Kemarin Sempat Menguat, Kini Dow Futures Kompak Melemah

Market - Annisa Aflaha, CNBC Indonesia
30 March 2022 18:41
Trader Gregory Rowe works on the floor of the New York Stock Exchange, Monday, Aug. 5, 2019. Stocks plunged on Wall Street Monday on worries about how much President Donald Trump's escalating trade war with China will damage the economy. (AP Photo/Richard Drew)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kontrak berjangka (futures) indeks bursa Amerika Serikat (AS) bergerak melemah pada perdagangan Rabu (30/3/2022), setelah bursa saham AS sempat pulih kemarin meskipun ada kecemasan akan resesi.

Investor juga masih mengamati perkembangan situasi perang di Ukraina.

Kontrak futures indeks Dow Jones turun 76 poin atau melemah 0,2%. Kontrak serupa indeks S&P 500 dan Nasdaq terkoreksi yang masing-masing sebesar 0,3% dan 0,4%.


Kemarin, Rusia mengklaim akan menurunkan volume pasukan militer di beberapa lokasi di Ukraina, tapi beberapa negara termasuk AS dan Inggris masih skeptikal terhadap janji Moskow. Sementara itu, serangan Rusia ke Ukraina masih berlanjut hingga hari ini.

Hari ini, harga minyak mentah yang telah melonjak sejak perang dimulai, kembali naik lebih dari 2% ke US$ 106,57/barel.

Kemarin, bursa saham AS bergerak menguat, di mana indeks Dow Jones dan S&P 500 berhasil membukukan kenaikan selama empat hari beruntun. Nasdaq melonjak 1,8% dan berada lebih rendah 10% dari rekor tertingginya.

"Bursa saham AS naik 10% sejak 10 hari terakhir, menjadi reli yang cukup luar biasa dalam waktu yang sangat singkat dengan tidak banyak perubahan pada berita kecuali kenaikan suku bunga yang cukup diperhitungkan oleh pasar. Namun, saya tidak akan terlalu nyaman untuk sisa tahun ini, karena kita akan terus melihat banyak volatilitas," tutur Ketua Investasi Homrich Berg Stephanie Lang dikutip dari CNBC International.

Semua perhatian tertuju pada pasar obligasi AS kemarin, di mana imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 5 tahun dan 30 tahun menunjukkan kurva yang terbalik untuk pertama kali sejak 2016.

Jika melihat secara historis, inversi ini menunjukkan adanya potensi resesi. Namun, mayoritas investor nampaknya mengabaikan hal tersebut.

Kemarin, acuan utama yield obligasi tenor 2 tahun dan 10 tahun mendekati selisih tapi tetap positif. Hari ini, kesenjangan naik kembali sekitar 7 basis poin.

Hari ini, investor akan menunggu rilis data ekonomi mulai dari data pertumbuhan ekonomi, data penjualan rumah, hingga ADP yang akan melaporkan data tenaga kerja AS.

Selain itu, Presiden bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) Kansas akan memberikan pidato di Economic Club of New York.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Perang Ukraina Jeda Sejenak, Dow Jones Dibuka Lompat 560 Poin


(aaf/vap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading