Neocov Bikin Ketar-Ketir, Saham Farmasi-RS Bikin Sehat

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
31 January 2022 11:20
Petugas ambulans memberikan data pasien Covid-19  kepada petugas jaga di Wisma Atlet, Jakarta, Senin (17/1/2022). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham emiten pengelola rumah sakit (RS) dan farmasi menguat pada lanjutan sesi I perdagangan hari ini, Senin (31/1/2022). Kenaikan keduanya tersebut terjadi seiring kasus Covid-19 varian Omicron di RI semakin meninggi dan adanya kemunculan varian anyar NeoCov di China.

Berikut kenaikan saham RS, mengacu pada data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 10.53 WIB.

  1. Mitra Keluarga Karyasehat (MIKA), naik 4,60%, ke Rp 2.500/saham


  2. Metro Healthcare Indonesia (CARE), naik 2,97%, ke Rp 520/saham

  3. Sarana Meditama Metropolitan (SAME), naik 2,79%, ke Rp 368/saham

  4. Royal Prima (PRIM), naik 1,02%, ke Rp 398/saham

  5. Siloam International Hospitals (SILO), naik 0,91%, ke Rp 8.275/saham

Menurut data di atas, saham emiten pemilik RS Mitra Keluarga MIKA melesat 4,60% ke Rp 2.500/saham. Dengan ini, saham MIKA sudah 5 kali beruntun berada di zona hijau.

Dalam sepekan, saham MIKA terkerek naik 15,74%.

Saham CARE dan SAME juga tercatat masing-masing naik 2,97% dan 2,79% pagi ini.

Kemudian, berikut kinerja saham farmasi yang menguat.

  1. Kimia Farma (KAEF), naik +2,30%, ke Rp 2.220/saham

  2. Itama Ranoraya (IRRA), naik 1,98%, ke Rp 1.800/saham

  3. Indofarma (INAF), naik 1,44%, ke Rp 2.120/saham

  4. Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul (SIDO), naik 1,08%, ke Rp 935/saham

  5. Phapros (PEHA), naik 0,45%, ke Rp 1.115/saham

  6. Tempo Scan Pacific (TSPC), naik 0,34%, ke Rp 1.490/saham

Saham emiten BUMN KAEF memimpin kenaikan 2,30% ke posisi Rp 2.220/unit, setelah turun 0,91% pada Jumat pekan lalu. Dalam seminggu, saham KAEF tercatat naik 0,46%.

Di posisi kedua, saham emiten distributor alat kesehatan dan jarum suntik sekali pakai, IRRA, terapresiasi 1,98% ke posisi Rp 1.800/unit. Saham IRRA mencoba kembali ke zona hijau setelah cenderung terbenam di zona merah selama sepekan lalu.

Satuan Tugas Penanganan Covid-19 mengumumkan ada tambahan 12.422 kasus per Minggu (30/1). Dengan demikian, total kasus konfirmasi mencapai 4.343.185.

Seiring kenaikan kasus Covid-19, keterisian tempat tidur, atau bed occupancy rate (BOR) 140 RS Rujukan Covid-19 DKI Jakarta meningkat jadi 56%. Hal tersebut menjadi alarm awal bahwa gelombang berikutnya menghantui Indonesia.

Covid-19 varian Omicron pun sudah mengambil alih Covid-19 varian Delta sebagai kontributor varian terbesar Covid-19 di Indonesia. Mengacu data ourworldindata.org, varian Omicron menyumbang 97% kasus Covid-19 di Indonesia.

Meskipun banyak studi awal menyatakan Omicron tidak lebih berbahaya, namun dengan tingkat penyebaran yang tinggi berpotensi besar membuat fasilitas kesehatan kewalahan.

Di tengah melonjaknya kasus Covid-19 Omicron di Tanah Air, sebuah varian baru virus corona kembali ditemukan. Varian baru itu bernama NeoCov dan pertama kali diketahui dari sebuah laporan penelitian yang dirancang oleh ilmuwan China.

Dalam laporan tersebut, disebutkan bahwa NeoCoV sebenarnya bukan varian baru dari virus corona yang telah menyebabkan pandemi global. Sebaliknya, virus tersebut berasal dari jenis virus corona yang berbeda, yang terkait dengan sindrom pernapasan Timur Tengah (Mers-CoV). Mers-CoV adalah virus yang ditularkan ke manusia dari unta dromedari (Arab) yang terinfeksi.

Virus ini bersifat zoonosis, artinya ditularkan antara hewan dan manusia dan dapat ditularkan melalui kontak langsung atau tidak langsung dengan hewan.

"Mers-CoV telah diidentifikasi pada dromedari di beberapa negara di Timur Tengah, Afrika dan Asia Selatan," kata Organisasi Kesehatan Dunia, dikutip dari Media Internasional berbasis di Inggris, Independent, Minggu (30/1/2022).

"Secara total, 27 negara telah melaporkan kasus sejak 2012, menyebabkan 858 kematian yang diketahui karena infeksi dan komplikasi terkait."

WHO mengatakan 35% pasien yang terinfeksi Mers-Covid telah meninggal, meskipun kemungkinan juga karena kasus-kasus bawaan yang mungkin terlewatkan oleh sistem pengawasan yang ada.

Nah, NeoCoV adalah kerabat Mers-CoV dan beredar di kelelawar. Dalam penelitian yang diterbitkan minggu ini, para ilmuwan yang berbasis di Wuhan memperingatkan bahwa NeoCoV dapat menyebabkan masalah jika ditransfer dari kelelawar ke manusia.

Virus corona khusus ini tampaknya tidak dinetralisir oleh antibodi manusia yang dilatih untuk menargetkan SARS-CoV-2, virus penyebab Covid-19, atau Mers-Cov. Meski virus ini menunjukkan ada potensi ancaman NeoCoV menginfeksi manusia, tetapi tidak ada bukti sejauh ini atau tidak ada indikasi seberapa menular atau fatalnya.

"Kita perlu melihat lebih banyak data yang mengkonfirmasi infeksi pada manusia dan tingkat keparahan yang terkait sebelum menjadi cemas," Profesor Lawrence Young, seorang ahli virus di Universitas Warwick, mengatakan kepada The Independent.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

'Dibuang' Lagi, Saham Farmasi & Rumah Sakit Nyungsep


(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading