Internasional

Asia Tenggara Makin Dekat ke India Ketimbang ke AS atau China

News - Ester Christine Natalia, CNBC Indonesia
16 March 2018 19:41
Beberapa negara Asia Tenggara berusaha untuk mendiversifikasi kemitraan strategisnya, Beijing dan Washington, kata Council on Foreign Relations.
Jakarta, CNBC Indonesia - Beijing dan Washington sudah lama menjadi kekuatan dominan di Asia Tenggara, tempat beberapa negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia. Namun, kawasan ini semakin gencar mencari sekutu alternatif di tengah kegelisahan atas pengaruh China yang meningkat dan kebijakan Gedung Putih yang tidak bisa diprediksi.

"Beberapa negara Asia Tenggara sekarang berusaha untuk mendiversifikasi kemitraan strategisnya, selain pilihan ganda antara Beijing dan Washington," kata Dewan Hubungan Luar Negeri (Council on Foreign Relations), sebuah think tank asal Amerika Serikat (AS), lewat sebuah laporan pekan ini.


Elemen kunci dari usaha diversifikasi tersebut adalah bekerja sama dengan India "sebagai pengimbang yang lebih kuat untuk China dan patokan dari Amerika Serikat yang menurun," kata catatan tersebut, dilansir dari CNBC International hari Jumat (16/3/2018).


Negara-negara di Asia Tenggara juga melirik Australia sebagai mitra potensial lainnya.

Organisasi Negara-negara Asia Tenggara (Association of Southeast Asian Nations/ASEAN) dan Canberra sedang mengadakan pertemuan khusus dari tanggal 16 Maret sampai 18 Maret. Pertemuan ini adalah sebuah pertanda bahwa blok yang terdiri dari 10 negara ini sedang menjelajahi berbagai strategi pembatasan dari pengaruh Beijing, kata Geoff Rabu, mantan Duta Besar Australia untuk China.

Kesepakatan dagang seperti Perjanjian Komprehensif dan Progresif bagi Kemitraan Trans-Pasifik (The Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership/ CPTPP) yang baru saja ditandatangani, serta usaha berbagi di bidang intelijen dalam penanggulangan terorisme juga mengindikasikan pimpinan Asia Tenggara mengincar kerja sama kawasan yang lebih besar.

AS 'Semakin Tidak Bisa Diandalkan'
Beberapa negara, seperti Kamboja dan Thailand, telah mengisyaratkan penolakannya terhadap semakin tingginya pengaruh Beijing di areanya yang terlihat dari derasnya arus proyek infrastruktur yang dibiayai China di bawah Belt and Road Initiative dan pulau buatan China di Laut China Selatan.

Namun yang lain, termasuk Vietnam, secara publik telah mengungkapkan tentangan terhadap sikap China di kawasannya.

Sebelumnya, negara-negara itu bisa beralih ke Washington, tetapi langkah-langkah kontroversial Presiden AS Donald Trump, mulai dari penetapan bea impor untuk baja dan aluminium asing sampai memecat Menteri Luar Negeri Rex Tillerson, telah membuat sekutu Asia AS terkejut, menurut para ahli.

"Cara Donald Trump menangani pengunduran diri Tillerson, jika dikombinasikan dengan keputusannya untuk bertemu Kim Jong Un dan aksi-aksi yang baru-baru saja terjadi, memperkuat persepsi tentang AS di Asia dan AS yang semakin tidak bisa diandalkan," kata Philip Yun, Direktur Eksekutif Ploughshares Fund, sebuah grup antisenjata nuklir.

Masyarakat di kawasan ini memperhatikan fakta bahwa Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe "yang sudah memuji relasi dekatnya dengan Trump, dibutakan oleh kesepakatan pertemuan AS-Korea Utara dari Trump," kata Yun.


Yun juga menyebutkan komentar terbaru Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong. Pekan ini, Lee mengatakan ASEAN harus menyesuaikan diri terhadap keseimbangan kekuatan baru di Asia. Ia mengusulkan blok tersebut untuk lebih melirik China dan India.

AS masih diprediksi akan meneruskan hubungan pertahanan yang kuat dengan negara-negara Asia Tenggara dalam permasalahan, seperti sengketa di Laut China Selatan.

Kebangkitan India di Asia Tenggara
Ketakutan yang meluas akan ambisi-ambisi China telah membantu Perdana Menteri India Narendra Modi memperluas ikatan politik dan ekonomi dengan perekonomian Asia Tenggara melalui kebijakan yang dijuluki "Act East".

Hanoi, contohnya, bermitra dengan New Delhi dalam isu Laut China Selatan. Pada rapat awal bulan ini, Modi dan Presiden Vietnam Tran Dai Quang berkomitmen untuk lebih melindungi kesepakatan peralatan pertahanan dan eksplorasi gabungan di jalur laut internasional itu, yang memicu kritik dari Beijing.

Vietnam juga memperkuat relasinya dengan kekuatan kawasan lainnya yang skeptis atau langsung bermusuhan dengan China, kata Council on Foreign Relations.

Pada bulan Januari, India mengundang 10 pemimpin ASEAN sebagai tamu utama di perayaan tahunan Republic Day untuk pertama kalinya dalam sejarah. Di bulan yang sama, New Delhi juga mengundang politisi-politisi tersebut ke pertemuan tingkat tinggi yang bertujuan untuk meningkatkan keamanan maritim.

Setiap pemimpin ASEAN ingin New Delhi memainkan peran yang lebih tegas di kawasan Indo-Pasifik, kata Preeti Saran, Menteri Hubungan Luar Negeri India yang dikutip oleh CNBC International.

India juga pemain utama di aliansi pertahanan informal yang kembali dibangkitkan dan dikenal dengan sebutan "The Quad". Aliansi ini bertujuan untuk mengimbangi ekspansi maritim China.

Sementara Vietnam, Singapura, dan Indonesia secara bertahap menganut konsep peran India yang lebih tegas di Asia Tenggara, negara lain seperti Filipina dan Malaysia tetap bungkam tentang hal ini, kata Manoj Joshi, peneliti kehormatan di think tank India, Observer Research Foundation, dalam sebuah laporan di bulan Februari.

Australia Pun Ambil Bagian
Seperti India, Australia bukanlah anggota ASEAN. Namun, Canberra telah lama menjadi pemain utama di hubungan Asia-Pasifik karena kedekatan lokasinya.

Pertemuan tingkat tinggi akhir pekan ini antara pemimpin ASEAN dan Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull "belum pernah terjadi sebelumnya," menurut Raby. "Lima, tepatnya 10 tahun lalu, ini tidak akan mungkin terjadi, pemimpin ASEAN tidak akan datang ke Australia. Mereka tidak akan merangkul Australia dengan cara seperti ini."


Ketidakpastian akan China dan AS mendorong Asia Tenggara ke Australia, kata Raby.

Keagresifan dan ketegasan kebijakan luar negeri China di Asia Tenggara memotivasi pemerintah regional untuk mengusahakan adanya penyeimbang terhadap sikap Beijing itu," katanya.

Apalagi, ASEAN cemas tentang seberapa dekat AS dengan Asia Timur di tengah ketidakpastian kebijakan Trump, kata Raby.
(prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading