Dunia Kacau Balau! Tak Diduga, Indonesia Sudah Kena Getahnya

Market - Maesaroh, CNBC Indonesia
05 October 2022 13:25
Kemenkeu RI Raih The Best Ministry di CNBC Indonesia Award 2019 (CNBC Indonesia TV) Foto: Kemenkeu RI Raih The Best Ministry di CNBC Indonesia Award 2019 (CNBC Indonesia TV)

Jakarta, CNBC Indonesia - Peminat dalam lelang Surat Utang Negara (SUN) ataupun Surat Berharga Negara Syariah (SBSN) anjlok dalam sebulan terakhir. Hal ini disebabkan oleh kekacauan global yang diikuti oleh kenaikan suku bunga acuan di dalam negeri dan global sehingga membuat investor lebih memilih menanam investasi ke instrumen lain ataupun tempat lain.

Pada lelang SBSN, Selasa (4/20/2022), jumlah penawaran yang masuk hanya Rp 7,05 triliun atau yang terendah sepanjang tahun ini.

Pada lelang SUN pekan lalu, total penawaran yang masuk mencapai Rp 23,67 triliun. Jumlah tersebut adalah yang terendah kedua sepanjang tahun ini setelah lelang pada 10 Mei 2022 (Rp 19,74 triliun).

Jumlah penawaran yang masuk pada lelang SUN pekan lalu bahkan tidak mencapai setengah dari yang tercatat pada lelang sebelumnya (Rp 52,06 triliun).


Merujuk data Kementerian Keuangan, rata-rata penawaran yang masuk pada lelang SUN tahun ini mencapai Rp 48,64 triliun. Termasuk di dalamnya adalah dari investor asing sebesar Rp 6 triliun.

Jumlah tersebut jauh lebih kecil dibandingkan pada 2021 yang mencapai Rp 75 triliun dan Rp 70 triliun pada 2020. Jumlah penawaran investor asing pada 2021 sebesar Rp 12,43 triliun sementara pada 2020 sebesar Rp 9,34 triliun. Artinya, rata-rata penawaran yang masuk dalam lelang SUN pada tahun ini anjlok 35% dibandingkan 2021 dan ambles 30,5% dibandingkan pada 2020.

Ekonom Bank Danamon Irman Faiz mengatakan appetite market untuk membeli obligasi memang menurun sejalan dengan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI). Seperti diketahui, BI mengerek suku bunga sebesar 25 basis points (bps) pada Agustus dan 50 bps pada September. Suku bunga acuan BI kini menjadi 4,25% bps.

"Appetite market untuk obligasi sekarang lebih rendah di tengah kenaikan suku bunga. Aset bank yang dialokasikan untuk obligasi sudah besar dan sekarang ekonomi mulai pulih sehingga mulai alokasinya bergeser ke kredit," tutur Irman, kepada CNBC Indonesia.

Sebagai catatan, kenaikan suku bunga acuan biasanya akan mengerek suku bunga pinjaman perbankan. Menyalurkan kredit akan menguntungkan jika suku bunga pinjaman naik. Merujuk data Kementerian Keuangan, 16 dari 19 dealer utama yang ikut dalam lelang SUN adalah bank sementara tiga lainnya perusahaan sekuritas. 

Irman menambahkan tren kenaikan suku bunga global juga membuat investor asing memilih keluar dari Indonesia dan menanamkan investasinya di luar negeri yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.

Senada, Senior Quantitative Analyst (Senior Analis) Bank Mandiri Reny Eka Putri menjelaskan risiko stagflasi dan kenaikan suku bunga di tingkat global, terutama di Amerika Serikat (AS) membuat investor kabur dari pasar SBN. 

Bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 300 bps pada tahun ini menjadi 3,00-3,25%.  Kenaikan suku bunga acuan tidak hanya melambungkan dolar AS tetapi juga yield US Treasury. Yield pada US Treasury tenor 10 tahun kini bergerak di level 3,6% yang merupakan kisaran tertingginya dalam 12 tahun terakhir.

"Dengan potensi kenaikan suku bunga yang masih akan dinaikkan secara agresif dan ditransmisikan ke kenaikan imbal hasil US treasury sehingga (akan) berpengaruh terhadap tren kenaikan yield SBN," ujar Reny.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Lima Kali Gagal, Pemerintah Akhirnya Capai Target Lelang SUN


(mae/mae)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading