Susul Euro, Poundsterling Bakal Lebih Murah Ketimbang Dolar!

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
27 September 2022 07:30
A pound coin is placed on broken glass and EU flag in this illustration picture taken January 28, 2019. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration Foto: Ilustrasi koin Poundsterling (REUTERS / Dado Ruvic)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar poundsterling Inggris jeblok ke rekor terlemah sepanjang sejarah melawan dolar Amerika Serikat (AS) awal pekan kemarin. Ke depannya, tekanan bagi poundsterling diperkirakan masih akan besar, sehingga tidak menutup kemungkinan nilainya jeblok ke bawah level paritas (GBP 1 = US$ 1).

Jika poundsterling ke bawa level paritas, maka harganya akan lebih murah ketimbang dolar AS. Euro sudah terlebih dahulu ke bawah level tersebut.

Senin kemarin, dolar AS menutup perdagangan di Rp 15.125/US$. Sementara euro lebih murah di Rp 14.530/EUR dan pounsterling di Rp 16.161/GBP.

Poundsterling kemarin siang sempat ambruk hingga 4,37% ke US$ 1.0382/GBP. Rekor terlemah poundsterling sebelumnya berada di US$ 1,0520/GBP yang tercatat pada 26 Februari 1985.

Jumat pekan lalu poundstering jeblok hingga 3,56% setelah pemerintah Inggris mengumumkan era baru perekonomian yang berfokus pada pertumbuhan, termasuk pemangkasan pajak serta insentif investasi untuk dunia usaha.

Para pelaku pasar khawatir utang Inggris akan kembali meningkat, Padahal rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) saat ini lebih dari 100%, tertinggi dalam 60 tahun terakhir. Selain itu, banyak yang menilai kebijakan tersebut akan menguntungkan bagi orang kaya.

Analis dari Citi mengatakan, Inggris risiko mengalami krisis mata uang, sebab poundsterling bisa ke bawah level paritas.

Hal senada juga diungkapkan oleh Mazen Issa, ahli strategi mata uang senior di TD Securities.

"Di bawah US$ 1,05, anda akan melihat level paritas. Kita sudah melihat euro ke bawah level paritas, saya tidak melihat alasan kenapa poundsterling tidak akan ke bawah level tersebut," kata Issa dalam acara Squawk Box Asia, CNBC International, Senin (26/9/2022).

Kebijakan pelonggaran fiskal yang dilakukan pemerintah juga berbanding terbalik dengan bank sentral Inggris (Bank of England/BoE) yang mengetatkan moneter dengan menaikkan suku bunga guna menurunkan inflasi.

Dengan pemangkasan pajak, maka likuiditas di perekonomian tentunya bertambah, dan menurunkan inflasi semakin menantang. Apalagi dengan nilai tukar poundsterling yang jeblok, tekanan inflasi tentunya menjadi semakin besar.

Perekonomian Inggris, yang oleh BoE saat ini sudah mengalami resesi, bisa mendapat masalah dalam waktu yang lama

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Dolar AS 'Sakti Mandraguna', Ini Sederet Korbannya!


(pap/pap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading