Top! Saham Batu Bara Ngacir, Penahan IHSG dari Koreksi Dalam

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
19 January 2022 09:58
Pekerja melakukan bongkar muat batubara di Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (6/1/2022). Pemerintah memutuskan untuk menyetop ekspor batu bara pada 1–31 Januari 2022 guna menjamin terpenuhinya pasokan komoditas tersebut untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) milik PLN dan independent power producer (IPP) dalam negeri. Kurangnya pasokan batubara dalam negeri ini akan berdampak kepada lebih dari 10 juta pelanggan PLN, mulai dari masyarakat umum hingga industri, di wilayah Jawa, Madura, Bali (Jamali) dan non-Jamali. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham emiten batu bara menguat pada awal perdagangan hari ini, Rabu (19/1/2022). Kenaikan saham batu bara, beserta Indeks sektor energi (IDXENERGY) menjadi salah satu penahanan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dari koreksi yang lebih dalam pada pagi ini.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI) indeks IDXENERGY memimpin indeks sektoral dengan kenaikan 0,87%. Sementara, IHSG, per pukul 09.43 WIB, turun 0,17% ke 6.603,38, setelah sempat melorot ke 6.575,38 sesaat setelah pembukaan pasar.

Berikut kenaikan saham batu bara pagi ini.


  1. TBS Energi Utama (TOBA), naik +7,60%, ke Rp 1.415/saham

  2. Golden Eagle Energy (SMMT), +3,82%, ke Rp 272/saham

  3. Harum Energy (HRUM), +2,14%, ke Rp 10.725/saham

  4. Delta Dunia Makmur (DOID), +1,74%, ke Rp 234/saham

  5. Bayan Resources (BYAN), +1,56%, ke Rp 32.650/saham

  6. Borneo Olah Sarana Sukses (BOSS), +1,43%, ke Rp 71/saham

  7. Prima Andalan Mandiri (MCOL), +0,87%, ke Rp 3,470/saham

  8. Indika Energy (INDY), +0,63%, ke Rp 1.595/saham

  9. Mitrabara Adiperdana (MBAP), +0,57%, ke Rp 3.540/saham

  10. Adaro Energy (ADRO), +0,45%, ke Rp 2.230/saham

  11. ABM Investama (ABMM), +0,36%, ke Rp 1.390/saham

Menurut data tersebut, saham TOBA memimpin kenaikan sebesar 7,60% ke posisi Rp 1.415/saham, melanjutkan penguatan sejak Senin lalu (17/1). Alhasil, dalam sepekan saham TOBA melesat 18,97%.

Setali tiga uang, saham SMMT juga terkerek 3,82%. Dengan ini, saham emiten Grup Rajawali ini sudah 6 hari perdagangan beruntun melejit di zona hijau. Praktis, saham SMMT melambung 33,33% dalam sepekan.

Saham HRUM dan DOID pun sama-sama naik 2,14% dan 1,74%.

Sementara, harga batu bara turun pada perdagangan kemarin. Maklum, sebelumnya harga sudah melonjak tajam.

Kemarin, harga batu bara di pasar ICE Newcastle (Australia) ditutup di US$ 214,9/ton. Berkurang 0,97% dari hari sebelumnya.

Koreksi ini terjadi setelah harga si batu hitam naik empat hari beruntun. Selama empat hari tersebut, harga meroket 29,09%.

Oleh karena itu, harga batu bara akan selalu dibayangi risiko koreksi. Iming-iming cuan gede akan menggoda investor untuk menjual kontrak batu bara. Tidak heran harga pasti bakal turun karena tekanan jual, dan sepertinya itu yang terjadi.

Dari sisi fundamental, perkembangan di China juga kurang menguntungkan bagi batu bara. Biro Statistik China mengumumkan produksi batu bara tumbuh positif.

Pada Desember 2021, produksi batu bara Negeri Panda tercatat 384,67 juta ton, tumbuh 7,2% dari periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Ini membuat produksi sepanjang 2021 menjadi 4,07 miliar ton, naik 4,7% yoy.

Pemerintahan Presiden Xi Jinping menginstruksikan produsen batu bara untuk tetap mempetahankan produksi pada masa liburan Tahun Baru Imlek. Periode tersebut adalah puncak aktivitas masyarakat, yang juga menjadi puncak konsumsi listrik.

Li Yunqing, pejabat di Komite Reformasi dan Pembangunan Nasional China (NDRC), menyebut konsumsi listrik pada 2021 melesat 10,3% yoy. Pada 2022, konsumsi listrik diperkirakan tetap tumbuh positif.

Menurut catatan NDRC, stok batu bara di pembangkit listrik utama Negeri Tirai Bambu per 16 Januari 2022 cukup untuk 21 hari. "Permintaan rumah tangga dan industri sudah terpenuhi dengan baik," tegas Li, seperti dikutip dari Reuters.

Indonesia memang eksportir batu bara nomor satu dunia. Namun soal produksi, China adalah rajanya.

Berdasarkan catatan Statista, produksi batu bara China pada 2020 adalah 3,84 miliar ton. Angka ini menyumbang 50,7% dari produksi batu bara dunia.

Oleh karena itu, perkembangan di China juga akan menentukan harga. Jadi, tidak hanya Indonesia yang punya kuasa untuk 'memainkan' harga batu bara.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Ambles Berjamaah, Saham Batu Bara Diobral karena Ambil Untung


(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading