FYI Aja, Harga Timah Ambles 15% Bulan Ini...

Market - Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
27 May 2022 16:02
Dok.PT Timah

Jakarta, CNBC Indonesia - Produksi tambang timah Peru melesat 40% pada 2021 menjadi 28,9 juta ton. Peningkatan ini tak lepas dari proyek tailing B2 di tambang San Rafael.

Pertumbuhan hasil produksi tambang timah diperkirakan akan berlanjut pada 2022 dan 2023. Fitch Solution melihat pertumbuhan tambang timah akan tumbuh 1,4% pada 2022 dan 1,1% pada 2023.

Kontribusi Peru terhadap produksi timah di dunia pun melonjak. Dari 5,8% pada tahun 2018, menjadi 9% pada tahun 2021. Tahun ini kontribusi produksi tambang timah dari Peru diperkirakan mencapai 9,2% dari total produksi dunia.


Hal ini menegaskan bahwa kontribusi Peru terhadap pasokan timah dunia penting selain China dan Indonesia sebagai produsen utama China.

"Peru tetap menjadi salah satu produsen timah terbesar untuk timah konsentrat dan timah olahan. Hal ini disebabkan operasi terintegrasi penambang domestik Minsur." tulis Fitch Solution dalam risetnya.

"Tambang San Rafael terintegrasi secara vertikal dengan smelter Pisco, yang memproses keseluruhan bijih dari tambang dan memungkinkan Minsur untuk menjual timah olahan, produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi," tambahnya.

Peru mengekspor hampir seluruh produksi timahnya. Amerika Serikat, Belanda, dan Spanyol adalah tujuan utama ekspor timah Peru. Negeri Adidaya AS menyumbang 47,6% ekspor timah mentah Peru. Sementara Belanda dan Spanyol masing-masing 13,3% dan 9,1% dari total ekspor timah Peru.

Secara global, Fitch Solution memperkirakan produksi logam timah dunia akan tumbuh 5,3% pada tahun 2022 menjadi 418.000 ton.

Peningkatan produksi akan didukung oleh Indonesia, Peru, dan Bolivia pasca pandemi. Begitu juga pasokan dari Malaysia setelah force majeure menghentikan produksi MSC tahun lalu.

"Selama tahun 2022, kami mengharapkan pertumbuhan pasokan yang berkelanjutan seiring dengan realisasi proyek-proyek baru di Peru dan Malaysia," kata Fitch dalam risetnya.

Sayangnya pertumbuhan permintaan diprediksi akan lebih lambat dibanding produksi. Permintaan pada tahun 2022 diproyeksi 2% pada tahun ini menjadi 373.000 ton. Pandemi virus corona (Coronavirus Disease/Covid-19)di China jadi penghambat permintaan

Hal ini yang kemudian menekan laju harga timah hingga melorot 15% sepanjang Mei. Pada Jumat (27/5/2022) pukul 15.19 WIB harga timah dunia tercatat US$ 33.640/ton, naik tipis 0,03% dibandingkan harga penutupan kemarin.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Produksi Diramal Dunia Pulih Tahun Ini, Harga Timah Melemah


(ras/ras)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading