan dipaksa untuk bekerja dengan peraturan privasi baru seperti yang akan berlaku di Uni Eropa.

"Facebook dan Google harus meminta banyak sekali izin dari pengguna untuk melacak mereka," kata Caroll. "Sebagian besar orang akan mengatakan tidak, jadi menurut saya ini akan memberi dampak besar pada perusahaan-perusahaan itu."

Caroll telah mengajukan tindakan hukum di Inggris untuk meminta Cambridge Analytica mengungkapkan data apa yang dikumpulkan dan apa yang dilakukan dengan data-data tersebut.


Investigasi rahasia pada Cambridge Analytica oleh Channel 4 Inggris mengatakan para eksekutif sesumbar mereka bisa menjebak politisi melalui kompromi dengan suap dan pekerja seks Ukrania, serta menyebarkan keterangan yang salah secara daring.

Para eksekutif mengklaim telah menangani lebih dari 200 pemilu di seluruh dunia, termasuk Argentina, Republik Ceko, India, Kenya, dan Nigeria.

Perusahaan Inggris itu mengatakan pihaknya "membantah" klaim dari Channel 4, serta laporan tentang penyalahgunaan data Facebook.

"Data Facebook tidak digunakan oleh Cambridge Analytica sebagai bagian dari layanan yang disediakan ke kampanye kepresidenan Donald Trump," tulisnya lewat sebuah pernyataan.
(prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading