Dow Futures Menguat, Tanda Investor Mulai Optimistis?

Market - Annisa Aflaha, CNBC Indonesia
13 May 2022 18:00
Smartsheet Inc. President and CEO Mark Mader rings a ceremonial bell to celebrate his company's IPO on the floor of the New York Stock Exchange (NYSE) in New York, U.S., April 27, 2018. REUTERS/Brendan McDermid

Jakarta, CNBC Indonesia - Kontrak berjangka (futures) indeks bursa Amerika Serikat (AS) kompak bergerak menguat pada perdagangan Jumat (13/5/2022), di mana investor bersiap untuk potensi indeks S&P 500 yang akan memasuki bear market (zona penurunan).

Kontrak futures indeks Dow Jones menguat 242 poin atau 0,76%. Hal serupa terjadi pada indeks S&P 500 dan Nasdaq melesat yang masing-masing sebesar 1% dan 1,73%.

Pada Rabu (11/5), indeks S&P 500 dan Dow Jones sempat pulih dari posisi terendah secara harian, walaupun berakhir turun yang masing-masing 0,1% dan 0,3%. Indeks S&P 500 ditutup anjlok lebih dari 18% dari rekor tertingginya sepanjang masa dan berpotensi memasuki bear market, jika penurunan semakin dalam hingga 20%. Indeks Dow Jones telah menurun selama enam hari beruntun.


Nasdaq mencatat kenaikan kurang dari 0,1% pada Rabu (11/5), tapi indeks yang berbasis teknologi tersebut, sudah berada di bear market, anjlok lebih dari 29% dari rekor tertingginya sepanjang masa.

Pasar saham telah merosot selama berbulan-bulan, dimulai dengan saham emiten teknologi dengan pertumbuhan tinggi di akhir tahun lalu. Bahkan, menyebar ke perusahaan dengan saham arus kas yang sehat dalam beberapa pekan terakhir. Pada Kamis (12/5), saham Apple jatuh ke bear market dan menjadi perusahaan teknologi besar yang terakhir mengalami aksi jual.

Penurunan tersebut telah menghapus keuntungan yang dinikmati pasar saham dari posisi terendah ketika pandemi pada Maret 2020.

"Penyimpangan besar dari tren harga jangka panjang telah digunakan untuk identifikasi gelembung. Kami menemukan bahwa ekuitas AS telah berada dalam gelembung berdasarkan metrik ini," kata Dirk Willer, Ahli Strategi Citi dalam sebuah catatan kepada klien pada Kamis (12/5).

Satu alasan pasar saham telah kesulitan di beberapa bulan ini karena inflasi yang tinggi dan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) berupaya untuk menahan harga dengan menaikkan suku bunga acuan. Ketua The Fed Jerome Powell menyatakan pada Kamis (12/5) bahwa dia tidak bisa menjamin pendaratan yang halus yang menurunkan inflasi tanpa menyebabkan resesi.

Meskipun, pasar saham menikmati reli pada dua pekan setelah kenaikan suku bunga pertama The Fed pada bulan Maret, kenaikan tersebut dengan cepat terhapus oleh performa di bulan April yang brutal dan aksi jual berlanjut pada bulan Mei. Ada beberapa tanda, seperti survei sentimen investor dan beberapa stabilisasi di pasar obligasi pekan ini, bahwa situasi bear market mungkin sudah dekat, tapi banyak investor dan ahli strategi mengatakan pasar mungkin perlu mengambil langkah yang cukup besar.

Perkembangan dalam pasar kripto juga membuat pasar AS kebingungan pekan ini, di mana bitcoin jatuh jauh di bawah US$ 30.000 dan stable coin berjuang untuk mempertahankan posisinya.

Sisi lainnya, rilis data ekonomi hari ini akan dihiasi oleh rilis harga impor bulan April dan pandangan awal terhadap Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) bulan Mei.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Dow Futures Menguat Tipis Jelang Rilis Kinerja Emiten AS


(aaf/aaf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading