Obligasi SMART Rp 6 T, Nasib Saham SRIL Hingga Korupsi WSBP

Market - Teti Purwanti, CNBC Indonesia
02 June 2022 07:30
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan hari terakhir bulan Mei, Selasa (31/5/2022), dengan manis.

IHSG ditutup menguat signifikan dengan apresiasi 1,58% di level 7.148,97. Selain berhasil tembus level psikologis 7.100, indeks juga konsisten bergerak di zona hijau.

Penguatan IHSG yang signifikan juga dibarengi dengan inflow dana asing yang deras. Di pasar reguler asing net buy jumbo senilai Rp 4,3 triliun.


Saham ADMR dan BBRI menjadi saham yang paling banyak dikoleksi asing dengan net buy masing-masing Rp 1,4 triliun dan Rp 447 miliar.

Sementara itu saham INTP dan TLKM justru menjadi dua saham paling banyak dijual asing dengan net sell masing-masing Rp 344 miliar dan Rp 128 miliar.

Simak kabar emiten sebelum memulai perdagangan pada hari pertama di bulan Juni, Kamis (2/6/2022).

1. PP Presisi Terbitkan Obligasi Rp 500 M, Ini Jadwalnya

PP Presisi (PPRE) menerbitkan Obligasi Berkelanjutan I Tahap I PP Presisi Tahun 2022 dengan target dana sebesar Rp 500 miliar. Ini merupakan bagian dari aksi korporasi dalam rangka Penawaran Umum Berkelanjutan dengan total keseluruhan target dana yang dihimpun Rp 1 triliun.

"Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) Obligasi Berkelanjutan I sebesar Rp 1 triliun ini akan dilaksanakan dalam 2 tahap. Tahap I PPRE akan melakukan Penawaran Umum Berkelanjutan Obligasi Berkelanjutan I Tahap I Tahun 2022 dengan sebanyak-banyaknya sebesar Rp 500 miliar," kata Direktur Utama PPRE Rully Noviandar dikutip dari keterangan tertulis, Selasa (31/5/2022).

Adapun Penawaran Umum Berkelanjutan I Tahap I ini telah mendapatkan peringkat atau rating idBBB+ dari PT Pemeringkat Efek Indonesia. Rully mengatakan dana yang dihimpun akan digunakan sebesar 70% untuk Capex dan 30% digunakan untuk modal kerja perusahaan.

Menurut dia, Capex yang akan dibelanjakan melalui dana obligasi tersebut digunakan untuk mendukung peningkatan produksi maupun penambahan kontrak baru pada proyek-proyek jasa pertambangan.

"Diversifikasi ke jasa pertambangan merupakan salah satu strategi perseroan dalam mengantisipasi siklus bisnis konstruksi serta mengoptimalkan produktivitas dari aset alat berat yang dimiliki," tambah dia.

Dalam obligasi ini, PPRE telah menunjuk tiga perusahaan sekuritas sebagai Penjamin Pelaksanaan Emisi (PPE) atau Joint Lead Underwriter (JLU), yaitu PT BNI Sekuritas, PT BRI Danareksa Sekuritas, PT CIMB Niaga Sekuritas. Sedangkan untuk profesi penunjang lainnya, PPRE menunjuk PT Bank Rakyat Indonesia sebagai Wali Amanat, Jusuf Indradewa & Partner selaku Konsultan Hukum, dan Ir. Nanette Cahyanie Handari Adi Warsito, SH selaku Notaris.

"PPRE akan melaksanakan masa bookbuilding mulai dari 30 Mei-13 Juni 2022, di mana masa penawaran umum rencana akan dilaksanakan pada 27 Juni 2022 dan rencana penjatahan dilaksanakan pada 28 Juni 2022. Sehingga diperkirakan surat utang tersebut akan dicatatkan di Bursa Efek Indonesia pada 1 Juli 2022," tutup Rully.

2. Emiten Sawit Sinar Mas Incar Rp 6 Triliun dari Obligasi

Emiten kelapa sawit Grup Sinar Mas yakni PT Sinar Mas Agro Resources And Technology Tbk (SMAR) akan menerbitkan obligasi dengan target dana mencapai Rp 6 triliun.

Untuk tahap pertama, Perseroan akan menerbitkan penawaran umum berkelanjutan Obligasi Berkelanjutan IV SMART Tahap 1 Tahun 2022 dengan jumlah pokok obligasi sebesar Rp 1,5 triliun, yang terdiri dari tiga seri, yakni Seri A, Seri B, dan Seri C.

Untuk jangka waktunya, Seri A berjangka waktu 1 tahun sejak Tanggal Emisi. Sedangkan Seri B jangka waktunya yakni tiga tahun sejak Tanggal Emisi. Adapun untuk Seri C, jangka waktunya yakni lima tahun sejak Tanggal Emisi.

Namun, perseroan belum memberikan besaran kupon untuk masing-masing tenor, serta berapa target obligasi dari masing-masing tenor tersebut.

Pembayaran Bunga Obligasi pertama akan dilakukan pada tanggal 1 Oktober 2022, sedangkan pembayaran Bunga Obligasi terakhir sekaligus jatuh tempo masing-masing seri Obligasi adalah pada tanggal 11 Juli 2023 untuk Obligasi Seri A, 1 Juli 2025 untuk Obligasi Seri B, dan 1 Juli 2027 untuk Obligasi Seri C.

Dana yang diperoleh dari hasil Penawaran Umum Obligasi setelah dikurangi dengan biaya-biaya emisi terkait, seluruhnya akan dipergunakan untuk pembayaran sebagian pokok utang bank jangka panjang dan pelunasan pokok Obligasi Berkelanjutan III SMART Tahap II Tahun 2021 Seri A dan Obligasi Berkelanjutan III SMART Tahap III Tahun 2022 Seri A yang akan jatuh tempo.

3. Dear Investor, PGN Mau Bagi Dividen Nih Catat Tanggalnya

PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) bakal membagikan dividen tahun buku 2021 sebesar US$ 205.955.966 setara Rp 3,016 triliun atau Rp 124,42 per lembar saham kepada Pemerintah dan Pemegang Saham.

Berdasarkan keterbukaan informasi, Selasa (31/5/2022) jadwal pembagian dividen antara lain:

Tanggal Efektif : 27 Mei 2022
Tanggal Cum Dividen di Pasar Reguler dan Pasar Negosiasi : 7 Juni 2022
Tanggal Ex Dividen di Pasar Reguler dan Pasar Negosiasi : 8 Juni 2022
Tanggal Cum Dividen di Pasar Tunai : 9 Juni 2022
Tanggal Ex Dividen di Pasar Tunai : 10 Juni 2022
Tanggal Daftar Pemegang Saham (DPS) yang berhak atas dividen tunai : 9 Juni 2022

Tanggal Pembayaran Dividen: 29 Juni 2022

Angka dividen tersebut setara 67,8% dari laba bersih PGN tahun 2021. Hal itu terungkap dalam hasil Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar PT PGN Tbk selaku Subholding Gas Pertamina pada Jumat (27/5/2022).

4. TBIG Bayar Dividen Rp 36/Saham Pada 22 Juni

PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) bakal membagikan Dividen Tunai Tahun Buku 2021 sebesar Rp 36 per saham atau setara dengan total Rp 815,65 miliar.

Dividen tersebut sekitar 52,7% dari laba bersih perseroan 2021 sebesar Rp1.548.975.000.000. Berdasarkan keterbukaan informasi yang dikutip, Selasa (31/5/2022), pembayaran akan dilaksanakan pada tanggal 22 Juni 2022.

Berikut adalah jadwal pembayaran dividen selengkapnya:

Akhir Periode Perdagangan Saham Dengan Hak atas Dividen (Cum Dividen)

Pasar Reguler dan Negosiasi : 2 Juni 2022
Pasar Tunai : 6 Juni 2022

Awal Periode Perdagangan Saham Tanpa Hak atas Dividen (Ex Dividen)
Pasar Reguler dan Negosiasi : 3 Juni 2022
Pasar Tunai : 7 Juni 2022

Tanggal Daftar Pemegang Saham yang berhak atas Dividen Tunai (Recording Date) : 6 Juni 2022
Tanggal Pembayaran Dividen : 22 Juni 2022
Tanggal Pendistribusian Bukti Potong Pajak : 31 Agustus 2022

5. GOTO Catatkan Rugi Hingga Rp 6 Triliun, Gegara Ini?

PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) baru saja merilis laporan keuangan untuk periode kuartal I-2022. Rugi bersih GOTO tercatat membengkak lebih dari 3,5x pada kuartal I-2022 dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Mengacu pada laporan keuangan perseroan yang tidak diaudit, rugi bersih GOTO yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp 6,47 triliun hingga Maret 2022.

Kerugian GOTO tersebut naik dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,81 triliun.

Sebenarnya dari sisi pendapatan GOTO berhasil mencatatkan pertumbuhan 65,5% secara year on year (yoy) menjadi hampir Rp 1,5 triliun hingga Maret 2022, naik dari periode yang sama tahun lalu yang hanya Rp 905 miliar.

Namun total beban di luar beban keuangan GOTO membengkak 206% yoy dari Rp 3,04 triliun menjadi Rp 9,29 triliun pada kuartal I-2022.

Beban pokok penjualan dan pemasaran GOTO naik 665% yoy atau 8x hingga akhir Maret 2022. Asal tahu saja bobot beban biaya pos ini mencapai 36% dari total beban biaya GOTO pada Maret 2022.

Bobot beban pokok penjualan dan pemasaran GOTO pun naik dari periode Maret 2021 yang hanya sebesar 14%.

Beban biaya lain yang juga meningkat tajam adalah beban umum dan administrasi yang menyumbang 28% dari total beban biaya. Pos ini mencatatkan kenaikan sebesar 270% yoy hingga kuartal I-2022.

Akibat kenaikan beban biaya yang fantastis, rugi sebelum pajak yang dibukukan GOTO membengkak menjadi Rp 6,63 triliun di kuartal I tahun ini.

6. Saham SRIL, Nasibmu Kini...

Nasib miris menimpa salah satu emiten tekstil Tanah Air. PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL). Saham perusahaan yang lebih dikenal dengan nama SriTex itu kini terancam didepak dari Bursa alias delisting.

Mengacu pada peraturan Bursa No : I-I, suatu perusahaan terbuka akan delisting jika sahamnya mengalami suspensi selama 24 bulan.

Untuk diketahui, saham SRIL pertama kali disuspensi pada 18 Mei 2021. Itu artinya saham SRIL sudah disuspensi selama satu tahun dan sisa satu tahun lagi sebelum di depak, meskipun ketentuan 24 bulan tidaklah mutlak.

Awal mula persoalan ini adalah tentang gagal bayar utang emiten. Bengkaknya utang SRIL dapat dilihat dari laporan keuangannya pada 2020.

Per Desember 2020, utang bank jangka pendek SRIL tercatat mencapai US$ 277,5 juta padahal di tahun sebelumnya masih US$ 67,6 juta.

Sementara itu SRIL juga memiliki surat utang jangka menengah atau Medium Term Note (MTN) senilai US$ 25 juta. Sedangkan utang bank jangka panjang yang jatuh tempo satu tahun senilai US$ 6,2 juta.

Jika ditotal, kewajiban SRIL yang memiliki beban bunga mencapai US$ 308,7 juta. Beban keuangan SRIL mencapai US$ 75,5 juta. Sedangkan kas dan setara kas perseroan hanya mencapai US$ 187,6 juta.

Dengan gagal bayarnya utang jangka pendek tersebut SRIL harus menghadapi Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU).

Tak tanggung-tanggung proses PKPU yang dihadapi ada tiga di jurisdiksi yang berbeda-beda mulai dari Indonesia, Singapura, hingga Amerika Serikat (AS).

Adanya proses PKPU tersebut juga membuat SRIL tak membayar pokok dan bunga utang atas MTN yang dimiliki senilai US$ 25 juta.

Kinerja Bumi Resources
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading