38 Perusahaan Bakal IPO Hingga Saran Sandi Uno Soal Kripto

Market - Teti Purwanti, CNBC Indonesia
18 May 2022 08:40
Layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (9/5/2022). (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,70% di level 6.644,47 mengawali perdagangan pekan ini, Selasa (17/5/2022). IHSG sukses menghijau setelah pekan lalu terkoreksi 5 hari beruntun.

IHSG konsisten bergerak di zona hijau, meski sempat terlempar sedikit ke zona merah di awal-awal perdagangan. IHSG bergerak di rentang 6.574,14 - 6.703,05.

Asing terpantau mulai masuk ke pasar saham dengan net buy Rp 165 miliar di seluruh pasar dengan nilai transaksi total mencapai Rp 16,1 triliun.


Saham BBRI dan KLBF menjadi yang paling banyak diborong dengan net buy Rp 353 miliar dan Rp 168 miliar. Sedangkan saham TLKM dan BBCA menjadi yang paling banyak dilepas asing dengan net sell Rp 201 miliar dan Rp 194 miliar.

Cermati kabar emiten sebelum memulai perdagangan hari ini, Rabu (18/5/2022):

1. Debut di BEI, Saham OLIV Sempat Sentuh ARA 10% Lalu Stagnan

Emiten furnitur online PT Oscar Mitra Sukses Sejahtera Tbk (OLIV) atau Oscar Living resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan menjadi emiten ke-20 tahun ini, Selasa (17/5/2022).

Saham OLIV tercatat di papan akselerasi BEI. Saham OLIV dibuka di zona hijau sesaat setelah pembukaan perdagangan.

Saham emiten dengan kode OLIV ini sempat menyentuh auto reject atas (ARA) naik 10% atau 10 poin ke level Rp 110 per saham pada pukul 09.54 WIB.

Namun pada pukul 10.50 WIB, saham OLIV stagnan di level Rp 100 per unit. Pada perdagangan pagi ini, saham OLIV diperdagangkan dalam rentang harga Rp 100 - Rp 110.

Dalam sambutannya pada pembukaan pasar hari ini, Direktur Operasional OLIV, Stephani Andiriana Suhanda mengatakan pencatatan ini menjadi peluang bagi Oscar Living untuk memperkuat struktur permodalan yang didukung publik.

"Dengan dukungan tersebut kami akan menjangkau pelanggan ke seluruh Nusantara dan menawarkan produk-produk bermanfaat sehingga berkontribusi pada pembangunan bangsa," pungkas Stephani.

Sebagai perusahaan furnitur berbasis online melalui platform marketplace yang ada saat ini, Perseroan berhasil mengubah kebiasaan masyarakat Indonesia untuk berbelanja produk "High Touch" secara daring.

Oscar Living akan terus menambah berbagai produk-produk baru, baik brand maupun sub-kategori seperti Laundry & Cleaning, Baby Furniture, Plastic Furniture untuk melengkapi portfolio perusahaan sehingga dapat meningkatkan penjualan.

2. Laba Naik 25x Lipat Tapi Saham Anjlok 36%, WIFI Bisnis Apa?

Kinerja saham memang biasanya merupakan cerminan dari kinerja finansial perusahaan secara luas. Namun, hal ini tidaklah mutlak. Tak jarang, situasinya justru berkebalikan, seperti apa yang sedang terjadi PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI).

Perusahaan holding yang melakukan investasi dalam bidang periklanan serta produk dan layanan digital tersebut sahamnya menyusut nyaris sepertiga hingga perdagangan Selasa (17/05) pagi ini.

Sejak awal tahun hingga penutupan perdagangan akhir pekan lalu (13/5), saham WIFI telah melemah hingga 36,36%. Pelemahan ini terjadi mengabaikan kinerja keuangan fantastis perusahaan yang terbit di keterbukaan informasi Kamis (12/5) pekan lalu.

Dalam keterangan tersebut, perusahaan menyebut bahwa kinerja laba bersih mengalami kenaikan hingga 25 kali lipat pada 2021 dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Laba bersih tahun berjalan tercatat sebesar Rp 24,8 Miliar, atau naik sebesar 2584% dibanding tahun 2020 sebesar Rp 924 Juta.

Kinerja positif tersebut ditopang oleh pendapatan yang terdongkrak 723% sepanjang tahun lalu, menjadi sebesar Rp 390,9 miliar dari semula Rp 47,5 miliar.

WIFI diketahui didirikan tahun 2012 dan merupakan emiten terakhir yang melantai di Bursa Efek Indonesia tahun 2020 lalu, dengan sahamnya pertama kali ditransaksikan oleh publik tepat pada hari terakhir perdagangan bursa tahun tersebut.

Pada saat penawaran perdana, Menteri Komunikasi dan Informatika tahun 2014-2019 Rudiantara dan eks bos Indosat Ooredoo, Alexander Steven Rusli tercatat sebagai pemegang saham yang juga menjabat sebagai sebagai komisaris perusahaan. Rudiantara saat ini tercatat masih menjabat sebagai komisaris utama perusahaan.

Mengacu situs perusahaan, cikal bakal WIFI dimulai dari perusahaan startup media luar ruang pada transportasi masal MacroAd. Perusahaan berdiri sebagai media iklan berbentuk baru yang terdiri dari cloud-based software, topologi jaringan antar kereta dan layar digital. Saat ini perusahaan juga fokus bergerak di bisnis backbone fiber optik.

3. India Setop Ekspor Gandum, Berlindunglah di UNVR dan SIDO

Larangan ekspor gandum yang diberlakukan India diprediksi akan berdampak pada kinerja emiten Tanah Air.

Riset pasar BRI Danareksa Sekuritas menyebut kebijakan tersebut secara negatif akan berdampak pada laba dan performa saham Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP) dan Mayora Indah (MYOR).

Sebaliknya, menurut pendapat Danareksa, bahwa investor dapat berlindung di dua saham defensif yakni Unilever Indonesia (UNVR) dan Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul (SIDO).

Keputusan untuk menangguhkan sementara ekspor gandum ke luar negeri diambil oleh India untuk melindungi kebutuhan dalam negeri negara itu yang saat ini sedang mengalami lonjakan harga.

Selain itu rekor bulan Maret terpanas menyebabkan penurunan hasil panen hingga 50% dan menambah gesekan pada rantai pasok gandum yang sudah mulai ketat semenjak konflik pecah di Eropa Timur akhir Februari lalu.

Kebijakan larangan ekspor tersebut diprediksi bisa berpotensi mengakibatkan harga makanan naik, di antaranya mie instan.

Namun, kalangan pengusaha tampaknya terlihat tenang menghadapi kebijakan tersebut. Pasalnya, India bukan satu-satunya negara yang menjadi andalan dalam memenuhi kebutuhan gandum di dalam negeri.

Afirmasi tersebut datang dari Ketua Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo), Ratna Sari Loppies, yang mengatakan kepada CNBC Indonesia, Selasa (17/5/22) ini bahwa gandum dari India "kecil impornya."

Meski demikian, dampak larangan ekspor ini tetap sangat terasa bagi emiten yang bergantung pada gandum sebagai bahan baku utama karena harga gandum melonjak hingga 12,5% dalam sepekan mengikuti berita pengumuman tersebut.

Danareksa mencatat paparan akan tingginya harga impor gandum menyebabkan harga pokok penjualan (cost of goods sold/COGS) MYOR akan meningkat hingga 16%, sedangkan untuk ICBP naik 15% dan pada akhirnya dapat memukul kinerja laba perusahaan.

Sebelumnya Indofood telah menyampaikan bahwa suplai gandum mereka sebagian besar berasal dari Australia, dengan pasokan lainnya datang dari India dan Amerika Selatan dengan stok gandum cukup untuk 3-4 bulan produksi.



Kinerja Bundamedik Hingga Saran Sandi Uno Soal Kripto
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading