Saham Ambrol & Emas Jeblok, Pertanda Taper Tantrum Dimulai?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
15 December 2021 07:15
Federal Reserve Chair Jerome Powell removes his glasses as he listens to a question during a news conference after the Federal Open Market Committee meeting, Wednesday, Dec. 11, 2019, in Washington. The Federal Reserve is leaving its benchmark interest rate alone and signaling that it expects to keep low rates unchanged through next year. (AP Photo/Jacquelyn Martin)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank sentral Amerika Serikat (AS) atau yang dikenal dengan Federal Reserve (The Fed) akan mengumumkan kebijakan moneter Kamis (16/12) dini hari waktu Indonesia, atau kurang dari 24 jam lagi.

Pasar finansial global sudah bereaksi sebelum pengumuman tersebut, bursa saham global merosot harga emas juga ikut jeblok.

Bursa saham AS (Wall Street) yang merupakan kiblat bursa saham dunia sudah merosot 2 hari beruntun. Selasa kemarin, indeks Nasdaq anjlok lebih dari 1%, S&P 500 minus 0,75%, dan Dow Jones turun 0,3%. Kinerja Wall Street lebih buruk lagi di awal pekan lalu.


Memang, ada faktor penyebaran virus Omicron yang dikhawatirkan bisa memicu pelambatan ekonomi global yang membuat bursa saham global merosot. Tetapi, The Fed juga menjadi salah satu pemicunya, sebab diperkirakan akan mempercepat tapering atau pengurangan nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE) serta menaikkan suku bunga lebih awal.

Artinya, stimulus moneter segera akan dikurangi, yang menjadi sentimen negatif bagi bursa saham.

Yang menarik, saat perekonomian global terancam melambat gegara Omicron, bursa saham global sedang merosot serta inflasi yang tinggi, harga emas justru jeblok hingga nyaris 1% pada perdagangan Selasa ke US$ 1.770,17/troy ons.

Ketika emas yang merupakan aset aman serta lindung nilai terhadap inflasi ikut merosot bersama saham (aset berisiko) tentunnya mengingatkan akan taper tantrum yang terjadi di 2013. Emas saat itu menjadi salah satu aset yang paling terpuruk, harganya terus menurun hingga tahun 2016. 

idr

Tapering yang dilakukan The Fed di tahun 2013 memicu gejolak di pasar finansial yang disebut taper tantrum, saat itu semua aset-aset rontok, dan dolar AS menguat tajam. Pada perdagangan Selasa kemarin, indeks dolar AS juga menguat 0,25% ke 96,559.

The Fed sudah mulai melakukan tapering pada bulan November lalu dengan nilai US$ 15 miliar setiap bulannya. Nilai QE bank sentral paling powerful di dunia ini sebesar US$ 120 miliar, artinya, hingga QE menjadi nol diperlukan waktu selama 8 bulan.

Tapering yang dilakukan The Fed tersebut direspon kalem oleh pasar, tidak ada gejolak sama sekali. Artinya, ketua The Fed, Jerome Powell berserta kolega sukses meredam terjadinya taper tantrum.

Tetapi, semua itu berubah ketika inflasi di Amerika Serikat melesat ke level tertinggi nyaris 4 dekade, The Fed berencana mempercepat normalisasi kebijakan moneternya.
Sebagian analis melihat pasar sudah mengantisipasi hal tersebut, jika benar demikian maka taper tantrum kemungkinan tidak akan terjadi.

The Fed diperkirakan akan meningkatkan tapering hingga menjadi US$ 30 miliar per bulan, sehingga QE akan menjadi nol dalam waktu 4 sampai 5 bulan.

Setelah QE selesai, maka langkah selanjutnya adanya menaikkan suku bunga.

Survei yang dilakukan Reuters menunjukkan mayoritas ekonom memperkirakan suku bunga akan dinaikkan pada kuartal III-2022, tetapi ada beberapa yang melihat kenaikan di kuartal I-2022 yang artinya dalam 3 bulan ke depan.

Survei tersebut dilakukan pada 3 sampai 8 Desember, dan menunjukkan The Fed diperkirakan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 0,25% - 0,5% di kuartal III-2022. Kemudian, akan ada 3 kali kenaikan lagi, yakni di kuartal IV-2022, serta kuartal I dan II-2023.

Suku bunga The Fed (Fed Funds Rate/FFR) akan berada di 1,25% - 1,5% pada akhir 2023.

Skenario kenaikan suku bunga dua hingga tiga kali di tahun depan memang sudah diantisipasi pelaku pasar yang terlihat di perangkat FedWatch milik CME Group.

Tetapi, ceritanya tentu akan berbeda jika The Fed menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Hasil survei Reuters menunjukkan sebanyak 16 orang ekonom melihat kenaikan suku bunga pertama akan dilakukan pada kuartal II-2022, sementara 5 ekonom memperkirakan kenaikan di kuartal I-2022.

Sebagai perbandingan, survei yang sama dilakukan satu bulan sebelumnya menunjukkan hanya 5 ekonom yang melihat suku bunga dinaikkan di kuartal II-2022, dan satu orang saja yang melihat kenaikan sekitar Januari - Maret 2022.

HALAMAN SELANJUTNYA >>> Begini Dampak Buruk Taper Tantrum Bagi Pasar Finansial Dalam Negeri

Begini Dampak Buruk Taper Tantrum Bagi Pasar Finansial Dalam Negeri
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading