Treasury AS Tenor 10 Tahun Naik ke 3,1%, Tertinggi Sejak 2018

Market - Annisa Aflaha, CNBC Indonesia
06 May 2022 09:30
FILE - In this March 18, 2020, file photo traders at the New York Stock Exchange watch President Donald Trump's televised White House news conference in New York. When President Donald Trump speaks, financial markets gyrate and quiver in real time. (AP Photo/Mark Lennihan, File)

Jakarta, CNBC Indonesia- Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) naik pada Kamis (5/5/2022), menghentikan kerugian mereka dari sesi sebelumnya, di mana suku bunga acuan mencapai level tertinggi sejak 2018.

Yield obligasi tenor 10 tahun naik 12 basis poin ke 3,04% di perdagangan sore hari waktu setempat. Namun, yield obligasi tenor 10 tahun sempat menyentuh level tertinggi di 3,106% dan menjadi level tertinggi sejak 2018. Hal serupa terjadi pada yield obligasi tenor 30 tahun lompat 12 basis poin ke 3,126%.

Sebagai informasi, pergerakan yield obligasi berbanding terbalik dengan harganya, ketika yield naik, berarti harga turun.


Bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) mengumumkan menaikkan suku bunga acuan setengah poin persentase pada Rabu (4/5) sore waktu setempat, yang menjadi kenaikan terbesar sejak tahun 2000 dan sejalan dengan ekspektasi pasar.

The Fed juga menguraikan rencananya untuk mulai mengurangi neraca pada bulan Juni.

Namun, Ketua Fed Jerome Powell mengatakan bahwa kenaikan 75 basis poin bukanlah sesuatu yang dipertimbangkan secara aktif oleh Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC). Sehingga, yield obligasi tenor 10 tahun jatuh di waktu yang sama.

Pendiri Latitude Investment Management Freddie Lait mengatakan bahwa reli yang terjadi di pasar dapat di mengerti, mengingat kekhawatiran bahwa kenaikan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin mungkin saja terjadi, jika mengacu pada komentar Presiden Fed St. Louis James Bullard.

Namun, Lait mengatakan The Fed masih akan melanjutkan jalur hawkish-nya dengan menaikkan suku bunga acuan untuk mengembalikan inflasi ke sekitar level 3% dalam enam atau tujuh bulan ke depan.

Yield obligasi tenor 10 tahun menyentuh 3% pada Senin (2/5) dan Rabu (5/5) pagi hari waktu setempat menjelang pertemuan The Fed, di mana kekhawatiran bahwa kenaikan inflasi dan kenaikan suku bunga acuan yang lebih agresif dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi.

"Kami percaya bahwa sikap hawkish The Fed sebagian besar mempengaruhi pasar saham dan obligasi. Kami memperkirakan yield obligasi tenor 10 tahun akan mulai mencapai puncaknya sekitar level 3% karena investor global dengan aset US$52 triliun direalokasikan ke obligasi yang hampir bebas risiko. Konferensi pers Jerome Powell sangat positif dengan mengesampingkan kenaikan 75 basis poin dan mengindikasikan hanya dua pertemuan yang diharapkan memiliki kenaikan 50 basis poin dan kemudian mereka akan menilai kembali," tutur Ketua Investasi Infrastructure Capital Management Jay Hatfield dikutip dari CNBC International.

Pada Kamis (5/5), angka klaim pengangguran secara mingguan sedikit lebih tinggi dari yang diharapkan. Selain itu, angka produktivitas tenaga kerja di kuartal I-2022 menunjukkan penurunan tercepat sejak 1947.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Josss, Surat Utang Indonesia Sedang Laku Keras!


(aaf/aaf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading