38 Perusahaan Bakal IPO Hingga Saran Sandi Uno Soal Kripto

Market - Teti Purwanti, CNBC Indonesia
18 May 2022 08:40
Layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (9/5/2022). (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)

4. Penopang Bundamedik Bukan Lagi Dari Covid

PT Bundamedik Tbk (BMHS) mencatatkan pertumbuhan pendapatan terkonsolidasi sebesar 49% menjadi Rp 1,71 triliun dari pendapatan di periode yang sama pada 2020 sebesar Rp 1,148 Triliun. Hasil kinerja ini ditopang pertumbuhan kuat dari seluruh lini bisnis utama atau bisnis non-covid perusahaan.

Ivan Sini, SpOG selaku Komisaris Utama BMHS mengatakan pertumbuhan tersebut turut mendorong kenaikan laba bersih perusahaan sebesar 166% menjadi Rp 315 miliar hingga kuartal IV 2021 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 118 miliar.


"Fundamental perusahaan yang kuat juga tercermin dari neraca keuangan yang sehat, sehingga memberikan ruang besar bagi perusahaan untuk mendorong pertumbuhan fase selanjutnya," kata dr Ivan dalam keterangan resmi, Selasa (17/5/2022).

Tahun ini, perusahaan juga akan untuk terus merealisasikan target ekspansi nasional dan penguatan core business dalam ekosistem BMHS. Hingga 2021, BMHS telah mampu melayani hampir 150 juta masyarakat yang tersebar 10 provinsi lewat kehadiran enam rumah sakit, 10 klinik Morula IVF, dan 34 jaringan laboratorium Diagnos.

Sebesar 67% dari total pertumbuhan pendapatan BMHS selama 2021 berasal dari pendapatan layanan rumah sakit yang naik sebesar Rp 376 miliar atau tumbuh sebesar 47%. Sementara Morula IVF yang juga merupakan salah satu bisnis utama BMHS berkontribusi sebesar 30% terhadap total pendapatan terkonsolidasi selama 2021, dengan kenaikan pendapatan mencapai Rp 169 miliar atau naik sebesar 50%. Secara keseluruhan, pendapatan dari layanan non-COVID naik sebesar 27%.

"Seluruh lini bisnis utama BMHS sukses mencatatkan sejumlah pencapaian penting selama 2021. Rumah Sakit Bunda Group berhasil membuka dua rumah sakit ibu dan anak di Bali dan Palembang di tengah pandemi," jelas dr Ivan.

Hingga 2021, total jumlah tempat tidur RSU Bunda naik 42%. Di awal 2022, sebagai pionir pengembangan inovasi bedah robotik di Indonesia, RSU Bunda juga berhasil melakukan operasi robotik pertama di Indonesia untuk pengangkatan prostat.

Selanjutnya, layanan Morula IVF, penyedia layanan bayi tabung tumbuh sebesar 42%. Di sisi lain, unit bisnis laboratorium BMHS yaitu Diagnos tumbuh dua kali lipat dengan penambahan 19 laboratorium baru di tahun yang sama. Total tes non-COVID yang dilakukan oleh Diagnos juga naik sebesar 59% selama 2021.

5. Tidak Ada Gelombang Penundaan IPO Akibat Kejatuhan IHSG

Bursa Efek Indonesia (BEI) memastikan tidak ada gelombang penundaan initial public offering (IPO) akibat kejatuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terjadi sepanjang pekan lalu.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna menyebut, hingga 10 Mei 2022, terdapat 38 perusahaan yang berada dalam pipeline pencatatan saham. Sampai saat ini, perusahaan yang berada pada pipeline pencatatan saham bursa tersebut merupakan perusahaan yang masih dalam proses IPO dan sesuai jadwal.

"Berdasarkan catatan kami sampai dengan tanggal 13 Mei 2022, dibandingkan periode yang sama tahun 2021 yang lalu, jumlah perusahaan yang melakukan penundaan IPO relatif berkurang. Kami berharap seluruh perusahaan yang berada pada pipeline pencatatan saham, dapat segera mencatatkan sahamnya di bursa," kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna Setya, kepada awak media, Selasa (17/5/2022).

Menurutnya, perusahaan yang telah merencanakan IPO dan telah menyampaikan dokumen pernyataan pendaftaran maupun permohonan pencatatan tentunya telah merencanakan rencana tersebut dengan matang. "Kami berharap, perusahaan yang berencana IPO dapat merealisasikannya sesuai rencana," imbuh Nyoman.

Penundaan IPO memang bisa saja terjadi. Penundaan ini dapat disebabkan berbagai faktor, baik faktor internal perusahaan maupun faktor eksternal perusahaan.

Faktor eksternal perusahaan diantaranya adalah kondisi pasar modal yang kurang kondusif, perubahan peraturan, dan lain-lain. Sedangkan faktor internal perusahaan misalnya perusahaan memperoleh investor strategis yang dapat mempengaruhi kebijakan perusahaan, restrukturisasi grup perusahaan.

Namun, situasi saat ini berbeda. "Kalau memang ada yang menunda, tidak kami masukkan pipeline, jadi semua masih on schedule," tegas Nyoman.

"Dalam hal kondisi ekonomi maupun pasar modal sudah relatif kondusif, kami memperkirakan perusahaan-perusahaan tersebut dapat menyampaikan kembali permohonan pencatatan kepada bursa," harap Nyoman.

Adapun hingga 17 Mei 2022, terdapat 20 emiten baru melantai di BEI. Emiten furnitur online PT Oscar Mitra Sukses Sejahtera Tbk (OLIV) atau Oscar Living resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan menjadi emiten ke-20 tahun ini.

6. Kripto Ambyar, Waktunya Beli? Jangan Buru-Buru, Baca Dulu Nih

Harga aset kripto Terra LUNA yang ambyar menyedot perhatian publik. Meski demikian, ada yang berpendapat justru saat ini adalah waktu yang tepat untuk beli mumpung harganya sedang jeblok.

Hal itu juga yang ditanyakan oleh pengusaha Sandiaga Uno, yang juga Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, kepada Timothy Ronald, Co-Founder Ternak Uang, dalam akun YouTube-nya Sandiuno TV, Minggu malam (15/5/2022).

"Ada tips buat orang-orang yang baru invest di kripto? Apalagi kripto sekarang sudah jadi means of payment," tanya Sandi.

Ya, Gucci sudah terima (pembayaran pakai) Bitcoin. Kalau saya nggak suka time the market, tapi sisihkan saja portofolionya kecil-kecil. Mungkin 2-3%, misal mau invest Rp 10 juta setiap bulan, coba 2% cicil beli Bitcoin," jawab Timothy.

Terkait ambruknya kripto, Sandi Uno pun kembali mengingatkan soal basic investasi dalam hal penempatan aset dalam portofolio investasi.

"Kalau mau belajar (investasi di kripto) itu maksimum 5% dari portfolio investasi, waktu itu saya bilang very small allocations. Tapi ternyata banyak yang against our advice, ada yang sampai majority didominasi oleh kripto investment," ujarnya.

Timothy mengatakan, target price Bitcoin dari para fund manager besar itu sangat tinggi. Bahkan, ada pihak yang memprediksi harga Bitcoin bisa mencapai US$ 1 juta pada 2030, dari posisi saat ini sekitar US$ 30.000 per koin.

"Saya melakukan hal yang agak bodoh. Saat LUNA 0,1 rupiah, saya beli. Sekarang harganya naik sampai sekitar 4-5 rupiah, 1.400% dalam waktu 3-6 jam. Kripto kadang bisa aneh-aneh. Tapi apakah sekarang waktu yang tepat untuk beli? Coba saja (beli) Bitcoin, Ethereum yang besar-besar, jangan beli yang altcoin dulu," sarannya.

Menurut Timothy, pergerakan harga koin kripto lain akan mengikuti anchor-nya yaitu Bitcoin. Kalau Bitcoin naik, altcoin yang kecil-kecil juga akan naik.

"Mungkin 2024 sampai 2025, ini mungkin winter-nya bisa lumayan lama. Bitcoin mungkin bisa US$ 30.000 - US$ 40.000, tapi saya juga nggak suggest orang untuk market timing, karena nggak ada yang tahu," jelasnya.

Sandi menambahkan, tidak ada waktu yang tepat untuk berinvestasi. Tetaplah berinvestasi meski kondisi sedang naik turun, bukan malah keluar. Misalnya meski saat ini di tengah kabar aset kripto yang sedang anjlok. Menurutnya, yang harus dilakukan jika ada salah satu aset yang jatuh adalah mengevaluasi portofolio.

"You stay invested, never timing the market. Reallocation, switching portfolio. Kalau lagi jatoh itu kita nggak pernah bisa menebak dengan tepat saat masuk ke dalam satu investasi, tunggu saat mereka stable," ujarnya dalam Sandiuno TV, dikutip Selasa (17/5/2022).


[Gambas:Video CNBC]

(vap/vap)
HALAMAN :
1 2
Artikel Selanjutnya

Yuk Baca 13 Kabar Pasar Buat Panduan Trading, Semoga Cuan!

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading